Ruang itu terlalu putih.
Putih yang tidak memberi ketenangan, justru seperti menelanjangi setiap hal yang ingin disembunyikan. Dinding, langit-langit, tirai—semuanya seperti sepakat untuk tidak memberi ruang bagi bayangan. Cahaya lampu menempel dingin, tidak pernah redup, tidak pernah benar-benar hidup.
Bau antiseptik menggantung tipis di udara. Bersih, steril… dan asing.
Rama duduk di sisi ranjang.
Kursi itu terlalu keras untuk disebut nyaman, tapi ia tidak benar-benar merasakannya. Sejak beberapa hari terakhir, tubuhnya seperti kehilangan kemampuan membedakan lelah dan tidak. Yang ada hanya satu rasa yang terus menetap—sesuatu yang berat, diam, dan tidak bisa dijelaskan.
Tangannya menggenggam tangan Ana.
Pelan. Hati-hati.
Seolah-olah sedikit saja tekanan bisa membuatnya retak.
Kulit itu tidak lagi sama.
Dingin.
Tipis.
Seperti kehilangan sesuatu yang dulu membuatnya hidup.
“Kamu akan bertahan.”
Suara Rama rendah. Tidak sepenuhnya yakin. Lebih seperti permohonan yang dipaksakan terdengar sebagai keyakinan.
Ia menunduk, mencium kening Ana. Lama. Sedikit lebih lama dari biasanya.
Seolah ingin mengingat.
Suhu itu.
Aroma itu.
Segalanya.
Ana tersenyum.
Senyum yang masih sama—yang dulu selalu datang tanpa usaha.
Hanya saja sekarang… ada sesuatu yang tertinggal di dalamnya.
Lelah.
Ia mencoba duduk.
Gerakannya kecil, tapi cukup untuk membuat napasnya berubah. Tubuhnya seperti lupa bagaimana rasanya menjadi kuat. Otot-ototnya menegang sebentar, lalu melepas dengan perlahan.
“Sini…” suaranya lirih.
Rama langsung mendekat, bahkan sebelum kata itu selesai sepenuhnya.
Ia menopang punggung Ana dengan satu tangan, membantunya bersandar lebih tegak. Gerakan yang dulu terasa biasa, kini menjadi sesuatu yang harus dilakukan dengan hati-hati, seperti merawat benda yang terlalu rapuh untuk disentuh.
“Eh… laptopnya, Mas.”
Rama menoleh.
Laptop itu masih di meja kecil dekat jendela. Tertutup. Diam. Seolah tidak tahu bahwa sebentar lagi ia akan menjadi jembatan bagi sesuatu yang tidak seharusnya dilanjutkan.
Ia berdiri, mengambilnya, lalu kembali duduk di samping Ana.
Saat layar terbuka, cahaya biru lembut memantul di wajah Ana yang pucat.
“Ada satu lagi, Mas…”
Ana berhenti sejenak. Napasnya pendek.
“Dan ini lebih penting.”
Rama merapatkan tubuhnya, memeluk Ana dari samping. Refleks. Kebiasaan. Sesuatu yang ia lakukan bahkan tanpa berpikir.
“Kamu akan sembuh,” katanya.
“Kamu selalu bisa.”
Ana tidak langsung menjawab.
Jarinya diam di atas keyboard. Layar email terbuka, menampilkan deretan pesan yang belum terbaca.
“Aku akan bertahan…” katanya akhirnya.
Pelan.
Lalu, setelah jeda yang terasa terlalu panjang:
“Kalau aku bertahan… semua permintaanku tadi kita abaikan.”
Rama tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
“Baik,” katanya pelan.
“Sekarang apa yang terakhir?”
Ana menarik napas. Dalam, tapi tidak cukup dalam.
“Namanya Amanda.”
Nama itu jatuh begitu saja di antara mereka.
Seperti sesuatu yang ringan, tapi meninggalkan gema.
Rama mengernyit, mencoba mengingat.
“Yang sering kirim email ke kamu?”
“Iya.”
Ana tersenyum tipis. “Yang dulu bikin kamu cemburu.”
Rama terkekeh pelan, lalu mencium pipi Ana.
“Karena aku belum tahu dia perempuan waktu itu. Kamu manggilnya ‘boy’ terus.”
Ana tertawa kecil. Suara yang pelan, tapi masih hangat.
“Dulu dia memang kayak gitu…”
“Waktu SMA dia lebih sering bareng anak-anak mapala. Rambut pendek, baju seadanya. Bahkan lebih cuek dari kamu.”
Rama meringis saat perutnya dicubit pelan.
“Kenapa dengan Amanda?”
Ana terdiam.
Matanya tidak lagi melihat layar. Tidak juga Rama.
Seolah-olah ia sedang melihat sesuatu yang jauh.
“Aku mau minta sesuatu, Mas.”
Rama menoleh.
Nada suara itu berbeda.
Lebih tenang… tapi juga lebih serius.
“Apa?”
“Kamu lanjutkan balas email-email Amanda…”
Ana berhenti.
“Pakai namaku.”
Sunyi.
Monitor di samping ranjang berbunyi pelan.
Bip.
Bip.