Kekasih Untuk Suamiku

Bramanditya
Chapter #6

Dear Ana


Pagi di pedalaman Amazon tidak pernah benar-benar sunyi.

Ada suara yang terus hidup.

Serangga.

Burung.

Dan sesuatu yang tidak terlihat… tapi terasa.

Udara lembap menempel di kulit.

Kayu-kayu tua berderit pelan.

Dan di sudut sebuah kedai kecil—yang lebih mirip gubuk kayu—Amanda duduk sendiri.

Sebuah antena kecil terpasang di luar.

Starlink.

Satu-satunya cara ia tetap terhubung dengan dunia.

Di depannya, laptop terbuka.

Kopi hitam mengepul pelan.

Sepiring roti bakar dan telur mata sapi hampir dingin.

Amanda menggigit sedikit.

Tidak fokus.

Matanya sesekali melirik layar.

Sinyal naik.

Turun.

Naik lagi.

Ia mendesah pelan.

Dua pria asing—bule, dengan pakaian lapangan—mendekat sambil membawa kopi.

“Don’t forget, one hour. We move.”

(satu jam lagi kita berangkat)

Amanda mengangguk kecil.

“Okay.”

Singkat.

Tanpa benar-benar melihat mereka.

Pikirannya tidak di sana.

Ia kembali ke layar.

Inbox terbuka.

Dan—

Satu nama.

Ana.

Jantungnya seperti berhenti sebentar.

Wajahnya berubah.

Dari lelah… menjadi hidup.

“Akhirnya…” gumamnya pelan.

Jarinya cepat.

Klik.

Email terbuka.

Sunyi.

Amanda tidak langsung bereaksi.

Matanya membaca.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berhenti.

Di satu titik.

Tidak bergerak.

Hanya satu hal di layar itu.

Sebuah foto.

Ia membeku.

Kopi di tangannya masih terangkat.

Lalu—

“Uh—”

Ia tersedak.

Batuk.

Kopi tumpah sedikit ke meja.

Beberapa orang menoleh.

Tapi Amanda tidak peduli.

Matanya kembali ke layar.

Lebih dekat.

Lebih tajam.

Dan—

“ANA…!”

suara itu pecah begitu saja.

“Kurang ajar kamu…!”

Beberapa orang menatapnya.

Ia tidak peduli.

Tidak sedikit pun.

Tangannya menutup mulut.

Tertawa.

Dan di saat yang sama—

matanya mulai basah.

Foto itu.

Foto lama.

Yang seharusnya sudah hilang.

Yang seharusnya sudah dibakar.

Dirinya.

Dengan rambut panjang.

Wig murahan.

Ekspresi kesal setengah mati.

Dan di sampingnya—

Ana.

Tertawa.

Seperti biasa.

Seolah dunia tidak pernah punya masalah.

Amanda menggeleng pelan.

Tertawa kecil.

Lalu duduk kembali.

Lebih dekat ke laptop.

Tangannya langsung bergerak.

Mengetik.

Cepat.

Seperti tidak mau kehilangan momentum.


Balasan Email

Subject: Penyebar Aib 😂

From: Amanda



An…

sialan ya kamu.

kok bisa sih…

aku udah minta kamu bakar foto jelek itu 😭

ini pelanggaran HAM. serius.

An…

makasih ya.

aku ketawa.

beneran ketawa.

udah lama banget nggak kayak gini.

aku kangen kamu.

kangen banget.

juga Sisca…

Bapak… Ibu…

Jogja gimana hari ini?

masih panas nyebelin nggak?

kamu gimana?

sehat kan?

aku sempet panik tau nggak…

kamu ilang gitu aja.

aku beneran takut kamu kenapa-kenapa.

beberapa waktu lalu aku lagi di pedalaman Venezuela,

ketemu suku Yanomami.

mereka bilang aura aku gelap.

dikelilingi kematian.

gila nggak sih?

bikin aku mikir aneh-aneh.

tapi ya sudahlah.

kamu ada di sini.

itu cukup.

An…

aku mau kasih kabar baik.

kayaknya aku bisa pulang lebih cepat.

terapi bipolarku tinggal beberapa sesi lagi.

progresnya bagus.

makasih ya…

Lihat selengkapnya