Tanah itu masih basah.
Jejak air yang tersisa dari siraman terakhir perlahan meresap, menghilang tanpa suara. Bunga-bunga tabur mulai kehilangan warna segarnya—merah yang tadi terang kini tampak lebih gelap, seperti ikut menyimpan sesuatu yang tidak bisa diucapkan.
Rama berdiri lebih lama dari yang seharusnya.
Tangannya masih menggenggam sisa kelopak bunga yang tadi ia taburkan. Jemarinya kaku. Seolah lupa bagaimana cara melepaskan.
Di depannya, nama itu terukir rapi di batu nisan.
Ana Stasia Binti Effendi.
Sederhana.
Tidak panjang. Tidak berlebihan
Hanya sebuah nama...
Ia menatapnya... lama.
Seolah kalo berpaling, nama itu akan ikut hilang.
Yang kini terasa terlalu berat untuk dipanggil.
Angin lewat pelan.
Membawa aroma tanah basah dan daun kering yang bergesekan pelan.
Rama menunduk.
Bukan karena tidak kuat melihat.
Tapi karena terlalu banyak yang ingin ia katakan… dan tidak satu pun menemukan bentuknya.
Di sebelahnya, Sisca berdiri diam.
Matanya sembab. Hidungnya sedikit memerah. Ia tidak lagi menangis, tapi jelas belum selesai.
Tidak ada yang benar-benar selesai di tempat seperti ini.
“Mas…” suara Sisca pelan.
Rama tidak langsung menjawab.
Ia menghela napas. Panjang. Lalu akhirnya membuka telapak tangannya. Sisa kelopak bunga jatuh, satu per satu, ke tanah yang sama.
“Pulang, ya…” lanjut Sisca.
Tidak memaksa.
Hanya mengingatkan bahwa dunia masih berjalan.
Rama mengangguk pelan dan menarik napas dalam.
Langkah pertama terasa berat.
Seperti meninggalkan sesuatu yang seharusnya tidak ditinggalkan.
—
Jalan setapak menuju area parkir masih sepi.
Beberapa orang berlalu, tapi tidak ada yang benar-benar terlihat oleh Rama. Dunia terasa seperti bergerak sedikit lebih jauh darinya.
Mereka berjalan berdampingan.
Tidak terburu-buru.
Tidak juga berhenti.
Hanya… berjalan.
Sampai akhirnya Rama memecah sunyi.
"Ca..."
Sisca menoleh.
"Hm?"
Rama tidak langsung lanjut.
Beberapa langkah.
Lalu akhirnya keluar juga.
“… kamu kenal Amanda?”
Langkah Rama sedikit melambat.
Ia menoleh sekilas.
Sisca tersenyum kecil.
Sedikit mengangkat alisnya.
"Oh, kenal banget."
Rama melirik.
Menunggu.
“Dia itu…” Sisca menarik napas pelan, seperti sedang memilih kata yang tepat, “sudah seperti kakak keduaku.”
Rama tidak langsung merespons.
Sisca melanjutkan, suaranya kini lebih ringan, seolah mencoba menghidupkan sesuatu yang sudah lama tidak mereka sentuh.
“Dan seperti anak ketiga buat Bapak dan Ibu,” tambahnya.
Rama menoleh.
Ada sedikit kejutan di wajahnya.
“Sebegitunya?”
Sisca mengangguk.
Langkah mereka tetap pelan.
Tapi percakapan mulai terasa.
“Kalau di luar… dia memang keliatan tomboy, agak sedikit urakan,” katanya, tersenyum tipis. “Tapi kalau sudah di rumah…”
Ia berhenti sejenak.
“…dia bisa lebih rapi dari aku.”
Rama terkekeh kecil.
Suara tawa yang tipis. Hampir tidak terdengar.
“Serius?”
“Iya,” Sisca ikut tertawa pelan. “Kalau makan, duduknya paling bener. Kalau bantu Ibu di dapur, paling rajin. Kadang aku sampai mikir… ini orang yang sama bukan sih?”
Rama menggeleng kecil.
Senyumnya masih ada, tapi matanya tidak ikut tertawa.
“Kenapa?” tanya Sisca kemudian, menoleh padanya. “Dia baik-baik saja, kan?”
Langkah Rama terhenti sejenak.
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi jawabannya… tidak.
Ia menarik napas.
Melepaskannya pelan.
Matanya kembali ke depan, menatap jalan yang sebenarnya tidak ia lihat.
“Aku…” ia berhenti. Ragu.
Kata-kata itu ada.
Tapi tidak mudah keluar.
Sisca memperhatikan.
Diam.
Menunggu.
Tidak mendesak.
Seolah sudah tahu… ini bukan hal yang bisa dipaksa.
Beberapa langkah lagi mereka berjalan tanpa suara.
Lalu Sisca kembali bicara.
Lebih pelan.
“Email-email Amanda… sama Kak Ana, ya?”
Rama berhenti.
Benar-benar berhenti kali ini.
Ia menoleh cepat.
“Dari… Ana?” suaranya hampir berbisik.
Sisca mengangguk.
“Dia cerita,” jawabnya tenang. “Ke aku. Ke Bapak. Ke Ibu juga.”
Rama menatapnya.
Masih belum sepenuhnya percaya.
“Dan…” Sisca melanjutkan, “dia juga bilang… kalau suatu saat Mas lupa… aku yang harus ingetin.”
Sunyi.
Hanya suara langkah orang lain yang lewat jauh di belakang mereka.
Rama menunduk.
Tangannya masuk ke saku celana.
Menggenggam sesuatu yang tidak terlihat.
“Ana…” gumamnya pelan.
Ada sesuatu yang terasa menghangat di dadanya.
Sekaligus menekan.
“Dia minta… kami semua untuk merahasiakan dulu,” lanjut Sisca. “Tentang kepergiannya. Dari Amanda… dan beberapa orang dekatnya.”
Rama menghela napas.
Panjang.
Berat.
“Kenapa…” ia akhirnya berkata, “…kenapa harus seperti ini?”
Sisca tidak langsung menjawab.
Ia berjalan satu langkah ke depan, lalu berhenti, berbalik menghadap Rama.
Matanya lembut.
Tapi tegas.
“Mas ragu?”
Rama terdiam.
Beberapa detik.
Lalu ia mengangguk pelan.
“Entahlah…” suaranya rendah. “Ini… terasa salah.”
Ia menatap Sisca.
“Ini bohong, Ca.”
Kata itu jatuh pelan.
Tapi berat.
Sisca tersenyum kecil.
Bukan karena menganggapnya ringan.
Tapi karena ia mengerti.
“Salah, ya…” ulangnya pelan.
Lalu ia mendekat satu langkah.
“Kalau itu kebohongan yang mungkin… menyelamatkan nyawa seseorang?”
Rama tidak menjawab.
Matanya menatap Sisca.
Lama.
Kalimat itu menggantung di antara mereka.
Tidak jatuh.
Tidak hilang.
Hanya… ada.
Dan terasa.
Lebih dalam dari yang ia kira.
“Dan ingat…” lanjut Sisca, lebih pelan lagi, “orang itu bukan cuma ‘seseorang’.”
Ia tersenyum.
Hangat.
“…dia kakak kita.”
Rama menunduk.
“…dan anak dari Bapak Ibu.”
Sunyi kembali.
Tapi kali ini… berbeda.
Tidak kosong.
Lebih seperti… penuh oleh sesuatu yang belum bisa ia uraikan.
Rama menghela napas.
Sekali lagi.
Lebih pelan.
Lebih menerima.
“Memangnya…” ia akhirnya berkata, mencoba mencari pijakan, “bipolar itu… seberbahaya itu?”
Sisca mengangkat bahu kecil.
“Berbahaya,” jawabnya jujur. “Apalagi kalau hidupnya juga… tidak tenang.”
Ia melirik Rama.
“Kerjaan dia, Mas… kamu tahu sendiri.”
Rama mengangguk pelan.
Ia ingat sedikit cerita Ana.
Tentang hutan.
Tentang foto.
Tentang hal-hal yang tidak semua orang berani lihat.
Sisca tersenyum lagi.
Tiba-tiba.
Lebih ringan.
Seperti menemukan sesuatu yang sedikit menghangatkan.
Rama menoleh.
“Kenapa?” tanyanya heran.
Sisca tertawa kecil.
“Semoga nanti…” katanya, “…Mas nemu cerita itu di email mereka.”
“Cerita apa?”
“Yang mereka pernah tukar peran,” jawab Sisca, matanya berbinar sedikit. “Kak Ana cerita, tapi cuma sekilas. Aku lupa detailnya.”
Rama ikut tersenyum tipis.
“Yang waktu dia datang ke markas MAPALA itu?”
“Iya!” Sisca langsung mengangguk. “Kebayang nggak sih? Kak Ana… datang ke markas MAPALA. Nyari Kak Amanda.”
Rama menggeleng pelan.
“Pasti heboh.”
“Banget,” Sisca tertawa. “Anak-anak sana langsung godain dia. Mana Kak Ana kan… ya gitu…”
“Manis, rapi, dan kelihatan salah tempat,” lanjut Rama pelan.
Sisca tertawa lagi.
“Persis.”
“Terus?”
“Marah,” kata Sisca singkat. “Kak Ana marah. Kak Amanda juga nggak kalah. Mereka saling ejek… teman-teman pergaulan masing-masing.”
Rama tersenyum.
Lebih jelas kali ini.
Untuk beberapa detik… dunia terasa sedikit lebih ringan.
Hening kembali datang.
Tapi tidak setajam tadi.
Rama menatap ke depan.
Lalu perlahan, senyumnya hilang.
Digantikan sesuatu yang lebih serius.
“Kalau…” ia berhenti sejenak, “…ketahuan?”
Sisca tidak langsung menjawab.
Ia memikirkan.
Sebentar.
“Ya…” katanya akhirnya, “…makanya Mas harus baca email-email mereka dulu.”
Ia menatap Rama.
“Biar tahu gimana Kak Ana nulis. Gimana dia ngomong.”
Rama mengangguk pelan.
Masuk akal.
Terasa… lebih nyata.
Mereka akhirnya sampai di area parkir.
Mobil berdiri diam.
Seperti menunggu mereka kembali ke dunia yang berjalan seperti biasa.
Sisca membuka pintu mobilnya.
Lalu berhenti.
Menoleh ke Rama.
“Selamat berjuang, Kak,” katanya, tersenyum sedikit jahil.
Rama mengangkat alis.
“Berjuang?”
“Jadi Kak Ana,” jawab Sisca santai.
Rama mendesah kecil.
Lalu mengacak rambut Sisca.
“Dasar…”
Sisca tertawa.
Masuk ke mobilnya.
Menutup pintu.
—
Rama berdiri sendiri.
Untuk beberapa detik.
Menatap mobil itu.
Lalu mengalihkan pandangannya.
Ke arah jalan.
Ke arah yang berbeda dari tadi.
—
Tangannya masuk ke saku.
Menyentuh sesuatu.