Kekasih Untuk Suamiku

Bramanditya
Chapter #19

Kekasih Untuk Suamiku


Pagi itu langit Jogja berwarna abu-abu.

Sisa hujan semalam masih meninggalkan embun di rumput-rumput kecil yang tumbuh di antara batu nisan.

Pemakaman terlihat sepi.

Hanya ada tiga orang yang berdiri di sana.

Rama.

Sisca.

Dan Amanda.

Amanda berjongkok di depan pusara Ana.

Di tangannya ada botol air mineral dan sebungkus bunga tabur.

Pelan-pelan ia menyiramkan air ke atas makam sahabatnya.

Lalu menaburkan bunga.

Tangannya bergerak hati-hati.

Seolah takut mengganggu seseorang yang sedang tidur.

Hening.

Angin pagi berembus pelan.

Amanda tersenyum kecil.

Matanya mulai basah.

"An..."

Suaranya lirih.

"Aku pulang dulu ya."

Ia menunduk.

Mengusap batu nisan itu perlahan.

"Nanti kalau aku balik lagi ke Jogja..."

Amanda tersenyum tipis.

"...aku datang lagi ke sini."

Air matanya akhirnya jatuh.

"Tenang dan bahagia di sana ya, An."

Tidak ada jawaban.

Hanya angin yang bergerak pelan di antara pepohonan.

Namun entah kenapa Amanda merasa Ana mendengarnya.

Dari kejauhan Rama menundukkan kepala.

Sisca menghapus air matanya diam-diam.

Tak ada satu pun dari mereka yang mencoba menghibur.

Karena beberapa kesedihan memang harus dilewati sendiri.


---

Perjalanan menuju bandara dipenuhi keheningan.

Amanda duduk di kursi depan.

Rama menyetir.

Sisca duduk di belakang.

Jalanan Jogja bergerak perlahan di luar jendela.

Malioboro.

Tugu.

Lampu-lampu toko.

Sudut-sudut kota yang seminggu terakhir mereka telusuri bersama.

Amanda menatap keluar jendela.

Lalu membuka tasnya.

Mengeluarkan sebuah botol kecil obat.

Ia mengambil satu butir.

Meminumnya dengan air mineral.

Rama sempat melirik dari kaca tengah.

Sedikit terkejut.

"Kamu masih minum obat?"

Amanda tersenyum kecil.

"Iya."

Rama mengangguk pelan.

Tidak bertanya lebih jauh.

Namun Amanda memahami pertanyaan yang tidak diucapkan itu.

"Bipolar itu nggak benar-benar hilang, Mas."

Rama menoleh sekilas.

Amanda tersenyum.

Tenang.

Tidak sedih.

Tidak malu.

Seolah sedang menceritakan cuaca.

"Aku cuma belajar hidup bersamanya."

Hening.

Amanda menatap jalanan di depan.

"Bipolar itu tidak benar-benar pergi."

Senyumnya tetap ada.

"Aku hanya belajar mengenali kapan ia mengetuk pintu, dan kapan aku harus meminta bantuan sebelum ia masuk."

Rama tersenyum kecil.

Lalu mengangguk.

"Aku senang dengarnya."

Amanda membalas senyum itu.

Di kursi belakang, Sisca memperhatikan mereka diam-diam.

Lalu tersenyum sendiri.

Seolah teringat sesuatu yang sudah lama tersimpan.


---

Bandara selalu memiliki suasana yang aneh.

Ada orang-orang yang datang.

Ada orang-orang yang pergi.

Lihat selengkapnya