Di balik kaca etalase warung, ada sepiring ayam goreng krispi yang masih mengepulkan uap. Aku baru saja menghitung empat dari tumpukan ayam goreng krispi itu ketika Mbak Firsta, yang sejak tadi berdiri di belakangku, bertanya, “Kamu mau pakai lauk ayam?”
Aku menggeleng. Aku tidak suka ayam goreng krispi, atau ayam goreng kecap, atau ayam goreng saja, atau lauk apa pun yang serba ayam. Ibu bilang ayam itu rasanya pahit dan harganya mahal. Ibu tidak pernah membeli makanan dengan harga mahal, karena Ibu tidak punya uang. Jadi, kata Ibu aku tidak perlu suka dengan ayam, atau mencicipi ayam. Soalnya nanti pasti tidak akan kuhabiskan karena saking tidak enaknya.
Daripada ayam krispi, aku lebih suka makan telur. Telur itu enak. Rasanya gurih dan sedikit manis. Setiap kali Ibu menggorengkan telur untukku, Ibu selalu memberinya lada sedikit, jadi ada tambahan rasa pedas yang menurutku membuat rasanya semakin enak. Ibu bilang telur itu makanan bergizi yang murah. Semua orang suka telur. Ibu membiasakanku makan telur, dan jarang cerewet kalau aku minta makan telur, tidak seperti saat aku minta makan selain telur seperti mencoba mencicipi rasa ayam goreng, atau rendang yang katanya jadi makanan paling enak nomor satu di dunia (Mbak Firsta yang bilang), atau bahkan sate (itu sebelum aku tahu kalau sate ternyata dibuat dari ayam). Pokoknya Ibu selalu tidak suka kalau aku minta lauk aneh-aneh (aku menyangka aneh yang dimaksud Ibu adalah “mahal”. Ibu tidak suka beli makanan mahal).
Jadi, aku lebih terbiasa untuk makan apa yang biasa kumakan, karena rasanya pasti sudah jelas enak. Seperti telur di warung dekat sekolahan ini, tempat aku biasa membeli nasi bungkus bersama Mbak Firsta. Kulihat ada beberapa macam telur di etalase. Ada telur dadar, telur bulat-bulat pakai kuah kuning, dan telur mata sapi. Aku lebih suka telur dadar karena rasanya paling dekat dengan rasa telur buatan Ibu, jadi aku menunjuk telur dadar itu sambil bilang pada Mbak Firsta, “Aku mau telur, Mbak.”
“Telur lagi? Oke."
Setelah memberikan uang pada penjual nasi, Mbak Firsta menggandengku pulang. Kami hanya membeli satu bungkus nasi. Nantinya nasi itu akan dibagi untuk tiga orang; yaitu aku, Mbak Firsta, dan Ibu. Kami biasa membeli satu bungkus nasi untuk tiga orang. Kata Ibu, tidak perlu khawatir aku akan mendapatkan porsi sedikit, karena biasanya Ibu akan mengurangi porsinya sendiri supaya Mbak Firsta dan aku bisa makan lebih banyak. Ibu memang tidak banyak makan. Dia lebih suka minum air, walau kadang air membuat perutnya kembung. Tapi Ibu bilang kembung membuatnya tidak nafsu makan lagi, jadi Ibu bisa memberikan bagian nasi lebih banyak pada kami. Sebab kata Ibu, yang harus makan banyak adalah Mbak Firsta dan aku. Mbak Firsta butuh banyak gizi karena dia bersekolah di SMP. Sementara aku butuh gizi supaya cepat tumbuh tinggi.
Ibuku adalah seorang penjaga toko kelontong. Setiap hari dia menjaga toko milik tetangga kami yang jaraknya tidak sampai lima menit kalau berjalan kaki dari rumah (lagi-lagi Mbak Firsta yang menghitungkan jarak itu supaya aku bisa membayangkannya). Uang Ibu sedikit, itulah yang sering Ibu bilang padaku berkali-kali. Kata Ibu, kami juga tidak boleh kebanyakan beli-beli agar bisa menabung untuk biaya masuk SD-ku tahun depan. Makanya kami makan nasi dibagi tiga. Aku pernah menanyakan ini pada Ibu. Tentang mengapa aku harus bersekolah. Mengapa aku tidak diajari membaca dan menulis saja di rumah seperti yang biasa Ibu lakukan tiap malam. Soalnya kurasa aku tidak akan suka sekolah. Aku benci bangun pagi lalu mandi air dingin seperti yang Mbak Firsta lakukan setiap hari. Aku benci pakai seragam dan kaos kaki dan sepatu. Tapi Ibu memaksaku harus bersekolah. Katanya ini demi masa depan.
“Ya, supaya kamu nanti jadi perempuan pintar, Lana. Supaya kamu nggak jadi kayak Ibu yang cuma lulusan SD.” Ibu pernah bilang seperti itu padaku, saat aku menanyainya di tempat tidur malam-malam.