Rumah itu akhirnya kembali sunyi.
Setelah tangis pecah di café kecil milik Rama, setelah pelukan, setelah pertanyaan-pertanyaan yang terlalu menyakitkan untuk dijawab, malam perlahan bergerak semakin larut di rumah keluarga Ana.
Hujan masih turun.
Tipis.
Dingin.
Seperti sesuatu yang belum selesai.
—
Amanda mengurung diri di kamar Ana.
Tidak ada yang melarang.
Tidak ada yang mencoba masuk.
Karena semua orang di rumah itu tahu: beberapa kehilangan memang harus dihadapi sendirian.
—
Di luar kamar, Ibu Ana duduk diam di ruang tengah sambil memegang tasbih kecilnya.
Matanya sembab.
Sesekali terdengar suara isaknya pecah pelan.
Bapak Ana duduk di sebelahnya tanpa bicara apa-apa. Lelaki tua itu tampak jauh lebih tua malam itu.
Sementara Sisca berdiri di dekat pintu rumah, memperhatikan Rama yang sedang mengenakan jaketnya.
“Mas…”
Rama menoleh.
“Pulang aja dulu. Istirahat.”
Rama mengangguk pelan.
Namun sebelum ia benar-benar pergi, Sisca mendekat.
Lalu membisikkan sesuatu.
“Ada satu draft di email Kak Ana.”
Rama mengernyit bingung.
“Kirim sekarang.”
Tatapan Rama berubah heran.
Sisca hanya tersenyum kecil.
Senyum lelah seseorang yang juga sedang menahan duka.
“Percaya deh.”
—
Di dalam mobil, Rama duduk beberapa saat tanpa menyalakan mesin.
Hujan memukul kaca depan perlahan.
Ia membuka ponselnya.
Masuk ke email Ana.
Mencari folder draft.
Dan benar.
Ada satu email yang belum pernah dikirim.
Ditujukan untuk: Amanda.
Jantung Rama berdetak sedikit lebih keras.
Entah kenapa ia takut membukanya.
Takut mendengar suara Ana lagi.
Takut merasa kehilangan untuk kedua kali.
Namun perlahan ia tetap membukanya.
Tatapannya membaca beberapa kata pertama.
Dan dadanya langsung sesak.
Itu Ana.
Sangat Ana.
Rama memejamkan mata sejenak.
Lalu— tanpa membaca lebih jauh, ia langsung menekan tombol send.
Email itu meluncur melintasi malam, menuju seseorang yang sedang mencoba bertahan hidup di kamar sahabatnya yang telah tiada.
—
Mobil Rama perlahan meninggalkan rumah itu.
Membelah hujan Jogja yang dingin.
Sementara di lantai dua, Amanda rebah di tempat tidur Ana.
Menatap langit-langit kamar.
Diam.
Lampu kamar hanya menyala redup dari sudut meja belajar.
Bau lembut parfum Ana masih tertinggal di udara.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.
—
Amanda memejamkan mata.
Lalu kenangan itu datang begitu saja.
—
Mereka masih SMA.
Masih terlalu muda untuk mengerti patah hati, namun merasa dunianya benar-benar berakhir karenanya.
Amanda rebah di kasur yang sama.
Masih dengan rambut cepaknya.
Masih memakai seragam sekolah yang belum diganti.
Tatapannya kosong ke langit-langit.
Sementara Ana duduk bersila di sampingnya sambil memakan keripik kentang.
“Kalau mau marah, marah aja.”
Amanda diam.
“Jangan dipendem terus. Nanti jadi penyakit.”
Amanda tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata datar,
“Harusnya aku mukul muka mereka berdua tadi.”
Ana mengangguk serius.
“Hmmm… iya mungkin.”
Amanda menoleh cepat.
“Kok malah dukung?”
Ana menahan tawa.
Amanda akhirnya ikut tertawa kecil.
Namun tak lama kemudian wajahnya kembali murung.
“Aku pikir dia bakal nerima aku yang model beginian.”
“Hah?”
“Aku juga bisa kali jadi cewek feminin.”