Pagi hari di kawasan perumahan sederhana di kaki Gunung Manglayang datang dengan limpahan cahaya matahari lembut yang menembus sela-sela kabut tipis sisa hujan semalam. Di halaman depan rumah Ghazi Arkana dan Samaira, suasana tampak tidak seperti biasanya. Jika biasanya hari-hari mereka diwarnai kesunyian tegang dan kesibukan investigasi darurat seorang diri, pagi ini halaman tersebut diramaikan oleh kehadiran orang-orang berwajah teduh yang datang membawa kehangatan nyata.
Beberapa kendaraan roda empat dan sepeda motor terparkir rapi di pinggir jalan setapak. Para tamu yang datang bukanlah wartawan atau orang suruhan sindikat korporasi, melainkan rekan-rekan sesama pengajian, sahabat lama dari komunitas arsitek muslim, serta para tetangga dusun yang selama ini dibantu oleh program wakaf ekologis biro Riksa Buana. Mereka datang dengan membawa berbagai keperluan rumah tangga, mulai dari keranjang buah segar, makanan siap saji, hingga perlengkapan bayi yang ditata rapi di atas meja teras.
Di dalam rumah, Samaira tengah duduk bersandar di kursi malas ruang tengah dengan balutan abaya rumah berwarna krem lembut. Meskipun kondisinya sudah jauh lebih baik dan ia diizinkan pulang dari rumah sakit pascaperawatan ancaman keguguran, tubuhnya masih memerlukan istirahat total (bed rest). Wajahnya tampak lebih tenang, meski bayangan surat panggilan pemeriksaan kepolisian sebagai tersangka rekayasa kasus masih menggantung di benak mereka.
Ghazi melangkah keluar dari kamar tidur mengenakan kemeja koko putih bersih dan sarung tenun. Ia baru saja selesai menunaikan salat dhuha dan memanjatkan doa yang panjang, memohon jalan keluar atas badai hukum yang sedang mendera keluarganya. Saat ia membuka pintu ruang tengah menuju ruang tamu, pemandangan hangat menyambutnya.
"Assalamualaikum, Ghazi!" sapa Ustaz Farhan, seorang sahabat karib sekaligus pembina majelis taklim setempat, sambil merentangkan tangan untuk memeluk Ghazi dengan penuh kehangatan persaudaraan.
"Waalaikumussalam warahmatullah, Ustaz..." jawab Ghazi lirih, membalas pelukan erat tersebut dengan rasa haru yang mendadak membuncah di dadanya. "Jazakallah khair, kalian semua sudah repot-repot datang ke sini."
❖ ❖ ❖
Bagi Ghazi, tujuan utama kedatangan para sahabat saleh ini pada mulanya disangka sekadar kunjungan silaturahmi biasa untuk menjenguk istrinya yang baru keluar dari rumah sakit. Namun, seiring perbincangan hangat yang mengalir di ruang tamu, ia menyadari bahwa niat mulia mereka jauh melampaui itu. Para sahabatnya datang dengan satu tujuan yang bulat: meringankan beban mental, fisik, dan finansial keluarga Ghazi dan Samaira yang tengah diuji secara bertubi-tubi oleh fitnah sindikat korporasi.
Sementara itu, bagi para sahabat Ghazi—yang dipimpin oleh Ustaz Farhan dan Malik, seorang arsitek senior rekan seprofesi—tujuan mereka hadir adalah mengamalkan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah secara nyata. Mereka tidak ingin membiarkan Ghazi dan Samaira berjuang sendirian melawan kezaliman hukum. Mereka membawa bantuan logistik, menawarkan jaringan bantuan hukum independen, serta siap bergantian menjaga keamanan rumah dan menemani Samaira selama Ghazi harus memenuhi panggilan pemeriksaan di kantor kepolisian.
"Ghazi, kami mendengar kabar tentang surat panggilan dari kepolisian itu dari Rian," ucap Ustaz Farhan serius namun menenangkan, duduk bersila di karpet ruang tamu bersama rekan-rekan lainnya. "Jangan pernah merasa kamu berjalan sendirian di muka bumi ini. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang jujur menanggung beban di luar batas kemampuannya."
Samaira, yang mendengar percakapan tersebut dari ruang tengah, menyeka air mata harunya. Ia memegang perutnya pelan, lalu melangkah perlahan menghampiri ruang tamu dengan didampingi secangkir teh hangat di nampan kecil.
"Masya Allah... silakan diminum tehnya, Ustaz, Malik, dan kawan-kawan semua," ucap Samaira lembut dengan senyuman tulus meski wajahnya masih tampak pucat. "Kehadiran kalian pagi ini adalah obat penawar paling mujarab bagi ketakutan kami."
Malik, sahabat karib Ghazi yang juga seorang ahli hukum tata kota, tersenyum hangat menyambut nampan dari Samaira. "Samaira, fokuslah pada pemulihan kesehatanmu dan bayi dalam kandunganmu. Urusan pembelaan hukum Ghazi di kepolisian lusa nanti, serahkan sepenuhnya kepada kami. Kami sudah menyiapkan tim advokasi independen untuk mendampingi."
Tujuan kolektif yang berporos pada solidaritas iman dan kemanusiaan ini langsung mengubah suasana rumah yang tadinya diliputi kecemasan menjadi sebuah benteng kekuatan ukhuwah yang kokoh.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam rumah kecil Ghazi mendadak terasa begitu lapang. Di sudut dapur terbuka, beberapa tetangga dusun Manglayang tampak sibuk memasak makanan tradisional untuk persediaan harian keluarga Ghazi, sementara di ruang tamu, Malik dan Ustaz Farhan membentangkan berkas-berkas digital salinan bukti forensik yang sempat diselamatkan Ghazi dari flashdisk.
"Data log transfer bank Deni dan rekaman CCTV pelariannya sudah kami pegang salinannya," jelas Malik sambil menunjukkan layar laptopnya kepada Ghazi. "Tim hukum kita dari Bantuan Advokasi Umat akan menggunakan bukti forensik digital ini untuk membalikkan tuduhan palsu Hendra Wijaya di hadapan penyidik kepolisian lusa."
Ghazi mendengarkan dengan seksama, merasa beban di pundaknya yang selama ini terasa menghimpit perlahan-lahan terangkat. Bantuan yang datang dari teman-teman saleh ini bukan sekadar bantuan teknis hukum atau logistik material semata, melainkan sebuah bentuk pertolongan Allah SWT melalui tangan-tangan hamba-Nya yang ikhlas.
"Aku sungguh tidak menyangka kalian mau meluangkan waktu dan tenaga di tengah kesibukan kalian masing-masing untuk membantu keluarga kami yang sedang tertimpa musibah ini," tutur Ghazi dengan suara sedikit bergetar karena rasa syukur yang teramat dalam.
Ustaz Farhan menepuk pundak Ghazi pelan dengan senyuman bijak. "Ghazi, apa gunanya persaudaraan seiman jika kita hanya hadir saat senang dan menghilang saat susah? Bukankah mukmin itu bagaikan satu tubuh? Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan terjaga."
Samaira yang duduk mendengarkan di dekat suaminya kembali merasakan gelombang kehangatan merayap di dadanya. Ia teringat bagaimana di masa lalu, sebelum hijrah, ia hidup di lingkungan metropolitan yang penuh dengan kepura-puraan dan sifat individualistis, di mana teman-teman datang hanya saat ada keuntungan materi. Namun kini, di tengah badai fitnah dan kemiskinan duniawi yang melanda, ia dikelilingi oleh orang-orang saleh yang mencintai karena Allah semata.
"Terima kasih banyak, semuanya..." ucap Samaira tulus, menatap para sahabat suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Kalian adalah bukti nyata bahwa pertolongan Allah selalu datang dari arah yang tidak disangka-sangka."
❖ ❖ ❖