Matahari sore merayap turun dengan anggun di ufuk barat, memancarkan bias cahaya keemasan yang hangat ke seluruh sudut ruangan rumah Ghazy dan Samaira. Suasana di dalam rumah mungil yang kini telah diperluas dan direnovasi itu terasa begitu syahdu, dipenuhi oleh keheningan yang sesekali dipecah oleh tawa renyah dua buah hati mereka yang sedang bermain di taman belakang. Waktu telah berjalan begitu cepat, membawa lembaran demi lembaran kalender kehidupan hingga hari ini tepat menandai satu dekade—sepuluh tahun sudah ikatan suci pernikahan Ghazy dan Samaira mengarungi berbagai gelombang dinamika rumah tangga.
Di ruang keluarga yang tertata rapi dengan nuansa kayu hangat dan warna-warna pastel netral, Samaira duduk bersimpuh di atas karpet beludru tebal. Mengenakan gamis panjang berbahan katun jepang berwarna dusty rose dengan jilbab senada yang menjuntai anggun, wajah Samaira memancarkan kecantikan yang matang, teduh, dan penuh ketenangan batin. Di hadapannya, sebuah meja kecil berhiaskan vas bunga sedap malam menyebarkan aroma harum yang menenangkan ke seluruh penjuru ruangan.
Ghazy melangkah masuk dari arah teras setelah selesai memastikan pintu halaman belakang tertutup rapat. Mengenakan kemeja koko putih bersih berlengan panjang dan celana bahan gelap, ia membawa segelas teh chamomile hangat dan selembar kartu ucapan sederhana yang ditulis tangan di atas kertas linen. Garis-garis kedewasaan tampak jelas di wajah Ghazy, namun sorot matanya tetap memancarkan kehangatan dan ketulusan yang sama persis seperti sepuluh tahun lalu ketika ia mengucap akad di hadapan penghulu.
Ghazy berlutut di sebelah istrinya, meletakkan gelas teh tersebut di atas meja kecil, lalu tersenyum hangat menatap wanita yang telah mendampinginya melalui segala suka dan duka kehidupan.
"Bagaimana sore ini, istriku tercinta? Apakah kamu percaya bahwa hari ini kita telah genap sepuluh tahun bersama?" sapa Ghazy lembut, menyerahkan kartu ucapan kecil tersebut kepada Samaira.
Samaira mendongak, menyambut kartu itu dengan tangan sedikit bergetar karena rasa haru yang mendalam. Matanya berkaca-kaca menatap suaminya. "Alhamdulillah, Mas... Rasanya baru kemarin kita memulai semua ini dari nol, dan sekarang kita sudah berada di titik sepuluh tahun perjalanan yang luar biasa."
Ghazy mengangguk pelan, merangkul bahu istrinya penuh kasih sayang.
❖ ❖ ❖
Bagi Ghazy dan Samaira, perayaan milad pernikahan yang kesepuluh ini tidak dirayakan dengan kemewahan duniawi, pesta meriah, atau hadiah material yang berlebihan. Mereka memiliki tujuan batiniah yang jauh lebih luhur dan mendasar: melaksanakan sujud syukur bersama sebagai bentuk pengakuan atas segala nikmat, perlindungan, dan petunjuk Allah SWT yang telah menjaga bahtera rumah tangga mereka dari berbagai badai kehancuran.
"Tujuanku hari ini sangat sederhana, Samaira," ucap Ghazy serius namun dipenuhi getaran cinta yang tulus saat mereka duduk berdampingan di atas karpet ruang keluarga. "Sebelum kita menikmati malam milad ini, aku ingin kita meluangkan waktu khusus untuk sujud syukur bersama. Kita ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Allah yang telah menyatukan hati kita dalam ikatan iman dan kesabaran."
Target spiritual pasangan ini di usia satu dekade pernikahan adalah memperbarui komitmen mahligai sakinah, mawaddah, wa rahmah agar terus istiqamah hingga akhir hayat kelak. Mereka menyadari bahwa bertahan selama sepuluh tahun bukanlah hasil dari kehebatan pribadi masing-masing, melainkan buah dari pertolongan Allah, komunikasi yang jujur, serta kemampuan untuk saling memaafkan di setiap kesalahan masa lalu.
Samaira mendengarkan dengan saksama, mengusap setetes air mata bahagia yang lolos dari sudut matanya. "Aku sangat setuju, Mas. Sujud syukur adalah cara terbaik untuk merayakan sepuluh tahun ini. Mengingat kembali bagaimana kita dulu melewati masa-masa sulit keuangan, ujian kesehatan, hingga cobaan keluarga, semua itu hanya bisa kita lewati karena pertolongan-Nya."
Tujuan hidup mereka ke depan juga telah dirumuskan secara matang: menjadikan sisa usia pernikahan mereka sebagai ladang amal jariyah, mendidik anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang mencintai Al-Qur'an, serta terus menebar manfaat bagi sesama manusia. Ghazy ingin memastikan bahwa setiap detik pertambahan usia pernikahan mereka bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
"Mari kita niatkan malam ini semata-mata untuk menggapai ridha-Nya dan memperkuat ikatan batin kita," tambah Ghazy lembut, menggenggam erat jemari istrinya.
❖ ❖ ❖
Obrolan penuh visi spiritual di ruang keluarga itu perlahan bertransisi menjadi persiapan khusyuk menjelang pelaksanaan sujud syukur bersama. Suara azan Isya yang berkumandang dari surau terdekat baru saja mereda, menyisakan keheningan malam yang menyejukkan. Ghazy mengajak anak-anak mereka untuk beristirahat di kamar terlebih dahulu, memastikan suasana rumah benar-benar tenang dan kondusif untuk ibadah khusus tersebut.
Ghazy menggelar dua buah sajadah berdampingan di atas lantai kayu ruang keluarga yang bersih. Transisi dari suasana perbincangan nostalgia menuju kekhusyukan ritual ibadah berjalan secara alami, menunjukkan betapa ibadah telah menjadi poros utama dalam setiap dinamika kehidupan rumah tangga mereka selama satu dekade terakhir.
"Mari kita tunaikan salat sunnah mutlak dua rakaat terlebih dahulu, lalu kita tutup dengan sujud syukur bersama, Samaira," ajak Ghazy dengan nada suara yang tenang dan berwibawa.
Samaira mengangguk patuh, mengenakan mukena putih bersih sementara Ghazy mengenakan peci hitam dan sarung katun terbaiknya. Ghazy bertindak sebagai imam, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari Surah Ar-Rahman dengan suara bariton yang tartil, merdu, dan penuh penghayatan. Setiap ayat yang dilantunkan seolah menceritakan kembali perjalanan nikmat Allah yang telah mereka kecap selama sepuluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga.
Selepas salam penutup salat sunnah, suasana menjadi sangat hening dan sakral. Transisi emosional dari rasa syukur verbal menuju penyerahan diri secara fisik melalui sujud panjang menciptakan gelombang ketenangan batin yang luar biasa kuat di antara suami istri tersebut.
"Mari kita bersujud, memohon ridha dan keberkahan untuk sepuluh tahun ke depan," bisik Ghazy lirih sebelum ia memimpin gerakan sujud syukur.
❖ ❖ ❖