“Ana…?”
Hujan jatuh pelan di luar café.
Rintiknya memantul di kaca-kaca jendela besar, mengaburkan cahaya lampu jalan yang remang. Malam terasa begitu sunyi sampai bunyi napas terdengar lebih jelas daripada biasanya.
Rama tidak menjawab.
Ia hanya berdiri mematung di dekat meja bar, menatap Amanda seperti seseorang yang akhirnya dipaksa menghadapi kenyataan yang selama ini ia tunda.
Lalu—
air mata itu jatuh.
Satu.
Pelan.
Dan itu sudah cukup menjawab semuanya.
—
Amanda tidak bergerak.
Tatapannya kosong beberapa detik.
Seolah otaknya menolak menerjemahkan apa yang baru saja ia lihat.
Tidak.
Tidak mungkin.
Dadanya terasa sesak mendadak.
Suara hujan seperti menjauh.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan sesaat.
—
Rama langsung berlari menangkap tubuh Amanda sebelum jatuh.
“Amanda…”
Tangannya menahan bahu perempuan itu hati-hati.
Amanda memejamkan mata rapat.
Napasnya mulai pendek.
Cepat.
Tangannya dingin.
—
“Duduk dulu…”
Suara Rama pelan.
Hampir gemetar.
Ia menuntun Amanda ke kursi dekat jendela café.
Amanda tidak melawan.
Tubuhnya terasa ringan. Kosong.
Seperti sebagian dirinya baru saja runtuh.
—
Rama segera pergi ke belakang bar.
Mengambil segelas air putih.
Tangannya sendiri gemetar saat menuangkan air.
—
Saat kembali—
Amanda sudah membuka tas hitamnya dengan buru-buru.
Tangannya tidak stabil.
Ia mengeluarkan botol kecil berisi obat.
Membuka tutupnya.
Beberapa pil jatuh ke telapak tangannya.
Amanda menatap pil-pil itu beberapa detik sebelum akhirnya mengambil satu.
Meminumnya cepat dengan air yang diberikan Rama.
Sisa pil dimasukkan kembali ke dalam tas.
Lalu Amanda menunduk.
Tangannya tidak berhenti bergerak.
Saling mencengkeram. Mengepal. Lepas lagi.
Sesekali jemarinya meremas gelang tipis yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Seolah benda kecil itu mampu menahan dirinya agar tidak benar-benar jatuh.
—
Rama diam memperhatikan.
Dadanya terasa sesak.
Karena untuk pertama kali— ia melihat sendiri bagaimana rapuhnya Amanda yang selama ini hanya ia kenal lewat email-email Ana.
Perempuan yang selalu terdengar kuat itu ternyata sedang berjuang keras hanya untuk tetap tenang.
—
Perlahan Rama meraih tangan Amanda.
Memegangnya lembut.
Tidak erat.
Tidak memaksa.
Hanya seperti seseorang yang berkata: aku di sini.
Amanda tidak menolak.
Matanya tetap menatap hujan di luar jendela.