Tadi aku kira Ibu tidak marah karena aku memukul Taku. Ternyata, perkiraanku salah.
Begitu sampai rumah, Ibu tidak langsung menyuruhku ganti baju seperti biasa. Ibu menarikku ke ruang depan dan bertanya.
“Tadi yang diceritakan Bu Wardah benar? Kamu mukulin Taku karena dia ngolok-ngolok Ibu?”
Aku mengangguk. Ibu bertanya lagi. “Taku bilang apa?”
“Katanya Ibu kasian gara-gara harus bayar utangnya Ayah. Aku nggak suka pas dia bilang gitu. Ibu kan bukan kucing jalanan, bukan juga pengemis, jadi nggak usah dikasihani. Ibu juga nggak bilang-bilang aku kalau bayar utang Ayah.”
“Emang kamu tahu ‘utang’ itu apa?”
Aku mengangguk. Aku tahu arti kata “utang”. Dulu saat Ibu mengambil uang dari celengan Mbak Firsta, setelah marah-marah sampai membuat Mbak Firsta menangis, Ibu bilang dia akan menganggap uang celengan itu sebagai utang. Malamnya aku tanya ke Mbak Firsta apa arti “utang”, dan dia menjelaskannya.
“Utang itu artinya harus mengembalikan uang yang udah diambil,” kataku.
Ibu hanya menatap datar. Aku meneruskan walau ragu. “Artinya… Ibu ngembaliin uang yang diambil Ayah. Dulu Ayah suka nyuri, jadinya dia utang ke banyak orang. Jadi sekarang Ibu yang harus bayar. Gitu kan?”
Ibu tidak mengiyakan jawabanku. Ibu malah menoleh ke kamarku dan Mbak Firsta, memandangi pintunya yang tertutup.
“Ibu beneran bayarin utangnya Ayah, ya?”
Tiba-tiba Ibu melihatku lagi. Matanya sudah merah seperti orang yang mau menangis.
“Kamu nggak usah ikut-ikut. Tugasmu di sekolah cuma mendengarkan perintah guru. Kalau Taku ganggu kamu lagi, langsung lapor.”
Kurasa suara Ibu agak bergetar. Tapi aku tidak berani menanyakan kenapa. Ibu seperti orang yang sedang menahan nangis. Aku tahu karena aku pernah mengalami yang seperti itu. Namun Ibu lebih kuat daripada aku. Aku tidak bisa menahan tangis. Kalau dipandangi lama, aku bisa langsung berteriak. Sementara Ibu tidak. Dia hanya mengusap hidungnya, lalu melepaskan tas dari pundakku.
Dikeluarkanlah buku gambarku. Sepertinya tadi Ibu juga mengobrol dengan Bu guru Wardah soal gambaranku, sebab tangan Ibu langsung tahu mau membuka yang mana. Ibu menatap gambar Om baju biru yang baru setengah selesai.
Jari Ibu mengusap gambar itu, lalu pada gambar di sekitarnya. Ruang depan kami. Om baju biru berdiri di pintu. Ibu di hadapannya. Om baju biru memegang lengan Ibu sambil tersenyum. Aku menggambar senyumnya amat lebar, tapi aku sendiri malah takut saat melihatnya.
“Kenapa kamu gambar ini?” Suara Ibu sudah berhenti bergetar.
“Nggak papa. Pengen aja.”
“Kamu bilang ke Bu Wardah dan Taku kalau laki-laki ini pacar Ibu?”