Kejernihan yang Kita Jaga

Amrullah Ibrahim
Chapter #56

Fajar Kehidupan Baru di Kaki Manglayang

Udara pagi di Kota Bandung pada hari Jumat yang penuh keberkahan ini terasa jauh lebih sejuk dan menenangkan dari biasanya. Sisa-sisa embun semalam masih menempel manja di dedaunan pepohonan pinus yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) yang berlokasi tak jauh dari pusat kota. Langit perlahan merona, menampilkan semburat warna jingga keemasan yang menembus lapisan awan putih, menandakan bahwa matahari sebentar lagi akan terbit dan menyinari bumi dengan kehangatannya yang penuh harapan.

Sembilan bulan telah berlalu sejak badai besar yang nyaris menghancurkan biro arsitektur Riksa Buana dan mengancam keselamatan keluarga kecil Ghazi Arkana. Waktu yang terus bergulir itu membawa banyak perubahan manis. Proyek ekowisata wakaf di sektor selatan Gunung Manglayang kini telah berdiri megah dan menjadi percontohan nasional, sementara kesehatan Samaira yang dulu sempat berada di titik nadir kini telah pulih sepenuhnya, merawat janin di dalam rahimnya dengan penuh cinta hingga tiba di penghujung usia kehamilan.

Di dalam kamar perawatan VVIP bernuansa putih bersih dan harum aromaterapi lavender yang menenangkan, Samaira terbaring di atas ranjang rumah sakit. Abaya longgar berwarna krem membalut tubuhnya yang kini tampak lebih berisi. Wajahnya sesekali memancarkan ketegangan saat gelombang kontraksi datang menghampiri, namun senyumannya tidak pernah pudar. Di sampingnya, Ghazi duduk dengan setia di sebuah kursi bersandaran tinggi, menggenggam erat tangan kanan istrinya sambil terus melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang pelan dan merdu.

"Mas Ghazi," panggil Samaira dengan suara yang sedikit tertahan, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu seiring dengan rasa mulas yang kembali menjalar dari punggung hingga ke perut bagian bawahnya. "Sepertinya kontraksinya semakin rapat. Perutku rasanya semakin kencang."

Ghazi segera menghentikan bacaannya, meletakkan mushaf kecil ke atas meja nakas, lalu menatap istrinya dengan sorot mata penuh kecemasan namun berusaha keras untuk tetap terlihat tenang. Ia mengusap kening Samaira yang mulai dipenuhi butiran keringat dingin.

"Tarik napas dalam-dalam, Sayang... keluarkan perlahan dari mulut, seperti yang diajarkan dokter di kelas kehamilan kita waktu itu," bimbing Ghazi dengan nada suara yang sangat lembut, tangannya tak henti mengusap lembut perut buncit istrinya. "Apakah rasanya sangat sakit? Ingin aku panggilkan Suster Nisa sekarang untuk memeriksa pembukaannya lagi?"

Samaira menggeleng pelan, lalu menarik napas panjang. "Belum terlalu sakit yang tidak tertahankan, Mas. Hanya saja, tekanannya semakin kuat ke bawah. Rasanya... anak kita sudah sangat tidak sabar ingin melihat dunia."

"Dia anak yang kuat, Samaira, sama seperti ibunya," ucap Ghazi sambil tersenyum hangat, mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali. "Kita sudah menunggu momen ini selama sembilan bulan. Sebentar lagi, ruang kosong di rumah kita akan diisi oleh tangisan dan tawa malaikat kecil ini."

❖ ❖ ❖

Bagi Ghazi Arkana, hari ini adalah puncak dari segala doa dan perjuangannya sebagai seorang suami sekaligus calon ayah. Tujuannya sangat jelas dan tak tergoyahkan: ia ingin menjadi pilar kekuatan yang paling kokoh bagi Samaira dalam melewati fase pertaruhan nyawa ini. Pengalaman traumatis saat Samaira nyaris mengalami keguguran di masa lalu masih menyisakan sedikit trauma di sudut hatinya, sehingga hari ini, Ghazi bertekad untuk memastikan proses persalinan berjalan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Ia ingin menyambut anak pertamanya dengan lantunan azan yang paling syahdu, meresmikan statusnya sebagai seorang ayah yang akan mendidik buah hatinya di jalan Allah.

Di sisi lain, bagi Samaira, tujuannya jauh melampaui rasa sakit fisik yang mendera tubuhnya saat ini. Ia bertekad untuk melahirkan anak ini secara normal, sebagai bentuk penyempurnaan kodratnya sebagai seorang wanita dan ibu. Anak yang dikandungnya ini adalah simbol kemenangan cinta mereka atas fitnah duniawi, sebuah anugerah yang bertahan di tengah gempuran stres dan bahaya ancaman sindikat korporasi di masa lalu. Samaira ingin membuktikan bahwa rahim yang dulu divonis lemah itu kini mampu menjadi tempat bertumbuh yang paling aman bagi sang buah hati hingga detik pelepasannya ke dunia.

"Mas," ucap Samaira lirih di sela-sela jeda kontraksinya, menatap lekat-lekat mata suaminya yang memancarkan kasih sayang tak terhingga. "Apapun yang terjadi di ruang bersalin nanti, berjanjilah padaku satu hal."

Ghazi mengerutkan keningnya dengan lembut, mendekatkan wajahnya ke arah sang istri. "Aku berjanji, Samaira. Apa yang ingin kamu minta dariku?"

"Berjanjilah bahwa kamu tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganmu. Dan jika terjadi pilihan medis yang sulit, utamakanlah keselamatan anak kita di atas segalanya," kata Samaira dengan nada yang sedikit bergetar namun dipenuhi ketegasan seorang ibu.

Mendengar kalimat tersebut, dada Ghazi terasa sesak. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, menolak membayangkan skenario terburuk. "Jangan berbicara seperti itu, Samaira. Kamu dan anak kita akan selamat. Keduanya adalah nyawaku. Aku tidak akan memilih salah satu, karena Allah akan menyelamatkan kalian berdua untukku. Aku berjanji tidak akan beringsut satu sentimeter pun dari sisimu."

Samaira tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menahan haru. "Aku tahu, Mas. Aku hanya ingin memastikan bahwa niat terbesarku adalah membawa anak ini lahir dengan selamat, menebus segala ketakutan kita di masa lalu."

"Niatmu sangat mulia, Sayang. Allah Maha Mendengar setiap jeritan hati seorang ibu," bisik Ghazi, kembali mengusap puncak kepala istrinya yang tertutup jilbab instan berwarna senada dengan pakaiannya. "Kita sudah sampai sejauh ini, Samaira. Kita telah melewati fitnah yang menghancurkan, membangun kembali biro Riksa Buana dari abu, dan kini kita berada di ambang pintu anugerah terbesar-Nya. Kuatkan dirimu, karena aku di sini menopangmu."

"Iya, Mas... Awh!" Samaira tiba-tiba meringis keras, tangannya mencengkeram kuat pergelangan tangan Ghazi hingga kuku-kukunya memutih. "Ini datang lagi... sakit sekali, Mas!"

❖ ❖ ❖

Suasana kamar yang semula tenang mendadak berubah menjadi penuh ketegangan seiring dengan meningkatnya intensitas kontraksi yang dialami Samaira. Gelombang rasa sakit itu kini datang dalam interval yang sangat singkat, hanya berjarak kurang dari tiga menit sekali.

Melihat wajah istrinya yang semakin pucat dan menahan kesakitan yang luar biasa, Ghazi segera menekan tombol panggilan darurat di samping ranjang dengan sigap. Tidak butuh waktu lama, Suster Nisa beserta Dokter Aisyah—dokter spesialis kandungan yang selama ini mendampingi Samaira—masuk ke dalam kamar VVIP tersebut dengan langkah cepat dan cekatan.

"Assalamualaikum, Pak Ghazi, Bu Samaira," sapa Dokter Aisyah dengan senyuman tenang namun penuh wibawa profesional. "Mari kita periksa dulu, sepertinya adik bayi sudah memberikan sinyal kuat untuk segera keluar."

"Waalaikumussalam, Dokter," jawab Ghazi dengan napas sedikit memburu. "Kontraksinya sudah sangat sering, Dok. Istri saya kesakitan hebat sejak sepuluh menit yang lalu."

Dokter Aisyah segera mengenakan sarung tangan medis dan melakukan pemeriksaan pembukaan jalan lahir di balik tirai yang ditutup rapat. Selang beberapa saat, dokter wanita paruh baya itu menyingkap tirai dengan senyum yang semakin mengembang.

"Alhamdulillah, pembukaannya sudah lengkap, Pak Ghazi! Ketubannya juga sudah pecah dengan sendirinya barusan. Kita harus segera memindahkan Bu Samaira ke ruang bersalin utama sekarang juga," instruksi Dokter Aisyah dengan tegas kepada para perawat di sekelilingnya.

Jantung Ghazi berdegup kencang bak dentuman genderang yang ditabuh bertalu-talu. Ia segera membantu para perawat merapikan posisi istrinya di atas brankar dorong. Sepanjang perjalanan menyusuri koridor rumah sakit dari ruang rawat menuju ruang bersalin, Ghazi terus berjalan setengah berlari di samping brankar, membisikkan kalimat-kalimat zikir ke telinga Samaira yang matanya sesekali terpejam menahan gelombang mulas yang luar biasa hebat.

"Lailahailla anta subhanaka inni kuntu minadzolimin... terus baca itu di dalam hatimu, Samaira. Kamu kuat, Sayang. Sebentar lagi," bisik Ghazi tanpa henti, tangannya tidak sedetik pun melepaskan genggaman tangan istrinya yang terasa dingin dan berkeringat.

"Mas... rasanya pinggangku mau patah..." rintih Samaira dengan napas tersengal-sengal saat brankar mereka didorong masuk melewati pintu ganda ruang bersalin yang terang benderang oleh lampu medis.

"Iya, aku tahu rasanya sakit. Tapi itu tandanya jalan untuk anak kita sudah terbuka. Fokus pada suaraku, Samaira. Jangan pedulikan rasa sakitnya," balas Ghazi, matanya sendiri sudah berkaca-kaca melihat penderitaan wanita yang sangat dicintainya itu.

Sesampainya di ruang bersalin, tim medis bergerak cepat mengatur posisi Samaira di atas ranjang persalinan, memasang alat monitor detak jantung janin, dan menyiapkan seluruh peralatan steril yang dibutuhkan. Suara bising dari alat monitor yang berdetak konstan menjadi latar belakang suara yang menegangkan namun penuh harapan di ruangan tersebut.

❖ ❖ ❖

Proses persalinan tidaklah semudah teori yang tertulis di dalam buku-buku panduan kehamilan. Memasuki fase mengejan, Samaira harus berhadapan dengan rintangan fisik yang menguras seluruh sisa tenaganya. Pengalaman kelelahan ekstrem yang pernah ia alami di masa lalu tampaknya meninggalkan jejak keletihan pada daya tahan fisiknya.

"Baik, Bu Samaira, dengarkan instruksi saya dengan baik," ujar Dokter Aisyah yang sudah bersiap di posisi ujung ranjang persalinan. "Ketika gelombang mulas itu datang memuncak, tarik napas panjang, tahan di dada, tundukkan kepala melihat ke arah perut, dan mengejan sekuat tenaga ke bawah, ya. Jangan berteriak, agar tenaganya tidak terbuang sia-sia di leher."

Samaira mengangguk lemah, bibirnya bergetar. Ia menoleh ke arah Ghazi yang kini berdiri tepat di samping kepalanya, menyangga punggung dan pundaknya dengan satu lengan kekar, sementara tangan yang lain terus memegang erat telapak tangan Samaira.

"A-aku siap, Dok..." desis Samaira.

Beberapa detik kemudian, gelombang kontraksi yang sangat dahsyat kembali menyerang. Samaira menarik napas dalam, menahan napasnya, lalu mengejan dengan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya. Wajahnya memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol, dan tangannya mencengkeram tangan Ghazi bagaikan sedang berpegangan di tepi jurang kehidupan.

Lihat selengkapnya