Kekasih Untuk Suamiku

Bramanditya
Chapter #11

Musim Gugur di New York


New York sedang memasuki musim gugur.

Malam turun lebih cepat beberapa minggu terakhir.

Udara dingin mulai merayap di sela-sela jendela apartemen, menyusup masuk bersama suara samar sirene dan desir kendaraan dari jalanan Manhattan yang tidak pernah benar-benar tidur.

Dari jendela besar apartemennya di lantai dua puluh tiga, Amanda bisa melihat daun-daun kecokelatan berjatuhan di trotoar basah.

Orang-orang berjalan cepat dengan mantel tebal.

Lampu toko memantul di jalanan setelah hujan sore tadi.

Kota itu tetap hidup.

Tetap indah.

Tetap asing.

Amanda duduk di sofa ruang tengah apartemennya dengan selimut abu-abu menutupi sebagian kakinya.

Laptop terbuka di meja kecil depan sofa.

Wajah seorang pria paruh baya muncul di layar.

Dr. Ethan Miller.

Psikiater yang menangani Amanda hampir dua tahun terakhir.

“Jadi…”

Dokter itu membuka catatannya sambil tersenyum kecil.

“Tidak ada panic attack saat kejadian di Peru?”

Amanda menggeleng pelan.

“Tidak.”

“Dan saat mereka mengejar kalian?”

Amanda menarik napas pelan.

“Jantungku tetap berdebar.”

Ia tersenyum tipis.

“Kurasa itu normal.”

Dr. Ethan ikut tersenyum.

“Itu sangat normal.”

Amanda menunduk kecil.

Masih sulit baginya menerima bahwa dirinya mulai membaik.

Karena terlalu lama hidup bersama ketakutan membuat seseorang lupa bagaimana rasanya hidup dengan tenang.

“Aku bangga padamu, Amanda.”

Suara dokter itu lembut.

Tidak berlebihan.

Tidak seperti pujian kosong yang sering ia dengar dari orang-orang.

“Apa yang kamu lakukan di Amazon Peru…”

Dr. Ethan melepas kacamatanya sebentar.

“Itu progress besar.”

Amanda diam.

“Dua tahun lalu…”

Dokter itu membuka kembali catatannya.

“Kamu bahkan tidak bisa mendengar suara notifikasi telepon tanpa gemetar.”

Amanda tersenyum hambar.

Ia ingat masa itu.

Masa ketika dunia terasa terlalu berisik.

Terlalu cepat.

Terlalu ramai.

Notifikasi. Panggilan. Pesan masuk. Berita. Media sosial.

Semuanya seperti ribuan suara yang memukul kepalanya bersamaan.

Sampai akhirnya ia mulai takut membuka teleponnya sendiri.

Takut membaca namanya disebut orang.

Takut melihat dirinya hidup di internet.

“Aku rasa…”

Dr. Ethan melanjutkan pelan.

“Kamu sudah berjalan sangat jauh.”

Amanda memandang layar laptopnya.

Sorot matanya kosong beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

“Iya…”

Namun senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.

Dan Dr. Ethan menyadarinya.

“Ada sesuatu yang mengganggumu.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Amanda terdiam.

Jemarinya saling menggenggam pelan di atas lutut.

Di samping laptop—

layar ponselnya masih menyala redup.

Sebuah email terbuka di sana.

Pendek.

Sangat pendek.

Dan justru itu yang membuat Amanda gelisah selama berhari-hari.

Dear Amanda.

Aku disini baik baik saja,

Yang terpenting dirimu disana, menjaga diri dan memulihkan diri. Dan kembalilah saat kamu siap nanti.

Ana

Amanda sudah membaca email itu berkali-kali.

Terlalu banyak kali.

Mencari sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Karena Ana biasanya tidak seperti itu.

Ana akan menggoda.

Ana akan cerewet.

Ana akan menertawakan dirinya.

Ana akan bilang: “Jangan sok kuat di sana.”

Atau: “Jangan flirting sama bule-bule hutan ya.”

Atau apa pun.

Sesuatu yang hidup.

Sesuatu yang hangat.

Namun email itu terasa…

terlalu hati-hati.

Seperti seseorang sedang berjalan di atas pecahan kaca.

“Amanda?”

Suara Dr. Ethan menariknya kembali.

Amanda mengusap cepat sudut matanya.

Ia bahkan tidak sadar dirinya hampir menangis.

“Maaf.”

“Tidak perlu minta maaf.”

Hening sejenak.

New York di luar jendela tampak semakin dingin.

“Aku takut.”

Akhirnya Amanda bicara pelan.

Dan kalimat itu terdengar jauh lebih rapuh dibanding ancaman pembunuhan mana pun yang pernah ia hadapi di hutan.

Dokter Ethan tidak langsung menyela.

Memberi ruang.

Selalu begitu caranya.

“Aku merasa…”

Amanda menggigit bibir kecil.

“ada sesuatu yang tidak beres.”

Tentang Ana.

Kalimat itu tidak selesai keluar.

Namun keduanya sama-sama mengerti.

“Kapan terakhir kalian berbicara langsung?”

“Sudah lama.”

Amanda tertawa kecil tanpa humor.

“Dia selalu bilang sibuk.”

“Dan kamu percaya?”

Amanda terdiam.

Itulah masalahnya.

Lihat selengkapnya