Dua hari kemudian, Amanda akhirnya datang ke pusara Ana.
Langit Jogja mendung sejak pagi.
Udara dingin masih menyisakan bekas hujan semalam.
Rumput-rumput di pemakaman tampak basah, sementara aroma tanah lembap naik bersama angin pelan yang bergerak di antara pepohonan.
Amanda berdiri diam di depan nisan itu.
Sudah cukup lama.
Namun tetap terasa tidak nyata.
Nama Ana tertulis di sana.
Tanggal lahir. Tanggal kematian.
Sederhana.
Dan menyakitkan.
—
Bapak Ana berdiri di samping istrinya sambil memayungi mereka.
Sisca diam beberapa langkah di belakang.
Sementara Rama berdiri sedikit jauh, memberi Amanda ruang untuk berbicara dengan kehilangan yang selama ini hanya ia kenal lewat ketakutan.
Amanda jongkok perlahan.
Tangannya menyentuh nisan dingin itu pelan.
Jemarinya gemetar kecil.
“Hai, An…”
Suaranya nyaris seperti bisikan.
Hening.
Hanya suara daun bergerak.
—
“Aku pulang.”
Kalimat sederhana itu justru terasa paling menghancurkan.
Karena baru sekarang Amanda benar-benar sadar: ia pulang untuk seseorang yang tidak akan lagi menyambutnya.
—
Air matanya jatuh pelan.
Namun kali ini Amanda tidak menangis keras.
Ia hanya duduk diam di depan pusara Ana cukup lama.
Seolah sedang mencoba menerima bahwa seseorang benar-benar bisa hilang dari dunia, namun tetap tinggal di begitu banyak tempat di hati manusia lain.
—
“Aku marah sama kamu.”
Amanda tertawa kecil sambil menghapus air matanya.
“Egois banget sih.”
Angin bergerak pelan.
Dan entah kenapa, Amanda merasa Ana pasti sedang tersenyum mendengar itu.
—
Beberapa saat kemudian mereka mulai meninggalkan pemakaman.
Bapak dan Ibu Ana pulang bersama Sisca.
Sementara Amanda dan Rama memilih berjalan berdua.
Awalnya canggung.
Mereka berjalan tanpa banyak bicara.
Hanya suara langkah kaki, angin, dan lalu lintas Jogja yang perlahan hidup menjelang siang.
Namun anehnya, kesunyian itu tidak terasa buruk.
—
Mobil Rama berhenti di depan Galeria Mall.
Amanda menatap bangunan itu cukup lama sebelum tersenyum kecil.
“Masih ada ternyata…”
Rama ikut tersenyum.
“Malah makin rame sekarang.”
Amanda tertawa kecil.
“Dulu aku sama Ana bisa seharian di sini.”
Mereka berjalan masuk.
Pendingin ruangan langsung menyambut tubuh mereka.
Amanda memperhatikan setiap sudut seperti seseorang yang sedang membuka album lama.
“Astaga…”
Ia menunjuk salah satu sudut.
“Dulu tempat situ toko kaset.”
“Sekarang jadi toko sepatu.”
Amanda menghela napas pelan.
“Sedih ya kalau tempat-tempat berubah.”
Rama menoleh sebentar.
“Atau mungkin kita yang terlalu lama pergi.”
Amanda diam.
Lalu tertawa kecil.
“Mungkin.”
—