Pagi belum sepenuhnya datang ketika Amanda sudah berada di tengah hutan.
Kabut tipis menggantung rendah di antara pepohonan Amazon yang menjulang seperti tiang-tiang raksasa tua. Udara lembap menempel di kulit. Bau tanah basah bercampur dedaunan membusuk memenuhi paru-paru setiap kali bernapas.
Suara serangga bersahutan dari segala arah.
Tidak pernah benar-benar sunyi di hutan seperti ini.
Bahkan diam pun punya suara.
—
Amanda berjongkok di balik semak besar.
Tubuhnya nyaris menyatu dengan warna hutan.
Jaket lapangan hijau gelap. Celana cargo penuh lumpur. Rambut pendeknya disembunyikan di balik topi lusuh yang warnanya mulai pudar dimakan hujan dan matahari.
Di tangannya—
kamera besar dengan lensa panjang mengarah ke kejauhan.
Pelan.
Sangat pelan.
Ia mengatur fokus.
Klik.
Klik.
Klik.
Cahaya pagi menembus sela pepohonan, jatuh di atas aliran sungai yang berubah keruh kecokelatan.
Bukan karena hujan.
Melainkan limbah.
—
Di seberang sana—
beberapa mesin tambang ilegal bekerja kasar membelah tubuh hutan.
Pohon-pohon tumbang seperti mayat yang dibiarkan begitu saja.
Suara mesin menderu memecah alam.
Dan di antara lumpur serta suara logam itu—
lelaki-lelaki bersenjata bergerak hilir mudik menjaga area tambang.
Amanda memotret lagi.
Tangannya stabil.
Tatapannya tenang.
Padahal beberapa tahun lalu—
situasi seperti ini bisa membuat napasnya berantakan.
Tangannya gemetar.
Kepalanya penuh suara.
Namun pagi itu—
ia hanya fokus pada cahaya.
Sudut gambar.
Dan bukti.
—
“Got it?”
suara pelan terdengar dari headset kecil di telinganya.
Mark.
Amanda menekan tombol kecil di samping alat komunikasi.
“Almost.”
Logat Inggrisnya terdengar ringan.
Matanya masih menempel di viewfinder kamera.
“Dua menit lagi.”
—
Dari balik semak lain—
dua anggota tim dokumenter mereka berjaga.
Semua memakai pakaian lapangan yang kusam agar tidak terlalu mencolok.
Mereka sudah berada di wilayah Madre de Dios, Peru selama hampir seminggu.
Dan ini titik paling berbahaya sejauh ini.
Tambang emas ilegal.
Salah satu luka terbesar Amazon.
—
Amanda menggeser posisi sedikit.
Mengambil beberapa frame terakhir.
Seorang pekerja menuangkan cairan merkuri ke air.
Klik.
Sungai cokelat tercemar.
Klik.
Batang pohon raksasa yang ditebang.
Klik.
Seorang anak kecil berjalan tanpa alas kaki di lumpur tambang.
Amanda berhenti sebentar.
Matanya menatap anak itu cukup lama.
Lalu—
klik.
—
“Mand—”
Suara Mark tiba-tiba berubah tegang.
“Someone’s moving.”
Amanda langsung mengangkat kepala.
Daun-daun bergerak di kejauhan.
Cepat.
Terlalu cepat untuk angin.
—
“Shit.”
Amanda segera menurunkan kameranya.
“Move.”
—
Semua berubah kacau dalam hitungan detik.
Suara teriakan terdengar dari arah tambang.
Bahasa Spanyol kasar menggema di antara pepohonan.
“¡Allí! ¡Allí!”
Mereka ketahuan.
—
Amanda langsung berlari.
Ransel besar di punggungnya menghantam tubuhnya setiap langkah.
Akar-akar pohon membuat tanah licin.
Cabang-cabang kecil mencambuk wajah dan tangan mereka saat menerobos semak.
Di belakang—
suara langkah mengejar semakin dekat.
Mark berlari di samping Amanda.
“Faster!”
“Aku juga tahu!” balas Amanda terengah.
—
Napas mereka memburu.
Jantung menghantam dada keras.
Namun anehnya—
Amanda tidak panik.
Tidak seperti dulu.
Tidak ada suara-suara berisik di kepalanya.
Tidak ada gelombang sesak yang membuat tubuhnya lumpuh.
Ia hanya fokus: lari. belok. bertahan.
—
Sampai akhirnya—
empat lelaki bersenjata muncul dari arah depan.
Amanda berhenti mendadak.
Mark ikut berhenti.
Terlambat.
—
Mereka terkepung.
—
Suasana langsung membeku.
Salah satu pria mendekat kasar.
Mendorong bahu Mark hingga hampir jatuh.
Yang lain merebut kamera Amanda.
“Tsk…”
Amanda menahan napas kecil.
Namun wajahnya tetap tenang.
—
Pria itu memeriksa kamera dengan kasar.
Membuka galeri.
Menggeser foto satu per satu.
Lalu merampas tas mereka.
Memory card.
Hard drive.
Semua diperiksa.
—
Mark tampak mulai panik.
Salah satu anggota tim lain bahkan berkeringat dingin.
Namun Amanda hanya berdiri diam.
Matanya memperhatikan setiap gerakan mereka.
Tenang.
Aneh sekali.
Padahal ancaman seperti ini dulu bisa membuatnya tidak tidur berhari-hari.
—
Salah satu pria mendekat ke wajah Amanda.
Berbicara cepat dalam bahasa Spanyol yang kasar.