Kejernihan yang Kita Jaga

Amrullah Ibrahim
Chapter #71

Abadi di Ujung Takdir

Matahari sore di kaki Gunung Manglayang menyapukan cahaya keemasan terakhirnya ke atas dedaunan pinus yang bergoyang lembut diterpa angin pegunungan. Udara terasa begitu dingin, membawa serta aroma khas tanah basah dan dedaunan kering yang khas dari lereng gunung. Di beranda belakang rumah peristirahatan mereka yang menghadap langsung ke lembah hijau, suasana begitu hening, seolah alam sendiri ikut menahan napas menyaksikan detik-detik paling rapuh sekaligus paling sakral dalam perjalanan hidup manusia.

Di atas kursi malas berbalut bantalan kain katun lembut, Samaira berbaring setengah duduk. Tubuhnya yang dulu senantiasa memancarkan energi keibuan kini tampak begitu kurus dan ringkih. Penyakit berat yang diam-diam menggerogoti kesehatannya semenjak tahun-tahun terakhir pasca-kelahiran putra mereka kini telah mencapai garis akhirnya. Meskipun demikian, wajah wanita itu tetap memancarkan kecantikan yang menenangkan, diterangi oleh binar cahaya keimanan yang tidak pernah padam di dalam matanya yang jernih.

Di sampingnya, Ghazi Arkana duduk bersimpuh di atas lantai kayu, menggenggam erat tangan kanan istrinya yang terasa semakin dingin. Pria itu mengenakan kemeja koko putih sederhana dengan peci hitam yang sedikit miring. Di pangkuannya, sebuah mushaf kecil terbuka, namun pandangan mata Ghazi tidak lagi tertuju pada lembaran kertas bertuliskan ayat suci tersebut, melainkan terpatri sepenuhnya pada wajah wanita yang selama ini menjadi belahan jiwa, rumah bagi lelahnya, dan ibu bagi anak semata wayang mereka, Muhammad Fatih Al-Arkana yang kini telah berusia remaja.

Fatih berdiri tidak jauh dari mereka, bersandar pada kusen pintu dengan air mata yang menetes deras di pipinya. Remaja itu berusaha keras menahan isak tangisnya agar tidak mengganggu ketenangan detik-detik terakhir sang ibunda, sementara tangannya menggenggam erat bahu sang ayah sebagai bentuk penyangga kekuatan di tengah badai perpisahan yang tak terelakkan ini.

"Mas Ghazi..." panggil Samaira sangat pelan, suaranya nyaris berbisik kalah oleh desau angin sore. "Dekatkan wajahmu ke sini... aku ingin melihat matamu untuk yang terakhir kalinya."

Ghazi menelan ludahnya yang terasa tercekat, merasakan rongga dadanya sesak oleh kepedihan yang teramat sangat. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening istrinya yang basah oleh keringat halus dengan penuh kelembutan yang teramat dalam.

"Iya, Sayang... aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkan sisimu," bisik Ghazi serak, menahan air mata yang akhirnya tumpah membasahi pipinya.

❖ ❖ ❖

Bagi Samaira, tujuan utamanya di penghujung sisa usianya hari ini bukanlah memohon kesembuhan ajaib atau meratapi takdir kematian yang sudah berada di ambang pintu, melainkan menuntaskan amanah cinta terakhirnya: menguatkan hati suami dan anaknya, serta memastikan bahwa keluarga kecil yang mereka bangun di atas fondasi ketaatan ini ikhlas melepas kepergiannya menuju rahmat Allah SWT. Ia ingin menutup lembaran dunianya dengan husnul khatimah, meninggalkan senyuman terakhir bagi Ghazi agar pria itu tidak merasa berjalan seorang diri di sisa hari-hari kehidupannya kelak.

Sementara itu, bagi Ghazi Arkana, tujuannya saat ini adalah menaklukkan ego kepedihan jiwanya sendiri. Sebagai seorang suami, ia ingin menjadi karang yang kokoh, tempat bersandar yang paling tabah bagi istrinya yang sedang berpulang. Ia bertekad untuk tidak menunjukkan ratapan keputusasaan yang berlebihan, melainkan membimbing detik-detik akhir napas Samaira dengan kalimat tauhid, zikir, dan doa-doa penuh keikhlasan, meyakini sepenuhnya bahwa perpisahan di dunia ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah jeda menuju keabadian di surga.

"Mas..." rintih Samaira lirih, menarik napasnya yang mulai tersengal-sengal. "Jangan bersedih terlalu dalam... takdir kematian adalah janji Allah yang pasti bagi setiap yang bernyawa. Aku ikhlas... aku rida dengan semua perjalanan hidup yang telah kita lalui bersama."

Ghazi menggeleng pelan, mencium punggung tangan istrinya berulang kali dengan air mata yang terus mengalir deras. "Aku tahu, Samaira... aku tahu takdir ini milik Allah. Tapi rasanya begitu berat bagiku untuk melepas belahan jiwa yang telah menemaniku melewati badai paling gelap dalam hidupku."

"Ingatlah janji kita di awal pernikahan dulu, Mas," sambung Samaira dengan sisa-sisa tenaganya, tersenyum lemah namun penuh ketulusan. "Cinta sejati kita bukan hanya untuk dunia yang fana ini. Kita berjanji untuk merajut ketaatan agar kelak... kelak kita bisa bertemu kembali di dalam naungan Jannatul Firdaus."

Mendengar kalimat tersebut, dada Ghazi bergemuruh hebat. Kalimat itu bagaikan sauh yang menahan kapalnya agar tidak karam di tengah badai kepedihan. Ia mengangguk mantap, memaksakan seulas senyum di bibirnya meskipun hatinya terasa bagaikan diiris sembilu.

"Aku ingat, Samaira... aku pegang janji itu," jawab Ghazi dengan suara bergetar. "Kita akan bertemu lagi di sana, di surga-Nya yang abadi."

Fatih yang mendengarkan percakapan kedua orang tuanya perlahan mendekat, lalu berlutut di sisi lain tempat tidur ibunya. Remaja itu meraih tangan kiri Samaira, menciumnya sambil terisak pelan. "Ibu... Fatih ikhlas... doakan Fatih agar bisa menjadi anak saleh seperti yang Ibu ajarkan."

Samaira mengusap kepala putranya dengan tangan yang terasa sangat lemah. "Anakku sayang... jadilah anak yang kuat, patuh pada ayah, dan jaga salatmu. Ibu sangat mencintaimu."

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan tenggelam di balik garis horizon barat Gunung Manglayang, menyisakan semburat jingga kemerahan yang perlahan meredup digantikan oleh kegelapan malam. Di dalam kamar peristirahatan tersebut, lampu tidur berpendar lembut, memantulkan bayangan hangat dari tiga jiwa yang tengah berjuang menerima takdir teragung dari Sang Pencipta.

Suara detak jam dinding di sudut kamar terdengar begitu nyaring, seolah menghitung setiap detik sisa waktu yang dimiliki Samaira di dunia yang fana ini. Napas wanita itu mulai terdengar semakin jarang dan dalam, menandakan bahwa ruhnya perlahan-lahan bersiap meninggalkan jasad kasarnya menuju haribaan Ilahi.

Ghazi tidak beranjak sedetik pun dari tempatnya bersimpuh. Ia terus membimbing lidah istrinya untuk melafalkan kalimat tauhid, membisikkan asma Allah dengan suara yang paling syahdu dan menenangkan di telinga Samaira.

"La ilaha illallah... La ilaha illallah..." tuntun Ghazi dengan lembut, air matanya menetes jatuh mengenai punggung tangan istrinya.

Samaira menggerakkan bibirnya pelan mengikuti bimbingan suaminya. Matanya yang sayu menatap lurus ke arah Ghazi, memancarkan kedamaian batin yang luar biasa, seolah ia sudah bisa melihat pintu-pintu rahmat surga yang terbuka lebar menyambut kepulangannya.

Fatih berdiri di sisi lain, membantu membasahi bibir ibunya dengan sedikit air menggunakan kapas basah, menjaga agar ibunya merasa nyaman di detik-detik sakaratul maut yang mulia tersebut. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu khusyuk, hening, dan dipenuhi oleh malaikat-malaikat rahmat yang turun bertasbih menyaksikan keteguhan iman sebuah keluarga hamba Allah.

Lihat selengkapnya