Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #2

Pacar Baru Ibu

Suatu hari, aku melihat Mbak Firsta sedang menghitung lembaran uang di dalam toples bekas biskuit. Begitu melihatku masuk kamar, Mbak Firsta langsung terkejut. Mungkin, dikiranya aku hantu. Jadi, aku cengar-cengir menertawakannya.

“Hush, tutup pintu, cepet!” kata Mbak Firsta.

Aku langsung mematuhinya karena wajah Mbak Firsta seperti orang marah. Apa aku berbuat salah? Langsung saja aku merasa menyesal karena sudah menertawainya.

“Itu uangmu, Mbak?” Aku bertanya takut-takut. Aku tidak suka melihat Mbak Firsta marah, karena sekalinya marah dia tampak menyeramkan. Dia suka membanting-banting barang sambil berteriak dan menangis keras sekali, mengalahkan aku kalau sedang kesal. Padahal dia sudah besar. Sudah kelas 2 SMP.

“Jangan bilang Ibu, ya. Anggap aja kamu nggak tahu isinya apa.”

Mbak Firsta memasukkan kembali uangnya ke dalam toples, lalu mendorongnya jauh-jauh ke kolong kasur. Aku hanya diam dan sedikit bingung. Aku sih tidak akan bilang Ibu, tapi seandainya Ibu menemukan toples itu dan bertanya padaku apa isi di dalamnya, aku tidak yakin apakah aku bisa berbohong. Ibu mengajariku untuk tidak berbohong. Dan di sini, aku melihat Mbak Firsta melakukan sesuatu yang dia ingin Ibu tidak tahu. Dan Mbak Firsta ingin agar aku pura-pura tidak tahu juga isinya. Siapa yang harus kuturuti perintahnya? Mereka berdua sama-sama lebih dewasa dariku.

“Kenapa, Mbak?” Akhirnya aku tidak tahan untuk bertanya.

Mbak Firsta melambaikan tangan menyuruhku mendekat. Lagi-lagi, aku menurutinya. Dia menjawab pertanyaanku dengan suara lirih.

“Itu uang buat beli hape. Setelah rapotan nanti, Mbak mau beli hape.”

“Hape?”

Mbak Firsta memang pernah bilang pada Ibu bahwa dia butuh hape, tapi itu dulu, waktu Mbak Firsta masih kelas 1 SMP. Seingatku Ibu bilang “iya”, tapi hape itu belum dibelikan juga sampai sekarang. Aku tidak tahu kenapa. Tapi kurasa jawabannya tentu saja karena Ibu tidak punya uang. Memang apa lagi? Ibu kan suka mengeluh tidak punya uang.

“Iya, hape. Aku kan butuh buat sekolah. Buat ngerjain tugas. Buat ngobrol sama temen-temen. Masak di kelas cuma aku aja yang belum punya hape.”

“Oh,” aku mengangguk. “Kalau udah SMP harus punya hape, ya?”

“Iya, karena zaman sekarang hape itu penting banget.” Lalu Mbak Firsta melambaikan tangan di depan mukaku. “Ah, nanti kamu juga bakal paham maksudku. Yang penting kamu jangan bilang Ibu, ya. Awas kalau bilang!”

Lihat selengkapnya