Pagi hari di kawasan proyek ekowisata wakaf sektor selatan Gunung Manglayang datang tanpa sambutan hangat cahaya matahari keemasan. Langit Bandung bagian utara diselimuti awan tebal berwarna kelabu pekat, menumpahkan hujan deras disertai angin kencang sejak subuh tadi. Suhu udara merosot tajam hingga menembus angka belasan derajat Celsius, menciptakan kabut tebal yang membatasi jarak pandang hingga radius sepuluh meter saja.
Di lokasi tapak proyek utama biro arsitektur Riksa Buana, suasana yang biasanya riuh oleh semangat para pekerja lapangan kini berubah mencekam. Air lumpur berwarna cokelat pekat mengalir deras menerjang jalur-jalur terasering biopori yang baru saja dirampungkan sebulan lalu. Suara gemuruh tanah longsor kecil terdengar bersahutan dari arah lereng bukit, menandakan ada struktur penahan yang tidak mampu menahan volume air yang datang secara masif.
Ghazi Arkana berdiri terpaku di bawah terpal pelindung posko lapangan. Mengenakan jas hujan transparan berwarna putih dan sepatu bot tebal yang dipenuhi cipratan lumpur, pandangannya menerawang kosong ke arah zona bendungan resapan air yang kini telah jebol. Dinding penahan tebing yang dibangun dengan perhitungan arsitektur ekologis tampak runtuh berkeping-keping, tersapu arus air bah yang membawa serta material batu dan sisa tebasan pohon.
Di sampingnya, Samaira berdiri dengan tangan mendekap erat ke dada. Abaya lapangan berwarna abu-abu tua yang dikenakannya basah kuyup di bagian bawah. Wajah wanita itu tampak pucat pasi, menatap ngeri ke arah kerusakan mahakarya yang telah mereka bangun bersama dengan cucuran keringat dan air mata selama berbulan-bulan.
"Mas Ghazi..." suara Samaira bergetar hebat, hampir tenggelam di antara deru suara air hujan dan angin kencang. "Bagaimana ini bisa terjadi? Sistem terasering dan dinding penahan itu sudah kita hitung kekuatannya berdasarkan curah hujan ekstrem tahunan."
Ghazi tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang teramat sangat menghimpit dadanya. Pria itu menelan ludah dengan susah payah, mencoba menjaga ketenangan lahiriahnya di hadapan sang istri, meskipun di dalam lubuk hatinya fondasi jiwanya seolah ikut runtuh bersama runtuhnya dinding tebing di hadapan mereka.
❖ ❖ ❖
Bagi Ghazi, tujuan utama hidupnya selama bertahun-tahun dalam membangun biro Riksa Buana bukanlah sekadar mencari keuntungan materi atau popularitas arsitek hijau terbaik, melainkan menunaikan amanah wakaf dan menjaga kelestarian bumi ciptaan Allah agar memberikan manfaat luas bagi umat. Hari ini, di tengah bencana keruntuhan proyek terbesar yang pernah ia tangani, tujuan tertingginya adalah menyelamatkan keselamatan para pekerja lapangan, mengendalikan kepanikan massal, dan mencari tahu apa akar penyebab kegagalan fatal yang terjadi di luar nalar teknis perhitungan konstruksinya.
Sementara itu, bagi Samaira, tujuannya saat ini adalah berdiri kokoh sebagai pendamping setia bagi suaminya. Ia tahu betul betapa besar dedikasi, waktu, dan idealisme yang dicurahkan Ghazi untuk merancang struktur ekologis di sektor selatan Manglayang tersebut. Melihat suaminya terpaku dalam kebisuan yang menyayat hati, Samaira bertekad untuk menjadi penopang mental, memastikan tidak ada keputusasaan yang merayap masuk ke dalam jiwa lelaki yang sangat ia cintai dan hormati itu.
"Kita harus segera memeriksa posko logistik bawah dan memastikan seluruh pekerja sudah dievakuasi ke zona aman, Mas," ucap Samaira tegas, memegang lengan suaminya untuk mengalihkan pandangan Ghazi dari puing-puing longsor.
Ghazi mengangguk perlahan, mengerjap beberapa kali untuk mengusir kabut kepedihan di matanya. "Ya, kamu benar, Samaira. Keselamatan jiwa manusia adalah prioritas utama di atas segalanya. Mari kita pastikan Rian dan tim evakuasi sudah mengamankan semua orang."
Namun, di tengah kesibukan proses evakuasi darurat tersebut, sebuah kenyataan pahit lain tiba-tiba menghantam mereka tanpa ampun. Rian berlari tergopoh-gopoh menerobos hujan deras, menghampiri posko dengan napas terengah-engah dan wajah dipenuhi kecemasan luar biasa.
"Mas Ghazi! Mbak Samaira! Darurat!" seru Rian histeris begitu tiba di bawah tenda pelindung. "Ada berita besar dan buruk yang baru saja beredar di grup perpesanan media sosial konstruksi dan portal berita nasional pagi ini!"
Ghazi mengerutkan kening di balik jas hujannya. "Berita apa, Rian? Katakan dengan jelas."
"Proyek kita... proyek ekowisata Manglayang dinyatakan gagal total akibat dugaan kelalaian spesifikasi material dan korupsi dana wakaf!" teriak Rian putus asa, menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan berita utama sebuah portal nasional. "Dan... dan fitnah itu disebarkan secara masif atas nama biro kita sendiri, bersumber dari dokumen persetujuan material palsu yang ditandatangani menggunakan stempel resmi biro Riksa Buana!"
❖ ❖ ❖
Dunia seolah berhenti berputar sejenak mendengar laporan dari Rian. Dokumen persetujuan material palsu? Stempel resmi biro Riksa Buana disalahgunakan?
Ghazi merebut ponsel dari tangan Rian dengan jemari yang sedikit gemetar. Matanya membelalak membaca baris demi baris berita online tersebut. Di sana terpampang jelas sebuah pernyataan pers palsu yang seolah-olah dikeluarkan langsung oleh dirinya, mengakui bahwa kegagalan struktur tebing di sektor selatan disebabkan oleh penggunaan material semen murah demi memangkas anggaran biaya wakaf.
Fitnah keji itu dirancang dengan sangat sempurna, seolah-olah runtuhnya dinding penahan akibat bencana alam sengaja direkayasa sebagai akibat dari kelalaian fatal dan kecurangan internal pihak manajemen Riksa Buana sendiri.
Samaira ikut membaca berita tersebut dari balik bahu suaminya. Seketika darahnya terasa mendidih, dan amarah bercampur rasa tidak percaya meluap di dalam dadanya. "Ini fitnah keji, Mas! Siapa yang berani memalsukan dokumen stempel biro kita sedemikian rapi?!"
Ghazi terpejam sejenak. Otaknya yang biasanya tajam dan analitis mendadak berputar keras menyusun kepingan puzzle kejadian belakangan ini. Ingatannya langsung melayang pada surat ancaman bersingel lilin merah yang dikirimkan beberapa waktu lalu, serta keterlibatan sindikat korporasi hitam yang dipimpin oleh orang-orang di belakang Hendra Wijaya.
Namun, yang paling menghancurkan hati bukan sekadar ancaman hukum dari sindikat luar, melainkan pengkhianatan dari dalam. Rian menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya dengan rasa bersalah yang teramat dalam sebelum ia membongkar sebuah rahasia yang jauh lebih menyakitkan.
"Maafkan saya, Mas Ghazi... Mbak Samaira," bisik Rian lirih, suaranya nyaris tak terdengar tertelan suara hujan. "Dua hari lalu... sebelum bencana longsor ini terjadi, wakil kepala pengawas lapangan kita yang bernama Deni... tiba-tiba menghilang membawa kopian kunci brankas arsip digital stempel resmi biro."
Samaira menutup mulutnya dengan sebelah tangan, matanya membelalak kaget. "Deni? Pengawas lapangan senior yang kita percaya selama ini?!"
"Ya, Mbak," jawab Rian dengan air mata yang mulai bercampur dengan air hujan di pipinya. "Dia sudah disuap oleh sindikat korporasi untuk mencuri data spesifikasi teknik kita, lalu sengaja mengganti standar campuran beton dinding penahan dengan material di bawah standar, sebelum akhirnya melaporkan rekayasa dokumen itu ke media sesaat setelah longsor terjadi."
❖ ❖ ❖