Aku sering mendengar kata “pacar”, tapi aku tidak benar-benar tahu artinya. Dulu saat awal mendengarnya, kukira pacar itu seperti “acar” yang kadang-kadang dimakan Ibu. Potongan timun yang rasanya kecuuut sekali. Tapi, kemudian aku sadar “pacar” punya arti lain. Karena setiap kali Mbak Firsta mengobrol tentang “pacar” bersama teman sekolahnya di rumah (waktu itu teman-temannya lagi main di sini), Mbak Firsta tertawa-tawa. Jadi, aku mengira “pacar” adalah sebuah kata yang lucu.
Tapi sekarang, saat Mbak Firsta bilang “Ibu punya pacar”, dia tidak tertawa.
Berarti “pacar” bukan kata yang lucu.
“Apa itu pacar?” tanyaku.
Mbak Firsta tidak menjawab. Dia kembali mengintip Ibu lewat pintu kamar. Wajah Mbak Firsta kelihatan beda. Aku tidak yakin itu wajah orang yang terlihat senang ataupun merasa lucu. Karena penasaran, aku menyempil-nyempil lagi di ketiaknya, tapi kali ini Mbak Firsta tidak memberiku kesempatan. Dia mendorongku mundur sambil membentak;
“Anak kecil nggak usah ikut-ikut!”
Ada satu aturan di rumah ini yang sering kupatuhi sejak dulu, yaitu “anak kecil dilarang melawan orang yang lebih besar”. Semua perintah Ibu dan Mbak Firsta adalah sesuatu yang harus kulakukan. Walau kadang aku malas atau nakal sedikit, tapi aturan tetaplah aturan. Ibu dan Mbak Firsta akan memarahiku kalau aku tidak patuh. Dimarahi itu tidak enak. Kadang-kadang kepalaku kena pukul kalau tidak patuh. Apalagi Mbak Firsta suka mencubit lenganku sampai kulitku merah dan sakit sekali.
Akhirnya, aku putuskan mengikuti perintah Mbak Firsta tanpa protes.
Jadi aku tidur-tiduran di kasur. Memeluk bantal guling sambil melihat buku-buku pelajaran Mbak Firsta yang berantakan di selimut. Tidak lama, Mbak Firsta akhirnya menutup pintu dan ikut duduk di kasur.
Aku tidak berani bertanya karena aku takut Mbak Firsta akan membentakku lagi. Tapi yang kutahu, Mbak Firsta kelihatan tidak mau diganggu. Bibirnya melengkung ke bawah, persis seperti saat dia marah karena celengannya diambil Ibu.
Jadi, aku memutuskan untuk tidur. Dan keesokannya, semua berlalu seperti biasa. Seperti tidak ada apa-apa sebelumnya. Mbak Firsta mandi dan berganti baju seragam hari Rabu. Aku juga sudah memakai seragam TK. Ibu menggoreng ikan asin di dapur.
Laki-laki berbaju biru semalam sudah tidak ada. Aku lupa bagaimana wajahnya, tapi aku masih ingat senyumnya. Senyum yang membuat Ibu terkikik-kikik. Senyum yang membuat Ibu langsung melihat ke pintu kamar kami. Senyum yang aku tidak suka. Aku tidak tahu kenapa.
“Bu, yang kemarin itu siapa?” Saat sedang sarapan bersama di karpet ruang depan (kami tidak punya kursi meja makan), Mbak Firsta bertanya. Ucapannya membuat Ibu berhenti menyuap sarapan ke mulutnya.
“Yang kemarin yang mana?”
“Om-om yang dateng kemarin malam, itu loh. Aku ngintip dari kamar. Rambut keriting. Kurus. Kulitnya item.”
“Oh, temen kerja. Dia adiknya Pak Dedi. Kemarin nganterin tas Ibu yang ketinggalan.”
Om Dedi juga bekerja di tempat sama seperti Ibu. Ibu sering menyebut nama Om Dedi di rumah kalau lagi membicarakan jualan di toko. Kadang juga menerima telepon dari Om Dedi. Aku sudah hafal karena Ibu selalu menjawab teleponnya dengan kalimat sama; “Baik, Pak Dedi.”, “Siap, Pak Dedi.”, “Saya tidak tahu, Pak Dedi.”