Malam di kaki Gunung Manglayang merangkak turun dengan keheningan yang pekat dan selimut kabut putih yang merayap lambat di antara batang-batang pohon pinus. Suhu udara pegunungan merosot tajam hingga belasan derajat Celsius, menciptakan embun tipis yang membeku di kaca jendela rumah kayu sederhana milik Ghazi Arkana dan Samaira. Di dalam rumah mungil yang hangat itu, pencahayaan berasal dari lampu pijar kuning temaram, memantulkan bayangan lembut di dinding kayu mahoni dan rak-rak buku arsitektur yang tertata rapi.
Di atas sebuah karpet wol tebal berwarna abu-abu hangat di ruang tengah, Ghazi duduk bersila mengenakan pakaian koko putih polos berlengan panjang dan sarung tenun cokelat tua. Di hadapannya, sebuah meja kecil berukir menopang sebuah Al-Qur'an berukuran sedang dengan sampul kulit hitam legam. Seusai melewati hari-hari yang panjang dan melelahkan dalam mengawal proyek ekowisata wakaf serta menghadapi dinamika gugatan hukum yang dilayangkan oleh sindikat korporasi, rumah ini adalah tempat perlindungan paling damai bagi jiwa mereka.
Samaira melangkah keluar dari kamar tidur mengenakan abaya rumah berwarna hijau sage yang lembut, dengan jilbab instan putih bersih yang membingkai wajah tenangnya. Di tangannya, ia membawa dua cangkir teh kamomil hangat yang mengepulkan uap tipis beraroma herbal menenangkan. Langkah kakinya begitu ringan di atas lantai kayu, berusaha tidak memecah kesunyian malam yang begitu sakral.
"Udara malam ini terasa jauh lebih dingin dari biasanya, Mas," ucap Samaira lembut sambil berlutut meletakkan cangkir teh di atas meja kecil dekat suaminya.
Ghazi mendongak, menyunggingkan senyuman hangat yang selalu berhasil meredakan segala sisa penat di dada istrinya. Ia merapikan lipatan sarungnya sejenak. "Puncak musim kemarau basah memang selalu membawa angin malam dari lembah utara, Samaira. Tapi justru di sinilah keindahannya; dingin di luar justru membuat kehangatan di dalam rumah terasa semakin bermakna."
Samaira duduk bersimpuh di sebelah Ghazi, merapatkan mantel rajutnya, lalu menyeruput teh hangat perlahan-lahan. Menghabiskan malam bersama dalam ketenangan iman adalah bentuk kebahagiaan hakiki yang tidak pernah terbayangkan olehnya sebelum ia mengenal arti cinta karena Allah.
❖ ❖ ❖
Bagi Ghazi dan Samaira, malam hari bukan sekadar waktu istirahat untuk memulihkan tenaga fisik setelah seharian berjibaku di lapangan. Lebih dari itu, malam adalah ruang sakral untuk menyucikan kembali hati yang kerap bergesekan dengan hiruk-pikuk urusan duniawi, intrik korporasi, dan urusan administrasi proyek. Tujuan utama mereka malam ini adalah mengisi kalbu dengan tilawah ayat-ayat suci, memperkuat pilar ruhiyah rumah tangga, dan merapalkan doa-doa tulus agar setiap langkah perjuangan mereka senantiasa berada dalam lindungan rida Allah SWT.
Ghazi membuka lembaran Al-Qur'an tepat di surah yang menjadi jadwal bacaan rutin mereka pekan ini—Surah Al-Furqan, ayat-ayat yang menggambarkan sifat hamba Allah yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati dan menghabiskan sebagian malam mereka untuk bersujud kepada Tuhan.
"Mari kita lanjutkan tadarus kita malam ini dari ayat yang semalam kita sudahi, Samaira," ujar Ghazi lembut, menatap istrinya dengan sorot mata penuh kasih sayang yang halal.
Samaira mengangguk mantap, membuka Al-Qur'an kecil miliknya yang diletakkan di atas pangkuan. Ada tujuan mulia yang ingin ia capai di setiap bait ayat yang mereka lantunkan bersama: menjadikan rumah tangga mereka bukan sekadar tempat tinggal fisik, melainkan sebuah madrasah cinta yang mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dalam ikatan pernikahan halal ini, setiap detik kebersamaan bernilai ibadah, dan setiap tarikan napas dalam zikir adalah bentuk syukur atas karunia terindah yang Allah titipkan.
"Silakan mulai, Mas. Aku menyimak dari ayat enam puluh tiga," kata Samaira manis, merapikan letak Al-Qur'an di tangannya.
Ghazi menarik napas perlahan, menenangkan batinnya, lalu mulai melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan suara baritone yang tartil, merdu, dan penuh penghayatan. Suara itu menggema lembut di dalam ruangan berukuran sedang tersebut, merasuk ke dalam relung jiwa Samaira dan mendatangkan ketenangan yang luar biasa.
❖ ❖ ❖
Alunan ayat suci yang dilantunkan Ghazi mengalir begitu syahdu, membawa suasana ruang tengah rumah mereka bagaikan taman surga yang turun ke bumi. Samaira menyimak setiap huruf dan tajwid yang keluar dari bibir suaminya dengan penuh khidmat, sesekali matanya melirik arti ayat yang tertera di terjemahan untuk meresapi kedalaman maknanya.
Ketika Ghazi menyelesaikan bacaan satu rubu' Al-Qur'an, ia berhenti sejenak, lalu menoleh kepada istrinya. "Giliranmu, Samaira. Silakan lanjutkan ayat berikutnya."
Dengan suara lembut yang sesekali bergetar karena rasa haru, Samaira mulai membaca sambungan ayat tersebut. Suaranya yang feminin dan penuh kekhusyukan berpadu indah dengan keheningan malam pegunungan. Ghazi mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali membetulkan bacaan tajwid istrinya dengan cara yang sangat santun dan penuh kelembutan, tanpa ada kesan menggurui.
Inilah bentuk romantisme halal yang sesungguhnya—bukan tentang rayuan gombal di kafe mewah atau bunga-bunga artifisial yang fana, melainkan tentang bagaimana dua jiwa saling membimbing menuju surga, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan melantunkan nama Allah bersama di tengah sunyinya sepertiga malam.
Waktu merayap pelan. Jarum jam di dinding kayu menunjukkan pukul dua pagi. Sesi tadarus Al-Qur'an malam itu ditutup dengan doa kafaratul majelis dan doa bersama, memohon ampunan serta perlindungan atas segala ujian yang sedang mereka hadapi di proyek ekowisata Manglayang.
Ghazi menutup mushafnya dengan perlahan, merapikannya di atas meja kecil, lalu menatap Samaira lekat-lekat. "Alhamdulillah, bacaan malam ini begitu menenangkan dada. Bagaimana perasaanmu, Samaira?"
Samaira tersenyum manis, matanya tampak berkaca-kaca karena terharu. "Hatiku terasa sangat lapang, Mas. Semua lelah karena urusan pekerjaan di lapangan seolah menguap begitu saja setelah kita membaca ayat-ayat Allah bersama."
"Itulah buah dari ketenangan iman," balas Ghazi sambil meraih tangan istrinya, menggenggam jemari itu dengan penuh kehangatan yang halal. "Sekarang, mari kita ambil wudu. Waktunya menunaikan salat tahajud berjemaah."
❖ ❖ ❖