Malam di New York City tidak pernah benar-benar tidur.
Lampu-lampu gedung tinggi menyala seperti bintang yang terlalu dekat.
Suara sirene sesekali memecah udara.
Langkah kaki di trotoar masih terdengar, bahkan ketika waktu sudah melewati tengah malam.
Di lantai dua puluh sebuah apartemen modern—
Amanda terjaga.
Matanya terbuka.
Menatap langit-langit.
Tidak ada yang salah di ruangan itu.
Tidak ada yang berubah.
Semua tetap pada tempatnya.
Tapi… sesuatu terasa berbeda.
—
Ia membalikkan tubuh.
Menarik selimut sedikit lebih tinggi.
Menutup mata.
Beberapa detik.
Lalu membukanya lagi.
Napasnya belum cepat.
Belum panik.
Hanya… tidak nyaman.
Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikirannya.
Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
—
Amanda duduk perlahan.
Tangannya meraih ponsel di samping tempat tidur.
Layar menyala.
Satu nama langsung ia cari.
Ana.
Jempolnya berhenti di atas layar.
Tidak menekan.
Hanya… diam.
Beberapa detik.
Lalu ponsel itu ia letakkan kembali.
—
“Ini cuma capek.”
gumamnya pelan.
Ia berdiri.
Berjalan ke dapur kecil.
Menuang air.
Minum.
Satu teguk.
Dua.
Air itu tidak membantu banyak.
—
Ia kembali ke ruang utama.
Laptop masih tergeletak di meja.
Belum ditutup sejak tadi sore.
Amanda mendekat.
Duduk.
Membuka layar.
Email itu masih terbuka.
Masih sama.
Tidak berubah.
—
Matanya membaca lagi.
Perlahan.
Setiap kata.
Seperti mencari sesuatu yang terlewat.
aku mungkin nggak selalu bisa cepat membalas…
Amanda berhenti di situ.
Kalimat itu sederhana.
Biasa.
Masuk akal.
Tapi…
ia mengulangnya lagi.
Dan lagi.
Sesuatu terasa bergeser.
Tipis.
Hampir tidak terlihat.
Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sempit.
—
“Ana nggak pernah ngomong kayak gini…”
bisiknya pelan.
Ia menggeleng.
“Mungkin lagi capek.”
Logis.
Masuk akal.
Seharusnya cukup.
—
Tapi pikirannya tidak berhenti di sana.
Ia kembali membaca email-email lama.
Satu per satu.
Scrolling pelan.
Mencari.
Membandingkan.
—
Nada yang dulu—
lebih hidup.
lebih spontan.
lebih… Ana.
Yang ini—
tetap hangat.
Tapi… seperti menjaga jarak.
—
Amanda menarik napas.
Lebih dalam.
Tangannya mulai terasa dingin.
—
“Stop.”
Ia menutup laptop.
Sedikit lebih keras dari yang ia maksudkan.
Ruangan kembali sunyi.
—
Ia berdiri.
Berjalan ke jendela.
Di luar—
kota masih hidup.
Lampu-lampu menyala.
Mobil-mobil bergerak.
Dunia tetap berjalan.
—
Amanda menyandarkan dahinya ke kaca.
Dingin.
Sedikit membantu.
—
Dan tanpa ia sadari—
sebuah suara lama muncul.
Pelan.
Seperti gema dari tempat yang jauh.
gelap…
dikelilingi kematian…
Amanda menegang.
Napasnya berhenti sepersekian detik.
“Bukan.”
bisiknya cepat.
“Bukan itu.”
—
Ia mundur selangkah dari jendela.
Tangannya naik ke dada.
Detak jantungnya mulai terasa.
Lebih cepat.
—
“Ini cuma capek.”
ulangnya.
Lebih keras.
Seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri.
—
Tapi tubuhnya tidak mengikuti.
Napasnya mulai tidak teratur.
Pendek.
Cepat.
Tangannya gemetar.
Sedikit.
Lalu semakin jelas.
—
Amanda berjalan mondar-mandir.
Langkah kecil.
Tidak terarah.
Seperti mencari sesuatu yang tidak ada.
—
“Aku baik-baik saja…”
“aku baik-baik saja…”
Kalimat itu diulang.
Tapi tidak terasa benar.
—
Ia berhenti.
Menatap meja.
Laptop.
—
Tidak.
Bukan itu.
—
Ia berbalik.
Meraih ponselnya lagi.
Tangannya gemetar saat membuka kontak.
Mencari nama.
Bukan Ana.
Yang lain.
—
Psikiaternya.
—
Jempolnya menekan.
Panggilan video.
Nada sambung.
Satu kali.
Dua kali.
—
“Come on… come on…”
bisiknya.
—
Layar menyala.
Wajah itu muncul.
Tenang.
Stabil.
Seperti biasa.
“Amanda?”
Suara itu langsung masuk.
Menenangkan.
Sedikit.
—
Amanda tidak langsung menjawab.
Ia berjalan.
Bolak-balik.
Napasnya cepat.
“Hey… slow down. What’s happening?”
Amanda mencoba bicara.
Terpotong.
“Aku… aku nggak tahu… rasanya… aneh…”
“Okay. Look at me.”
Suara dokter itu tetap tenang.
“Amanda, lihat saya.”