Sore di kota Bandung merangkak pelan, membawa angin lembap dari celah-celah gedung beton yang mulai menyalakan lampu pijar kuning keemasan. Di sebuah galeri arsitektur minimalis berlantai dua bernama Riksa Buana, aroma kayu mahoni yang baru dipelitur berpadu dengan wangi teh chamomile hangat. Tempat itu bukan sekadar studio desain biasa; ia adalah ruang kontemplasi bagi Ghazy Arkana, seorang arsitek lansekap berusia tiga puluh dua tahun yang memandang setiap garis kontur bumi sebagai ayat-ayat kauniyah yang patut ditadabburi.
Ghazy berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke deretan pohon ketapang kencana di tepi jalan. Mengenakan kemeja linen putih bersih dengan lengan yang digulung sampai siku, ia tengah memperhatikan butir-butir hujan gerimis yang mulai membasahi kaca luar. Di hadapannya, di atas meja kerja kayu jati berukuran besar, tertata rapi tumpukan kertas kalkir, pensil arang, serta sebuah mushaf Al-Qur'an kecil berukuran saku yang senantiasa menemaninya setiap kali kepenatan melanda pikiran.
Bagi Ghazi, merancang sebuah lansekap bukan sekadar urusan estetika visual atau kepuasan klien semata. Setiap proyek adalah bentuk pertanggungjawaban moral dan spiritual kepada Sang Pencipta. Ia tidak pernah melihat tanah sebagai komoditas mati yang bisa dieksploitasi semaunya demi keuntungan materi.
"Mas Ghazi, dokumen penawaran dari Metropolitan Property sudah dikirim lewat email," suara lembut Samaira memecah keheningan studio yang tenang.
Samaira, seorang kurator seni dan konsultan tata ruang independen yang kerap bekerja sama dengan biro Ghazi, melangkah mendekat sambil membawa sebuah tablet tipis. Mengenakan abaya berwarna abu-abu muda dengan jilbab senada yang menjuntai anggun, Samaira menatap Ghazy dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Sebagai seseorang yang baru beberapa bulan mengenal cara kerja Ghazi, ia kerap dibuat kagum oleh ketenangan pria itu di tengah industri properti yang serba beringas dan kompetitif.
Ghazi menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang meneduhkan. "Sudah dibaca isinya, Samaira? Bagaimana tawaran dari mereka?"
Samaira menghela napas pelan, meletakkan tablet di atas meja kerja Ghazi. Layar menyala terang, menampilkan proposal proyek pembangunan kompleks hunian komersial mewah seluas empat puluh hektar di kawasan utara Bandung—sebuah proyek raksasa yang nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.
"Nilainya fantastis, Mas," ucap Samaira jujur. "Bahkan bisa melipatgandakan pendapatan Riksa Buana dalam waktu satu tahun. Tapi... ada klausul yang menurutku cukup janggal di halaman lampiran keempat."
❖ ❖ ❖
Ghazi merapikan letak kacamatanya, lalu meraih tablet tersebut untuk membaca lembar demi lembar klausul yang disorot oleh Samaira. Matanya bergerak teliti, menangkap setiap detail poin kerja sama yang diajukan oleh pengembang raksasa tersebut. Di balik gemerlap angka nominal yang menggiurkan, terselip syarat-syarat operasional yang secara langsung bertentangan dengan prinsip dasar ekologis dan etika syariat Islam yang selama ini dipegang teguh oleh Ghazi.
"Mereka meminta kita untuk meratakan bukit lindung bagian barat demi pembangunan mal komersial dan jalur akses kendaraan pribadi," gumam Ghazi datar, suaranya terdengar tenang namun menyiratkan ketegasan yang dingin. "Bukan itu saja. Mereka juga merencanakan penutupan aliran sungai kecil yang melintasi pemukiman warga demi memperluas fondasi bangunan beton."
Samaira melipat tangan di depan dadanya, menatap Ghazi lekat-lekat. "Aku dengar dari beberapa rekan di asosiasi, kalau biro kita menolak proyek ini, Metropolitan Property tidak akan segan-segan memasukkan kita ke dalam daftar hitam industri. Nama baik biro kecil kita bisa hancur dalam semalam, Mas. Apakah risiko sebesar itu sepadan dengan prinsip yang sedang kamu pertahankan?"
Ghazi mendongak, menatap Samaira dengan pandangan jernih tanpa ada secercah pun keraguan di matanya. Ia menutup tablet tersebut perlahan, lalu menggeser posisinya hingga menghadap penuh ke arah Samaira.
"Samaira," kata Ghazi dengan suara yang dalam namun sarat kelembutan. "Tujuan hidup kita di dunia ini bukan untuk menyenangkan para pemodal besar atau menjaga nama baik biro agar tetap berkilau di mata manusia. Tujuan utamanya adalah mencari ridha Allah, menjaga amanah bumi, dan memastikan setiap jengkal karya yang kita buat mendatangkan kemaslahatan, bukan kerusakan."
Samaira tertegun. Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa nada menggurui, namun menghujam langsung ke dalam kesadarannya. Sebagai seseorang yang hidup di dunia seni yang kerap mengagungkan kebebasan tanpa batas, prinsip hidup Ghazi yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan memberikan sudut pandang baru yang belum pernah ia temukan sebelumnya.
"Tapi industri ini kejam, Mas," sanggah Samaira pelan, mencoba menguji seberapa jauh keteguhan Ghazi. "Banyak arsitek lain yang menutup mata terhadap aturan demi kelangsungan bisnis mereka. Kenapa kamu harus menjadi sosok yang kaku di tengah arus modernitas yang deras ini?"
Ghazi tersenyum kecil. Ia meraih mushaf Al-Qur'an kecil di atas mejanya, membuka lembarannya dengan penuh kehati-hatian. "Karena bumi ini memiliki haknya sendiri, Samaira. Allah berfirman dalam Surah Al-A'raf ayat lima puluh enam: Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Meratakan bukit lindung dan menutup aliran sungai demi keuntungan komersial bukanlah pembangunan, melainkan bentuk pengrusakan yang nyata terhadap sunnatullah."
Tujuan Ghazi sangat jelas dan tidak bisa ditawar: ia ingin membuktikan bahwa dunia arsitektur dan lansekap di Indonesia masih bisa berjalan di atas rel kejujuran, keberlanjutan ekologis, dan kepatuhan mutlak pada nilai-nilai syariat tanpa harus menggadaikan nurani kepada kerakusan kapital.
❖ ❖ ❖
Malam merangkak semakin larut. Rintik hujan di luar jendela studio Riksa Buana perlahan berubah menjadi derai gerimis yang menenangkan. Ruangan kerja Ghazi kini hanya diterangi oleh lampu meja berwarna kuning hangat, menciptakan bayangan siluet yang panjang di dinding semen ekspos.
Samaira masih duduk di kursi seberang meja Ghazi, terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan filosofis tersebut. Ia memperhatikan bagaimana jemari Ghazi dengan teliti merapikan sketsa-sketsa rancangan taman biopori yang pernah ia buat untuk sebuah pesantren tahfiz di pelosok desa—sebuah proyek sosial dengan bayaran minim yang justru dikerjakan Ghazi dengan sepenuh hati dan dedikasi tertinggi.
"Jadi, apa langkah yang akan kamu ambil sekarang?" tanya Samaira, memecah keheningan malam dengan nada penasaran yang bercampur kagum. "Apakah kita akan mengirim surat penolakan resmi, atau mengajak mereka bernegosiasi ulang terkait desain dasarnya?"
Ghazi menarik napas panjang, meresapi aroma kertas dan kayu yang khas di ruang kerjanya. "Negosiasi hanya bisa dilakukan jika ada titik temu antara nilai kemaslahatan dan kepentingan bisnis mereka. Tapi dari draf kontrak yang mereka kirimkan, niat mereka sudah jelas: eksploitasi total tanpa mempedulikan dampak ekologis dan hak-hak masyarakat sekitar."
Ghazi berdiri dari kursinya, berjalan perlahan menuju rak buku kayu yang dipenuhi literatur arsitektur Islam, tata kota tradisional, dan botani tropis. Ia mengambil sebuah map biru tua berisi surat tanggapan yang telah ia ketik sejak sore tadi.
"Kita tidak akan bernegosiasi di atas fondasi yang batil, Samaira," ujar Ghazi mantap, meletakkan surat tersebut di atas meja tepat di hadapan Samaira. "Besok pagi, surat penolakan ini akan dikirimkan secara resmi ke kantor pusat Metropolitan Property. Kita menolak proyek tersebut secara tegas."
Samaira meraba sampul surat biru itu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia tahu keputusan ini akan mendatangkan gelombang protes dari internal manajemen biro mereka sendiri, terutama dari bagian keuangan yang selama ini mengandalkan aliran dana segar dari proyek-proyek komersial berskala besar.
"Kamu benar-benar tidak takut kehilangan segalanya, Mas?" tanya Samaira lirih, menatap mata Ghazi lekat-lekat untuk mencari keraguan yang barangkali tersimpan di balik ketenangan itu.