Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #4

Ibuku Kasihan

Setiap Senin sampai Jumat, Ibu mengantarku ke TK Dini Harapan. Selalu ada Bu guru yang menunggu anak-anak di depan gerbang. Aku tidak hafal semua namanya, tapi aku ingat wajahnya. Ada satu guru yang paling kuingat nama dan wajahnya. Aku memanggilnya Bu guru Wardah.

Pagi ini pun Bu guru Wardah tersenyum saat melihatku turun dari sepeda. Aku suka Bu guru Wardah karena dia cantik. Kulitnya putih dan wajahnya kayak orang arab. Baunya juga haruuum sekali. Setiap ketemu aku, Bu guru Wardah pasti bertanya tadi sudah sarapan apa belum, atau kemarin di rumah main apa saja sama Mama. Aku selalu punya jawaban untuk pertanyaan pertama, tapi jarang bisa menjawab untuk pertanyaan kedua.

“Tadi Lana sarapan apa?” tanya Bu guru Wardah, ketika aku sudah digandengnya memasuki TK.

“Nasi sama ikan asin.”

“Wah, enak tuh. Lana suka nggak?”

“Nggak. Asin rasanya,” kataku. “Tapi harus dimakan, soalnya Ibu udah bikinin.”

“Lana pinter, deh. Harus selalu makan masakan Ibu, ya.”

Kalau tidak dimakan, Ibu akan ngamuk. Kadang aku dibentak-bentak, kadang juga dipukul, kadang juga mulutku disuapin dengan paksa sampai aku batuk-batuk. Tapi, aku tidak meneruskan bagian itu. Bu guru Wardah mengantarku lewat lorong yang dipenuhi anak-anak TK yang berlarian ke sana kemari. Aku kadang kesal kalau kena senggol anak yang lari-lari. Habisnya mereka tidak minta maaf.

“Kemarin Lana main apa sama Mama di rumah?” Bu guru Wardah bertanya lagi.

Aku tidak menjawab karena kepikiran sesuatu yang lain. “Bu guru, pacar itu apa sih?”

Bu guru Wardah berhenti melangkah. Aku juga berhenti. Kelas kami masih ada di ujung sana.

Lalu, Bu Wardah membungkuk di hadapanku dan bertanya pelan.

“Lana tahu kata itu dari mana?”

“Dari Mbak Firsta.”

“Mbak Firsta bilang apa kemarin?”

“Katanya, Ibu punya pacar. Terus katanya anak kecil nggak usah ikut-ikutan. Pacar itu apa?”

“Pacar itu … artinya kayak teman.” Bu guru Wardah tersenyum.

Lihat selengkapnya