Sinyal di kamar itu tidak pernah benar-benar stabil.
Kadang penuh.
Kadang hilang begitu saja.
Di atas meja kecil dekat jendela, sebuah perangkat kecil dengan lampu biru berkedip pelan.
Starlink.
Satu-satunya penghubung Amanda dengan dunia luar yang tidak penuh suara hutan.
Di luar, pagi di Manaus sudah bergerak.
Udara lembap masuk dari celah jendela.
Suara kendaraan bercampur dengan teriakan pedagang dan burung-burung yang entah dari mana.
Kota ini tidak pernah benar-benar diam.
Tapi di dalam kamar itu—
Amanda duduk tegak di kursi.
Laptop terbuka.
Sebuah wajah muncul di layar.
Tenang. Profesional. Terbiasa mendengar banyak hal yang tidak pernah sederhana.
“Bagaimana minggu ini, Amanda?”
Suara itu stabil.
Tidak terburu.
Tidak juga terlalu lembut.
Amanda menarik napas kecil.
“Mendingan, Dok.”
Jawaban cepat.
Seperti sudah disiapkan.
“Lebih stabil?”
Amanda mengangguk.
“Tidur lebih teratur. Panic-nya juga… berkurang.”
Ia berhenti sejenak.
Mencari kata yang tepat.
“At least… nggak se-chaotic sebelumnya.”
Dokter itu mengangguk kecil.
“Bagus. Itu progres.”
Hening sebentar.
“Masih sering merasa sendiri?”
Pertanyaan itu datang pelan.
Tapi tepat.
Amanda tidak langsung menjawab.
Matanya sempat berpindah ke luar jendela.
Ke arah kota yang bergerak tanpa peduli siapa pun.
“…nggak terlalu.”
Ia kembali ke layar.
“Tapi…”
Kalimatnya menggantung.
“Kadang aku masih ngerasa… butuh seseorang buat ngeyakinin kalau aku baik-baik aja.”
Sunyi.
Dokter itu tidak langsung merespon.
Memberi ruang.
“Dan sekarang?”
Amanda menatap layar.
“…ada.”
Satu kata.
Pendek.
Tapi cukup.
Dokter itu mengangguk pelan.
“Baik. Tapi kita tetap harus sampai ke titik di mana kamu bisa memastikan itu sendiri, tanpa bergantung pada orang lain.”
Amanda tidak menjawab.
Hanya mengangguk kecil.
Seolah mengerti.
Atau… mencoba mengerti.
“Pelan-pelan saja,” lanjut dokter itu.
“Kamu sudah jauh lebih baik dibanding beberapa bulan lalu.”
Sesi itu tidak lama.
Beberapa menit setelahnya—
layar kembali gelap.
Kamar kembali sunyi.
—
Amanda menutup laptop.
Duduk diam beberapa detik.
Lalu berdiri.
Mengambil tas kecilnya.
Hari itu terasa… cukup ringan.
Atau mungkin… tidak seberat biasanya.
—
Jalanan di Manaus ramai.
Udara panas menempel di kulit.
Bangunan tua dengan cat yang mulai pudar berdiri berdampingan dengan toko-toko modern yang terlalu terang.
Di kejauhan, Sungai Amazon mengalir lebar.
Hampir seperti laut.
Cokelat.
Tenang.
Tapi menyimpan sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa ditebak.
Amanda berjalan pelan.
Tidak terburu.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari di hutan—
ia kembali menjadi bagian dari keramaian.
Orang-orang berlalu lalang.
Bahasa Portugis terdengar di mana-mana.
Cepat. Mengalir. Hidup.
Amanda tidak benar-benar mendengarkan.
Pikirannya masih setengah tertinggal di dalam dirinya sendiri.
—
Ia berhenti di sebuah toko kecil.
Tidak mencolok.
Kayu tua.
Pintu setengah terbuka.
Di dalam, barang-barang tergantung tidak rapi.
Tapi… punya cerita.
Amanda masuk.
Seorang pria tua menoleh sebentar.
Mengangguk.
Amanda membalas dengan senyum kecil.
Matanya menyapu rak-rak.
Patung kecil.
Kalung.
Benda-benda yang tidak ia kenal.
Lalu—
sebuah gelang.
Sederhana.
Tali tipis dengan manik kayu kecil.
Tidak sempurna.
Tapi… terasa.
Amanda mengambilnya.
Memutar pelan di tangannya.
Entah kenapa—
ia tidak meletakkannya kembali.
“Quanto?” tanyanya singkat.
Pria itu menyebut harga.
Amanda mengangguk.
Membayar.
Dan beberapa detik kemudian—
gelang itu sudah melingkar di pergelangan tangannya.
Ringan.
Hampir tidak terasa.
—
Sore menjelang.
Amanda duduk di sebuah café kecil di pinggir jalan.
Meja kayu.
Kursi sedikit goyang.
Kopi hitam di depannya.
Laptop terbuka.
Ia mulai bekerja.
Mengedit foto.
Warna.
Kontras.
Cahaya.
Semua terasa lebih mudah ketika ia berada di balik layar.
Lebih bisa dikontrol.
Lebih… tenang.
Waktu berjalan tanpa ia sadari.
—
Sebuah bunyi kecil.
Notifikasi.
Amanda berhenti.
Matanya turun ke pojok layar.
Satu nama.
Ana.
Napasnya tertahan.
Sekejap.
Jemarinya tidak langsung bergerak.
Hanya menatap.
Seperti memastikan itu benar.
Lalu—
klik.
Email terbuka.
—
Amanda membaca.
Perlahan.
Lebih pelan dari biasanya.
Setiap kata… terasa.
Berbeda.
Tidak seperti sebelumnya.
Masih hangat.
Masih Ana.
Tapi…
ada sesuatu yang berubah.
—
Subject: Re : Penyebar Aib 😂