Kekasih Untuk Suamiku

Bramanditya
Chapter #9

Hal-Hal yang Tidak Bisa Ditulis Dengan Jujur


Hujan belum berhenti sejak sore.

Rintiknya turun pelan membasahi kaca-kaca besar café di lantai bawah. Lampu jalan di luar tampak buram, seperti dunia sedang dilihat dari mata seseorang yang terlalu lelah menangis.

Malam sudah lewat pukul sebelas.

Dan café itu akhirnya sepi.

Hanya tersisa suara mesin pendingin ruangan, sesekali denting sendok dari dapur belakang, dan langkah kecil karyawan terakhir yang berpamitan pulang.

“Duluan Mas Rama…”

“Iya. Hati-hati.”

Pintu ditutup.

Lalu sunyi kembali mengambil alih semuanya.

Di lantai atas—

Rama duduk sendiri di ruang kerjanya.

Lampu ruangan sengaja tidak dinyalakan penuh. Hanya lampu meja kecil di samping laptop yang menyisakan cahaya kekuningan.

Cukup untuk membuat malam terasa lebih hangat.

Atau mungkin lebih sepi.

Entahlah.

Satu email masih terbuka di layar.

Pendek.

Sangat pendek.

Namun sejak satu jam lalu, Rama belum berhasil membalasnya.

Matanya menatap layar itu lama sekali.

Seolah semakin lama ia melihatnya, kalimat-kalimat baru akan muncul dengan sendirinya.

Namun tidak ada apa-apa.

Hanya itu.

Email

Subjek

Re: Penyebar Aib 😂

Ana... Kamu baik-baik saja.

Amanda

Kalimat sederhana.

Tetapi justru itu yang membuat dada Rama terasa sesak.

Tidak ada candaan.

Tidak ada cerita panjang.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada ocehan Amanda seperti biasanya.

Dan itu jauh lebih menakutkan.

Rama menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Mengusap wajahnya pelan.

Lelah.

Beberapa hari terakhir ia merasa seperti berjalan di lorong panjang tanpa tahu ujungnya di mana.

Setiap email yang datang dari Amanda membuatnya semakin sadar—

ia tidak akan bisa terus menjadi Ana.

Tangannya bergerak pelan meraih bingkai foto di sudut meja.

Foto itu sudah ada di sana sejak café ini pertama kali buka. Cabang kedua.

Ana tersenyum di dalam foto itu.

Memakai sweater krem kesayangannya sambil memegang secangkir kopi.

Foto candid.

Rama mengambilnya diam-diam waktu Ana sedang mengomel karena latte art barista mereka jelek.

“Mas, orang lagi ngomel jangan difoto.”

“Cakep.”

“Halah.”

Dan Ana langsung tertawa sendiri.

Rama menatap foto itu lama.

Sangat lama.

Sampai akhirnya ia menghela napas pelan.

“Kenapa sih…”

gumamnya lirih.

“kenapa kamu ninggalin permintaan yang bahkan aku tahu pasti gagal…”

Hening.

Tidak ada yang menjawab.

Lihat selengkapnya