Mas…
Kalau kamu membaca ini,
berarti aku sudah tidak ada di sana lagi.
Jangan takut ya.
Di sini tidak sakit.
Tidak ada selang.
Tidak ada jarum.
Tidak ada malam panjang yang membuatku terbangun hanya untuk memastikan aku masih bisa bernapas.
Aku baik-baik saja, Mas.
Yang aku khawatirkan… kamu.
Apa kamu masih tidur larut karena kerjaan?
Atau sekarang justru tidak bisa tidur sama sekali?
Apa kamu masih minum kopi terlalu pahit itu?
Atau sekarang rasanya malah tidak ada lagi yang ingin kamu rasakan?
Maaf ya, Mas…
Aku tidak bisa menepati janjiku.
Aku bilang akan bertahan.
Aku bilang akan mengganggumu seumur hidupmu.
Ternyata… aku kalah.
Tapi bukan berarti aku tidak berusaha.
Aku hanya… sudah terlalu lelah.
—
Mas…
Kalau ada satu hal yang paling aku takutkan sebelum aku pergi,
itu bukan kematian.
Tapi meninggalkan kamu sendirian.
Aku tahu kamu.
Lebih dari yang kamu kira.
Kamu tidak banyak bicara.
Tidak banyak mengeluh.
Tapi kamu menyimpan semuanya terlalu dalam.
Dan itu yang membuatku takut.
Aku takut kamu akan berhenti hidup…
tanpa benar-benar mati.
—
Terima kasih ya, Mas.
Sudah datang di hidupku.
Walaupun kita tidak punya waktu panjang,
walaupun kita tidak sempat menua bersama…
itu sudah lebih dari cukup buat aku.
Aku tidak pernah merasa sendirian sejak kamu ada.
Bahkan di saat-saat paling sakit sekalipun.
Kamu ada di sana.
Tidak pernah pergi.
Tidak pernah menjauh.
Bahkan saat aku tahu… kamu sebenarnya takut.
Aku bisa merasakannya.
Di cara kamu menggenggam tanganku.
Di cara kamu pura-pura kuat di depanku.
Terima kasih sudah memilih tetap tinggal.
—
Mas…
Setelah ini, aku mau cerita sedikit tentang seseorang.
Seseorang yang mungkin akan kamu kenal…
lebih dalam dariku nanti.
Amanda.
Mas pasti ingat namanya.
Sebelum kamu membalas email-emailnya nanti…
aku ingin kamu mengenalnya.
Seperti aku mengenalnya.
—
Dimulai dari mana ya, Mas…
Mungkin… dari hari pertama kami bertemu.
Hari orientasi SMA.
Hari yang harusnya biasa saja.
Tapi entah kenapa… menjadi awal dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.
—
Semua orang waktu itu membawa tanaman kecil.
Tanaman hias. Rapi. Cantik.
Aku juga.
Pot kecil dengan daun-daun hijau yang rimbun.
Aku ingat aku memegangnya hati-hati, takut rusak.
Lalu aku melihat dia.
Berdiri di tengah keramaian.
Dengan tanaman yang… berbeda.
Lebih tinggi.
Berbatang.
Sedikit liar.
Seperti tidak mau disamakan dengan yang lain.
Dia sedang bertengkar dengan seorang anak laki-laki.
Suara mereka cukup keras untuk membuat orang-orang menoleh.
“Apa sih, cuma tanaman doang!” kata anak itu.
Amanda tidak menjawab dengan pelan.
“Kalau cuma tanaman, kenapa kamu repot bawa?”
Nada suaranya tajam.
Tidak peduli siapa yang mendengar.
Panitia datang. Melerai. Mengancam hukuman.
Dalam keributan itu, tanaman Amanda jatuh.
Potnya pecah.
Batangnya patah sebagian.
Semua orang kembali ke urusannya masing-masing.
Tidak ada yang benar-benar peduli.
Aku berdiri beberapa langkah dari sana.
Melihat dia.
Untuk pertama kalinya.
Rambutnya pendek.
Sedikit berantakan.
Seragamnya tidak serapi yang lain.
Tapi matanya…
Keras.