Hujan turun tipis di Jogja sore itu.
Rama berdiri cukup lama di depan rumah yang pernah menjadi tempat paling membahagiakan sekaligus paling menyakitkan dalam hidupnya.
Rumah itu masih sama.
Pagar putih.
Pot-pot bunga di teras.
Jendela besar yang menghadap taman kecil.
Tidak ada yang berubah.
Kecuali orang yang pernah menghidupkan rumah itu.
Rama menarik napas panjang.
Lalu membuka pintu.
Rumah itu menyambutnya dengan keheningan.
Perlahan ia berjalan.
Menyentuh sandaran sofa.
Meja makan.
Rak buku.
Bingkai-bingkai foto yang masih berdiri di tempatnya.
Di sudut ruang keluarga masih ada cangkir favorit Ana.
Entah kenapa tidak ada seorang pun yang pernah memindahkannya.
Rama tersenyum tipis.
Matanya mulai basah.
Ia berjalan menuju kamar.
Membuka pintu perlahan.
Kamar itu masih menyimpan jejak-jejak Ana.
Selimut yang pernah mereka gunakan.
Buku-buku yang belum selesai dibaca.
Foto-foto kecil yang ditempel di dekat meja belajar.
Rama duduk di tepi ranjang.
Lama.
Sangat lama.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan...
ia membiarkan dirinya merindukan Ana tanpa melawan perasaan itu.
Air mata jatuh perlahan.
Tidak ada tangisan keras.
Tidak ada isak.
Hanya seorang laki-laki yang akhirnya menerima bahwa seseorang yang ia cintai tidak akan pernah kembali.
Namun bukan berarti hilang.
Ana akan tetap ada.
Dalam kenangan.
Dalam cerita.
Dalam orang-orang yang pernah ia cintai.
Rama bangkit berdiri.
Lalu berjalan menuju jendela.
Membuka satu.
Kemudian satu lagi.
Dan satu lagi.
Cahaya sore masuk perlahan ke dalam rumah.
Menyentuh lantai.
Dinding.
Foto-foto.
Sudut-sudut yang selama ini gelap.
Rama tersenyum kecil.
"Selamat jalan, Na."
Angin sore berembus masuk.
Membawa aroma tanah setelah hujan.