Kekasih Untuk Suamiku

Bramanditya
Chapter #2

Rumah yang Terlalu Sepi


Pintu itu masih sama.

Cat kayunya sedikit mengelupas di bagian bawah—bekas sepatu yang terlalu sering mendorong saat tangan penuh belanjaan. Engselnya masih mengeluarkan bunyi kecil setiap kali dibuka.

Dulu, bunyi itu selalu diikuti langkah ringan dari dalam.

Sekarang tidak ada apa-apa.

Rama berdiri di depan pintu itu lebih lama dari seharusnya.

Kunci sudah ada di tangannya sejak beberapa menit lalu.

Tapi ia belum juga memasukkannya.

Rumah itu tidak berdebu.

Tidak berantakan.

Tidak ada tanda-tanda ditinggalkan.

Justru itu yang membuatnya terasa salah.

Seperti seseorang baru saja keluar sebentar…

dan tidak pernah kembali.

Ia akhirnya memutar kunci.

Klik.

Pintu terbuka perlahan.

Udara dari dalam menyambutnya—dingin, diam, dan terlalu bersih. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada suara televisi. Tidak ada langkah kaki kecil yang biasanya menyusulnya dari arah dapur.

“Mas udah pulang?”

Suara itu tidak ada.

Rama masuk.

Menutup pintu di belakangnya.

Bunyi engsel itu terdengar lebih keras dari biasanya.

Ia berdiri di ruang tamu. Tidak bergerak.

Matanya menyapu ruangan itu pelan.

Sofa abu-abu di sudut.

Meja kecil dengan bekas lingkaran cangkir.

Vas bunga yang sekarang kosong.

Semua ada di tempatnya.

Terlalu rapi.

Seolah rumah itu berhenti di satu waktu… dan menolak bergerak sejak saat itu.

Rama melangkah pelan.

Setiap langkah terasa seperti menginjak sesuatu yang tidak terlihat.

Di meja, ada dua cangkir.

Satu bersih.

Satu masih menyisakan noda tipis kopi di bibirnya.

Ia mengangkat cangkir itu.

Diam sejenak.

“Mas, kopi kamu pahit banget.”

Ana duduk di kursi itu, mengernyit sambil mencoba menelan satu teguk.

Rama tertawa kecil.

“Namanya juga kopi.”

“Ini bukan kopi, ini hukuman.”

Ana mendorong cangkirnya pelan ke arah Rama.

“Bikin yang normal.”

Rama menggeleng.

“Kamu yang terlalu manis.”

Ana memutar mata, lalu tersenyum.

Rama membuka mata.

Kursi itu kosong.

Cangkir itu dingin.

Ia meletakkannya kembali—persis di tempat semula.

Seolah sedikit saja berubah… bisa menghapus sesuatu yang masih tersisa.

Langkahnya berlanjut ke dapur.

Semuanya bersih.

Terlalu bersih.

Tidak ada panci di atas kompor. Tidak ada suara pisau. Tidak ada potongan sayur yang tertinggal setengah.

Hanya diam.

Rama menyentuh permukaan meja dapur.

Dingin.

“Mas, jangan di sini, nanti kotor.”

Ana menahan tangannya saat ia mencoba mencuri sesuatu dari talenan.

“Cuma satu.”

“Enggak.”

“Sedikit aja.”

Ana menatapnya datar.

Rama mengangkat kedua tangan menyerah.

“Baik, Bu.”

Ana tertawa kecil.

Rama menarik tangannya cepat.

Dapur itu terasa seperti ruang yang tidak boleh ia masuki lagi.

Ia berbalik.

Langkahnya sedikit lebih cepat sekarang.

Seperti ada sesuatu yang mengejarnya dari belakang.

Kamar tidur.

Pintu itu setengah terbuka.

Rama berhenti di ambang.

Kasur masih rapi.

Dua bantal masih berdampingan.

Selimut terlipat sempurna.

Terlalu sempurna.

Ia melangkah masuk.

Duduk di sisi ranjang.

Tangannya menyentuh bantal di sebelahnya.

Dingin.

“Mas, jangan kerja terus di sini.”

Ana menarik laptop dari pangkuannya.

“Sebentar lagi.”

“Kamu bilang itu dari satu jam lalu.”

Rama menghela napas.

“Deadline.”

Ana menggeleng, lalu merebahkan diri di sampingnya.

“Kamu kalau capek juga nggak sadar.”

Rama menoleh.

Melihat wajah itu dari dekat.

“Sekarang sadar.”

Ana tersenyum.

Rama membuka mata.

Kosong.

Ia berdiri terlalu cepat.

Seolah tidak tahan lebih lama di ruangan itu.

Rumah itu tidak terasa seperti rumah.

Lebih seperti tempat yang menyimpan terlalu banyak hal yang tidak bisa ia sentuh lagi.

Ia mengambil kunci mobil.

Keluar tanpa menoleh.

Café itu masih buka.

Lampu hangat menyambutnya. Suara percakapan, mesin kopi, denting gelas—semuanya hidup.

Normal.

Seolah dunia tidak kehilangan apa-apa.

"Mas."

Salah satu karyawannya menyapanya.

Rama hanya mengangguk.

Ia berjalan ke belakang bar.

Mengambil cangkir. Menggiling kopi. Menuang air panas.

Gerakan yang sama.

Ritme yang sama.

Di sini… ia tidak perlu mengingat.

Seorang pelanggan tertawa keras di sudut ruangan.

Dua orang lain sibuk dengan laptop mereka.

Hidup berjalan.

Rama berdiri di tengahnya.

Tapi tidak benar-benar di dalamnya.

---

Lihat selengkapnya