Malam di Jogja turun perlahan.
Udara dingin masih membawa sisa hujan.
Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang basah, membuat kota itu terlihat sendu dan tenang sekaligus.
Rama berdiri di depan mobil sebelum Amanda masuk.
Pak Effendi ikut berdiri di samping mereka.
Lelaki tua itu tampak lebih segar dibanding beberapa jam lalu. Mungkin karena akhirnya ada seseorang yang kembali pulang.
Pak Effendi menjabat tangan Rama hangat.
“Terima kasih ya, Mas Rama.”
Rama mengangguk kecil.
“Iya Pak.”
Pak Effendi terdiam sesaat.
Sorot matanya berubah lembut.
“Dan…”
Ia menarik napas pelan.
“…saya juga ikut berduka untuk Ana.”
Rama langsung terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa, tetap terasa menghantam.
Pak Effendi menepuk pelan punggung tangan Rama.
“Saya nggak sempat mengenalnya lama.”
“Tapi Amanda sangat menyayanginya.”
Hening sejenak.
“Berarti Ana memang perempuan yang baik.”
Rama menunduk kecil sambil tersenyum tipis.
Matanya mulai basah.
“Iya, Pak…”
Suara Rama nyaris hilang.
“…dia baik sekali.”
Pak Effendi mengangguk perlahan.
“Terima kasih juga sudah nemenin Amanda.”
Rama tersenyum kecil.
“Iya Pak.”
Pak Effendi mengangguk pelan.
Lalu sebelum Rama melepas tangannya, lelaki tua itu berkata pelan,
“Tolong jagain Amanda.”
Amanda langsung menoleh cepat.
“Yah…”
Nada suaranya campuran malu dan protes.
Rama ikut sedikit kikuk.
“Pak…”
Namun Pak Effendi hanya tersenyum tipis, seolah tidak merasa mengatakan sesuatu yang aneh.
“Dia kelihatannya kuat.”
Pak Effendi melirik Amanda sekilas.
“Padahal nggak juga.”
Amanda menghela napas panjang malu.
“Yah…”
Pak Effendi tertawa kecil.
“Udah sana.”
—
Sepanjang perjalanan pulang, Amanda lebih banyak diam sambil menatap keluar jendela.
Sementara Rama sesekali meliriknya.
Namun tidak mengganggu pikirannya.
Ada ketenangan aneh di dalam mobil itu.
Bukan sunyi yang canggung.
Lebih seperti dua orang yang akhirnya tidak lagi harus pura-pura kuat di depan satu sama lain.
—
Saat mereka tiba di café, tempat itu sudah hampir kosong.
Kursi-kursi mulai ditumpuk.
Lampu sebagian dimatikan.
Hanya tersisa beberapa pegawai yang sedang membereskan dapur dan kasir.
Amanda duduk di salah satu kursi dekat jendela, membuka laptopnya perlahan.
Rama menghampiri sambil melepas jaket tipisnya.
“Aku bisa anter kamu pulang dulu.”
Amanda menggeleng kecil.
“Nggak apa-apa.”
Rama menatapnya.
“Aku masih lama closing-nya.”
Amanda tersenyum kecil.
“Aku temenin aja.”
“Bosen nanti.”
Amanda melirik sekitar café.
“Lumayan. Jarang lihat café tutup.”
Rama tertawa kecil.
“Aneh juga alasanmu.”
Amanda ikut tersenyum.
Dan entah kenapa, Rama tidak memaksa lagi.
—
Beberapa menit kemudian, Rama datang membawa secangkir kopi hangat.
Ia meletakkannya di depan Amanda.
“Hati-hati panas.”
Amanda melihat cangkir itu lalu menatap Rama.
“Mas Rama…”
“Hm?”