Saat pertama kali masuk TK, ibuku berpesan kepada Bu Guru Wardah seperti ini, “Bu, Lana ini nakal. Kalau susah diatur, marahi aja. Jewer kupingnya kalau perlu.”
Bu guru Wardah hanya senyum dan mengangguk pada Ibu. Sejak saat itu, aku selalu ketakutan setiap kali Ibu mengingatkan bahwa di TK aku akan terus diawasi dan dijewer kalau berbuat salah. Makanya, dari TK nol kecil, aku tidak berani nakal. Karena aku takut Bu guru Wardah akan menjewerku, meskipun dia selalu baik di depanku.
Tapi, sekarang berbeda. Taku membuatku berbuat kenakalan yang harusnya tidak kulakukan. Akibatnya, guru-guru menggotongku ke sebuah ruangan dan berusaha mendiamkan aku yang meronta-ronta. Butuh waktu lama sampai akhirnya aku kembali tenang. Syukurnya, tidak ada guru yang menjewerku. Bahkan Bu guru Wardah, dia malah mengajakku keluar ruangan dan membelikanku es krim.
Saat sedang asyik menjilat es krim stroberi (aku suka sekali rasa ini), Bu guru Wardah bertanya, “Kenapa Lana gangguin Taku? Memangnya tadi Taku bikin salah?”
Aku menceritakan semuanya pada Bu guru Wardah, termasuk alasan mengapa aku sampai bisa marah.
“Jadi, Taku mengolok-olok ibunya Lana, makanya Lana marah?”
Aku mengangguk. Bu guru Wardah juga mengangguk. Namun, dari yang awalnya senyum, muka Bu guru Wardah lama-lama murung. Aku tidak tahu mengapa.
Kemudian Bu guru Wardah memegang tanganku dan sedikit meremasnya.
“Lana, Bu guru tahu Lana sedih karena Taku mengolok ibunya Lana. Tapi lain kali, jangan langsung memukul seperti itu. Lana bisa menegur Taku baik-baik. Atau Lana bisa minta bantuan Bu guru untuk menegur.”
“Kalau cuma ditegur, Taku nggak bakalan berubah.” Aku memandang Bu guru Wardah dan melanjutkan dengan yakin. “Si Taku harus dihukum biar nggak ngulangin salahnya. Aku coret-coret mukanya dan mukulin dia supaya dia takut sama aku. Supaya dia nggak berani gangguin aku lagi!”
“Begitu, ya? Bu guru setuju kok Taku itu salah dan harus dihukum, tapi hukuman itu tetap ada batasnya.”
“Batasnya kayak gimana?”
“Jangan main pukul sembarangan seperti tadi.”
“Ya kan aku sudah habis sabarnya. Makanya aku pukul.”
“Lana kan belum mencoba menegur Taku sebelumnya.”
“Aku bilang, ‘apa sih kamu!’ gitu Bu, ke Taku. Itu kan sudah menegur!”
“Menegur itu, Lana berkata ke Taku untuk berhenti mengolok-olok, karena Lana tidak suka. Lana bisa bilang mengolok itu perbuatan tidak sopan, lalu Lana mengadu ke Bu Guru.”