Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #7

Anak Haram

Lantai rumahku adalah kertas gambar raksasa. Warnanya hitam dan bisa dicoret-coret dengan kapur. Setelah Ibu pergi, aku mengambil kapur yang ditaruh Ibu di dalam kotak di lemari paling bawah, lalu mulai menggambar di lantai. 

Tenang, aku tidak akan dimarahi karena mencoret-coret lantai. Kapur ini bisa dihapus dan tidak akan meninggalkan bekas. Lagi pula, Ibu sering menyuruhku menggambar di lantai. Menurut Ibu, kalau aku punya kegiatan, itu justru lebih baik. Bila sudah memegang kapur, aku akan sibuk menggambar sehingga tidak akan mengganggu Ibu. 

Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggambar apapun yang kumau. Mulai dari binatang, tumbuhan, sampai manusia. Kadang aku menggambar sambil bercerita, misalnya—seperti yang kulakukan sekarang—aku menggambar seorang putri yang tersesat di hutan. Sang putri bertemu seekor harimau yang bisa berbicara. Kemudian putri itu meminta pertolongan harimau agar membawanya kembali ke istana, tetapi harimau ingin mengajak sang putri bermain dulu. 

Aku sedang asyik menggambar loreng-loreng di badan harimau ketika tiba-tiba pintu rumah terbuka. Mbak Firsta mengucapkan salam sambil membuka sepatu. Dia menatapku yang sedang berjongkok di lantai.

“Ya ampun, kamu gambar apa lagi sih, Lan?” 

Aku tertawa malu sambil menunjuk-nunjuk. “Harimau. Terus yang itu putri. Mereka lagi main-main di hutan.” 

“Ngapain putri sama harimau main bareng?” Mbak Firsta mendekat dan ikut berjongkok di depanku, mengamati gambar-gambar di lantai.

“Jadi, putrinya tersesat, terus dia ketemu sama harimau dan minta tolong ke harimau supaya mau nganterin si putri balik ke istana. Tapi harimau itu minta satu syarat. Si putri harus mau nemenin harimau main dulu.”

“Terus si putri mau, gitu? Harimau kan tukang makan daging.”

“Mau. Karena dia kan pengin segera pulang. Tapi nanti si putri ini akan sadar kalau dia sedang dibohongi sama harimau.”

“Dibohongi?”

Kemudian, sambil bercerita, aku menggambar rumah tidak jauh dari si harimau.

“Iya, si harimau ternyata mau makan si putri. Jadi waktu si putri sudah capek bermain, harimau akan mengajak si putri beristirahat di rumahnya. Si putri nggak tahu kalau ternyata dia mau dimangsa sama harimau itu.”

Mbak Firsta mengerutkan alis. “Ih, serem. Jadi, putrinya mati, dong?”

Aku mengangguk. Mbak Firsta tampak tidak puas.

“Nggak ada pangeran yang menyelamatkan si putri, gitu? Biasanya kalau di dongeng-dongeng gitu ada, loh, Lan.”

“Kan aku yang bikin cerita. Aku nggak mau ada pangeran. Biarin aja si putri mati dimangsa harimau.”

Mbak Firsta menarik pipiku seperti yang biasa dia lakukan kalau sedang gemas. “Jahat amat kamu. Si putri kan nggak tahu apa-apaaa.”

“Ya salah dia sendiri percaya sama binatang buas. Udah tahu harimau itu tukang makan daging.” Kemudian aku menggambar sebuah mahkota yang terjatuh di depan pintu rumah harimau. “Setelah si putri dimakan, cuma mahkota ini aja yang tersisa. Nanti pangerannya pas datang ke rumah si harimau bakalan nangis karena dia tahu dia terlambat menyelamatkan si putri.”

Mbak Firsta hanya bilang “ck ck ck” sambil menggelengkan kepala. Kemudian, dia bangkit berdiri untuk pergi ke kamar. Sambil berlalu, Mbak Firsta bicara lagi, “Nanti habis main, dihapus lagi ya gambarnya. Kalau Ibu tahu lantainya kotor, aku ikutan dimarahi.”

“Iya iyaa, ini mau kuhapus.” 

Terdengar suara pintu kamar ditutup. Selagi Mbak Firsta berganti baju, aku menghapus seluruh gambarku di lantai, kemudian menyusul Mbak Firsta ke kamar. 

Aku selalu penasaran dengan cerita apa yang dibawa Mbak Firsta sepulangnya dari sekolah. Mbak Firsta selalu punya sesuatu untuk dibagikan denganku. Dari cerita tentang temannya yang menyebalkan, guru jahat yang selalu memperlakukan murid dengan berbeda (kata Mbak Firsta itu namanya “pilih kasih”), deretan mata pelajaran yang paling membosankan sampai yang paling tidak berguna, juga peraturan sekolah yang “kejam”. Aku tidak tahu “kejam” bagaimana yang dimaksud Mbak Firsta saat itu. Kurasa saat itu aku mendengarkannya sambil mengantuk. Mungkin “kejam” itu ada hubungannya dengan menghukum potong tangan bagi orang yang mencuri. Jadi ketika ada murid sekolah yang ketahuan mencuri, tangannya akan dipotong.

Ketika kubuka pintu kamar, lagi-lagi Mbak Firsta sedang menarik keluar kaleng biskuit dari kolong kasur. Dia mendongak dan langsung mengembuskan napas saat melihatku. 

Lihat selengkapnya