Mobil Rama berhenti perlahan di depan sebuah rumah besar di kawasan elite Jogja.
Langit mulai mendung lagi.
Udara sore terasa lembap setelah hujan siang tadi, menyisakan aroma tanah basah dan dedaunan.
Amanda terdiam cukup lama di dalam mobil.
Menatap gerbang hitam tinggi di hadapannya.
Rumah itu masih sama.
Megah. Tenang. Dingin.
Seperti ingatan yang belum selesai.
—
Rama mematikan mesin mobil.
Hening beberapa detik.
Amanda menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil tanpa benar-benar terlihat tenang.
“Terima kasih ya, Mas… udah mau nemenin.”
Rama menoleh dan membalas senyumnya tipis.
“Iya.”
Mereka turun dari mobil.
Langkah Amanda melambat begitu berdiri tepat di depan gerbang rumah itu.
Rumah besar dua lantai dengan taman luas dan pohon-pohon tua yang menjulang tinggi di halaman.
Kolam kecil di samping rumah masih ada.
Lampu-lampu taman mulai menyala pelan menjelang petang.
Indah.
Dan terasa asing bagi Amanda.
—
Rama menatap rumah itu sambil bersiul kecil.
“Kalau aku tinggal di rumah sebesar ini…”
Ia tertawa kecil.
“…kayaknya aku nggak bakal keluar rumah lagi.”
Amanda tersenyum tipis.
Namun matanya tetap menatap rumah itu lama sekali.
“Jangan percaya tampilan luarnya, Mas.”
Rama menoleh.
Amanda tersenyum kecil pahit.
“Di dalamnya banyak kebohongan dan kepalsuan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Pelan. Namun berat.
—
Angin bergerak pelan.
Amanda menunduk sebentar sebelum akhirnya berkata lirih,
“Kira-kira mereka masih mau nerima aku nggak ya…”
Rama diam mendengarkan.
“Terutama Ayah.”
Hening.
Rama memasukkan kedua tangannya ke saku jaket.
“Kenapa memangnya?”
Amanda tertawa kecil, namun tidak benar-benar terdengar seperti tawa.
“Karena aku anak durhaka mungkin.”
Rama mengernyit.
“Segitunya?”
Amanda mengangguk pelan.
“Aku bohong besar sama mereka.”
Rama menatap Amanda penuh tanya.
Dan untuk beberapa detik, Amanda hanya diam memandangi gerbang rumah itu seperti sedang melihat masa lalunya sendiri berdiri di sana.
—
“Ayah pengin aku kuliah International Business.”
Amanda tertawa kecil.
“Katanya biar nanti bisa nerusin perusahaan keluarga.”
“Terus?”
“Aku bilang iya.”
Rama mengangguk kecil.
“Tapi ternyata nggak?”
Amanda menggeleng sambil tersenyum tipis.
“Begitu mereka transfer semua biaya kuliah dan uang hidup…”
Ia berhenti sebentar.
“…aku ambil jurusan Visual Communication Design.”
Rama terdiam.
Amanda melanjutkan pelan.
“Aku dapet beasiswa penuh di sana. Jadi uang dari mereka malah nggak kepake buat kuliah.”
“Terus uangnya?”
Amanda tersenyum kecil.
“Buat beli kamera pertamaku.”
Rama spontan tertawa kecil.
“Wah. Nekat juga ya.”
Amanda ikut tertawa lirih.
“Parah.”
Namun tawanya perlahan hilang.
“Ayah marah besar waktu tahu.”
Amanda menatap lurus ke depan.
“Dan sejak itu… kami hampir nggak pernah benar-benar bicara lagi.”
Hening.
Untuk pertama kalinya, Rama mulai benar-benar mengerti sesuatu.
Bahwa Amanda selama ini hidup sendirian lebih lama dari yang ia kira.
—
Tiba-tiba terdengar suara mesin kecil dari samping gerbang.
Klik.
Gerbang besar itu perlahan terbuka otomatis.
Dan sesosok wanita sekitar enam puluh tahun keluar tergesa-gesa dari dalam.
Begitu melihat Amanda—
wanita itu membeku.
Matanya membesar.
Tangannya langsung menutup mulut sendiri.
“Non Amanda…?”
Suaranya bergetar.
Amanda juga membeku beberapa detik.
Lalu tiba-tiba tersenyum lebar seperti anak kecil.
“Mbak Yuli…”
Wanita itu langsung berjalan cepat menghampiri Amanda.
Mereka berpelukan erat.
Dan mendadak semua jarak bertahun-tahun itu runtuh begitu saja.
“Astaga Non…”
Mbak Yuli mengusap lengan Amanda berkali-kali seperti memastikan Amanda benar-benar ada.
“Kok lama banget nggak pulang…”
Amanda tertawa kecil sambil menahan air mata.
“Iya mbak…”
“Kurus banget ya ampun…”