Kekasih Untuk Suamiku

Bramanditya
Chapter #17

Luka yang Perlahan Pulang


Malam turun perlahan di rumah masa tua itu.

Lampu-lampu taman menyala hangat di antara pohon-pohon tua yang bergerak pelan diterpa angin.

Udara Jogja terasa dingin setelah hujan.

Amanda duduk di sebuah bangku kayu panjang bersama Pak Effendi.

Tidak terlalu dekat.

Namun juga tidak lagi sejauh dulu.

Sementara beberapa meter dari mereka, Rama duduk menggantikan Pak Effendi bermain catur dengan dua orang lansia lain.

Sesekali Rama terlihat tertawa kecil, sesekali menggaruk kepala karena salah langkah.

Dan itu cukup membuat Amanda tersenyum tipis.

“Mas Rama ternyata gampang dibohongi ya.”

Pak Effendi tiba-tiba berkomentar sambil memperhatikan papan catur dari jauh.

Amanda menoleh.

“Hm?”

Pak Effendi menunjuk Rama kecil dengan dagunya.

“Baru lima menit main, sudah dua kali kena jebakan.”

Amanda tertawa kecil.

Suara tawanya pelan.

Namun cukup untuk membuat malam terasa sedikit lebih hidup.

“Ayah juga dulu sering kalah sama aku.”

Pak Effendi mengangguk kecil.

“Kamu curang.”

Amanda membelalak tidak terima.

“Heh…”

Pak Effendi tersenyum tipis.

Dan Amanda mendadak sadar: ia sudah lama sekali tidak melihat ayahnya tersenyum seperti itu.

Hening datang lagi.

Namun kali ini tidak terasa canggung.

Justru seperti dua orang yang perlahan belajar kembali mengenal satu sama lain.

“Jantung Ayah sekarang gimana?”

Pak Effendi menghela napas pendek.

“Lumayan.”

“Masih bandel makan gorengan?”

Pak Effendi melirik Amanda.

“Kamu baru datang sudah ceramah.”

Amanda tersenyum kecil.

“Aku serius.”

Pak Effendi tertawa pelan.

“Sudah dikurangin.”

Amanda mengangguk.

Dan untuk beberapa saat, mereka hanya duduk memandangi taman.

Seorang perawat datang mendekat sambil membawa sesuatu.

“Pak Effendi…”

Wanita itu menyerahkan sebuah bingkai foto kecil.

“Tadi selesai dibersihkan.”

Pak Effendi mengangguk kecil.

“Terima kasih.”

Perawat itu pergi lagi.

Amanda menoleh penasaran.

Dan begitu melihat foto di dalam bingkai itu— ia membeku.

Foto seekor burung kecil berdiri di ujung tiang dermaga saat hujan.

Laut tampak abu-abu.

Langit nyaris gelap.

Namun burung kecil itu tetap diam di sana, seolah tahu badai akan lewat cepat atau lambat.

Kecil. Rapuh. Tapi bertahan.

Seperti seseorang yang diam-diam sedang belajar hidup sendirian.

Amanda langsung mengenali foto itu.

Karena itu adalah: foto pertamanya yang diambil Amanda saat awal kuliah. Dan beberapa bulan kemudian dimuat di National Geographic Asia.

Tangannya perlahan menyentuh bingkai itu.

“Ayah…”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Amanda menunduk.

Dadanya terasa sesak.

“Ayah masih nyimpen ini?”

Pak Effendi mengangguk pelan.

Lihat selengkapnya