Kejernihan yang Kita Jaga

Amrullah Ibrahim
Chapter #68

Akar yang Menghujam, Dahan yang Menggapai Langit

Matahari sore merayap perlahan ke peraduan, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca ruang keluarga rumah Ghazy dan Samaira. Suasana di dalam rumah mungil itu terasa begitu hangat, tenang, dan dipenuhi oleh keheningan yang menyejukkan jiwa. Waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa; dinding-dinding rumah yang dulunya sempat kosong kini dipenuhi oleh cerita, bingkai foto kebersamaan, serta tawa renyah sang buah hati yang kini telah tumbuh menjadi anak cerdas berusia balita aktif.

Di atas karpet beludru abu-abu yang terhampar di ruang tengah, Samaira duduk bersimpuh sambil menemani buah hati mereka merangkai balok-balok mainan kayu. Mengenakan gamis rumah rumahan berbahan katun lembut berwarna soft mauve dengan jilbab instan senada, wajah Samaira memancarkan kebahagiaan yang matang dan teduh. Garis-garis ketenangan tampak jelas di wajahnya, menandakan bahwa badai-badai keraguan masa lalu telah sepenuhnya berganti menjadi kedamaian batin.

Ghazy melangkah masuk dari arah teras setelah selesai merapikan tanaman hias di halaman mungil mereka. Mengenakan kemeja koko putih polos berkerah lengan pendek dan celana bahan katun longgar, ia membawa handuk kecil di lehernya dan senyuman tulus yang menghiasi wajahnya. Usia pernikahan mereka kini telah melewati berbagai fase ujian yang tidak mudah—mulai dari tekanan finansial, penurunan jabatan profesional, masalah keluarga di kampung, hingga malam-malam panjang penuh air mata di sepertiga malam.

Ghazy berlutut di sebelah anak dan istrinya, mencium lembut puncak kepala sang buah hati yang langsung menyambutnya dengan teriakan riang penuh suka cita.

"Bagaimana sore ini, kesayangan Abi dan Ummi? Apakah hari ini bermainnya menyenangkan?" sapa Ghazy lembut sambil merapikan balok kayu yang berserakan.

Samaira mendongak, menyunggingkan senyuman manis yang membuat matanya menyipit bahagia. "Alhamdulillah, Mas. Hari ini ia sangat aktif dan penurut. Waktu benar-benar berlalu begitu cepat, ya? Rasanya baru kemarin kita sibuk menyiapkan kamar bayinya."

Ghazy mengangguk setuju, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan penuh rasa syukur yang mendalam.

❖ ❖ ❖

Bagi Ghazy dan Samaira, sore hari yang tenang ini bukan sekadar waktu istirahat biasa setelah lelah beraktivitas, melainkan sebuah momentum refleksi kehidupan yang sangat berharga. Mereka memiliki tujuan batiniah yang sangat spesifik: merenungkan perjalanan panjang rumah tangga mereka, mengevaluasi sejauh mana fondasi iman telah menopang bangunan keluarga, serta memperkokoh komitmen untuk terus berjalan di atas jalan Allah hingga akhir hayat.

"Tujuanku merenung hari ini sederhana, Samaira," ucap Ghazy serius namun penuh kehangatan saat mereka menikmati secangkir teh hangat setelah sang anak tertidur pulas di boksnya menjelang magrib. "Aku ingin kita bersyukur atas setiap detik waktu yang telah Allah berikan. Waktu berjalan begitu cepat, roda kehidupan berputar silih berganti, namun aku ingin memastikan bahwa jangkar iman kita tidak pernah bergeser sejengkal pun."

Target refleksi hidup Ghazy sangat jelas: mencapai derajat keluarga yang senantiasa istiqamah. Sebagai seorang kepala keluarga yang kini memegang posisi puncak di perusahaan, ia menyadari betul bahwa kesuksesan duniawi sangatlah semu jika tidak dibarengi dengan kekokohan akidah di dalam rumah tangga. Ia tidak ingin silau oleh jabatan atau materi yang melimpah; yang paling ia takuti adalah kelalaian hati dalam bersyukur kepada Sang Pencipta.

Samaira mendengarkan dengan saksama, matanya berkaca-kaca menatap suaminya. "Aku juga sering memikirkan hal yang sama, Mas. Ketika aku melihat foto-foto lama kita di awal pernikahan dulu—saat kita menghadapi begitu banyak kesulitan finansial dan tekanan mental—aku menyadari satu hal penting."

"Apa itu, Samaira?" tanya Ghazy penuh perhatian, menggenggam jemari istrinya dengan hangat di atas meja.

"Bahwa yang membuat rumah tangga kita tetap kokoh berdiri tegak bukan karena hidup kita bebas dari masalah, melainkan karena fondasi iman dan tawakal kepada Allah yang selalu kita rawat setiap hari," jawab Samaira tulus.

Tujuan hidup bersama mereka telah bertransformasi dari sekadar bertahan hidup (survival) menjadi upaya membangun warisan spiritual yang abadi bagi anak cucu mereka kelak.

❖ ❖ ❖

Obrolan reflektif di ruang keluarga itu perlahan bertransisi menjadi persiapan menyambut malam hari ketika azan Maghrib berkumandang bersahutan dari surau-surau terdekat di kawasan perumahan mereka. Suara panggilan salat tersebut memecah keheningan senja, mengingatkan keduanya akan kewajiban utama seorang hamba di hadapan Sang Maha Kuasa.

Ghazy bangkit dari duduknya dengan sigap, mengambil air wudu di kamar mandi, lalu menggelar sajadah panjang berdampingan di ruang salat keluarga. Transisi dari perbincangan duniawi menuju kekhusyukan ibadah malam berjalan secara alami, menunjukkan betapa ibadah telah mendarah daging menjadi ritme harian yang tidak terpisahkan dari kehidupan rumah tangga mereka.

"Mari kita bersiap, waktu salat telah tiba," ajak Ghazy lembut kepada istrinya.

Samaira mengangguk, mengenakan mukena putih bersih sementara Ghazy mengenakan sarung katun gelap dan koko putih. Ghazy bertindak sebagai imam, melantunkan surah-surah pendek dari Al-Qur'an dengan suara bariton yang tartil, merdu, dan penuh penghayatan. Setiap bacaan ayat suci yang menggema di dalam dinding rumah mungil itu seolah menyucikan kembali atmosfer ruangan dari segala kepenatan dunia luar.

Selepas salat Maghrib dan zikir panjang, mereka tidak langsung beranjak. Ghazy membuka mushaf Al-Qur'an kecil, membaca beberapa ayat pilihan bersama Samaira dalam suasana yang penuh ketenangan. Transisi emosional dari refleksi masa lalu menuju kedekatan spiritual di hadapan Allah memperkokoh ikatan batin di antara mereka, membuat malam itu terasa jauh lebih berkah dibandingkan malam-malam biasa.

"Alhamdulillah, tidak terasa kita sudah melewati sekian banyak tahun bersama dalam ikatan suci ini," bisik Ghazy pelan usai menutup mushaf Al-Qur'an.

Samaira tersenyum manis, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu suaminya. "Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar selalu istiqamah di jalan-Nya, Mas."

Lihat selengkapnya