Kekasih Untuk Suamiku

Bramanditya
Chapter #12

Kebenaran Yang Menyakitkan


Jogja menyambut Amanda dengan hujan kecil.

Bukan hujan deras.

Hanya gerimis tipis yang jatuh pelan di kaca taksi sejak ia keluar dari bandara.

Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah.

Udara malam terasa lembap. Hangat. Dan anehnya— terlalu akrab.

Sudah bertahun-tahun Amanda tinggal berpindah dari satu negara ke negara lain.

New York. Peru. Venezuela. Amazon. Alaska.

Namun hanya Jogja yang selalu berhasil membuat dadanya terasa penuh hanya karena bau hujan.

Amanda menyandarkan kepalanya ke jendela mobil.

Memandangi jalanan yang perlahan berubah semakin ia masuk ke kota.

Beberapa toko sudah tutup.

Warung angkringan masih ramai.

Motor lalu lalang membawa aroma knalpot dan kopi malam.

Samar-samar suara pengamen terdengar dari kejauhan.

Jogja masih seperti dulu.

Dan itu justru menyakitkan.

Karena Ana tidak ada di dalamnya.

“Langsung ke alamatnya, Mbak?”

Suara sopir taksi memecah lamunannya.

Amanda terdiam beberapa detik.

Tangannya menggenggam ponsel erat.

Alamat rumah Ana tersimpan jelas di sana.

Namun bibirnya sulit mengucapkannya.

“Muter dulu aja, Pak.”

Sopir itu melihatnya dari kaca tengah.

“Mau ke mana?”

Amanda menatap keluar jendela lagi.

Lama.

Seolah sedang mencari keberanian di antara lampu-lampu kota.

“Galeria dulu.”

Mobil kembali berjalan.

Hujan kecil masih turun.

Dan Amanda sadar— ia sedang menunda sesuatu.

Atau seseorang.

Legenda Cafe terlewati, Amanda tersenyum , mengingat kenangan yang muncul saat masa SMA dulu dengan Ana.

__

Galeria Mall masih berdiri di sana.

Lebih modern. Lebih terang. Lebih ramai.

Namun tetap terasa sama.

Amanda berdiri di trotoar depan mall sambil memeluk mantelnya rapat.

Angin malam menyentuh wajahnya pelan.

Tatapannya jatuh ke salah satu sisi bangunan.

Kosong.

Dan dadanya langsung terasa nyeri.

McDonald’s itu sudah tidak ada lagi.

Tempat yang dulu hampir menjadi markas tidak resmi anak-anak muda Jogja setiap malam Minggu.

Termasuk dirinya dan Ana.

Amanda tersenyum kecil.

Pahit.

“Kalau nanti aku nikah…”

Ana pernah berkata sambil memakan kentang goreng.

“…aku mau suamiku sabar.”

Amanda langsung tertawa keras waktu itu.

“Sabar kenapa?”

“Ngadepin aku.”

“Berarti kamu nyari malaikat, bukan manusia.”

Ana melempar tisu ke wajahnya.

Dan mereka tertawa terlalu keras sampai ditegur pegawai.

Amanda menunduk kecil.

Suara tawanya bersama Ana seperti masih tertinggal di sana.

Padahal bertahun-tahun sudah berlalu.

Lihat selengkapnya