Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #8

Godzilla

Keesokan harinya, Bu guru Wardah menyuruhku meminta maaf kepada Taku. Dibujuk beberapa kali pun, aku tidak mau mengajak salaman duluan. Aku sudah berniat membentak Bu guru ketika tiba-tiba Taku mengulurkan tangan di hadapanku. 

“Maaf, ya,” kata Taku. 

Bu guru Wardah tersenyum lebar sekali. Dia pun menyuruhku untuk menyambut jabat tangan Taku. 

Baiklah, karena Taku sudah meminta maaf, aku memutuskan untuk baik-baik saja dengannya. Tapi awas saja kalau dia mengolok ibuku lagi. Aku tidak akan tinggal diam. Bukan lagi hidungnya yang kucolok, tapi matanya. 

Kukira situasinya selesai sampai situ saja. Nyatanya, Bu guru Wardah malah memasangkan aku dan Taku dalam satu kelompok. Kami mendapat tugas membuat kolase gambar dari biji-bijian. Butiran seperti beras, jagung, dan kacang hijau harus ditempel di gambar pemandangan yang sudah disiapkan. Karena masih marah pada Taku, awalnya aku diam saja saat dia memintaku membuka tutup lem, atau menuangkan beras ke wadah kecil, atau menempel biji di atas kertas. Aku berharap Taku akan menangis karena sikapku lalu mengadukannya ke Bu guru Wardah (yang artinya aku menang lagi karena berhasil membuat dia kapok untuk kedua kali). Namun, Taku tidak bereaksi seperti yang kusangka. Dia malah asyik mengerjakan kolase sendirian, seakan aku ini tidak ada. 

Lama-lama, akulah yang merasa sebal. 

Akhirnya, aku mengambil biji kacang hijau pertama untuk ditempelkan. Taku melihatku, dan langsung menuding-nuding gambar. 

“Sini, sini, tempel bijinya di sini.”

Aku mengikuti arahan Taku. Sepanjang kelas, dia membantuku menempel biji-biji ke gambar sawah. Aku baru mau ganti ke gambar langit ketika lem di atas meja tiba-tiba jatuh dan menggelinding di lantai. Aku memungut ke bawah bangku, dan tidak memperhatikan saat Taku melakukan hal sama. Akhirnya—duk! 

Kepala kami terbentur. Lumayan juga sakitnya. Aku dan Taku saling menatap sambil mengusap-usap kepala. Aku ingin menangis, tapi melihat wajah Taku yang cengar-cengir, aku malah ketawa. 

“Aduh, pala kamu kayak batu,” kata Taku.

“Kamu kayak tembok.”

“Batu sama tembok keras mana?” 

“Tembok.”

“Berarti aku menang, karena lebih keras,” Taku menirukan gaya “hore” sambil lompat-lompat. Aku berpikir ulang dan setuju dengan jawabannya, lalu menyesal sendiri kenapa aku bilang tembok lebih keras. Harusnya aku bilang “batu”.

“Eh, Lan, kamu tahu nggak apa yang lebih keras dari tembok?” 

“Apa?”

“Badannya godzilla, rraaaaawwwrrr!” 

Taku maju sambil menakut-nakuti. Aku mundur ke belakang sambil tertawa.

“Emang kamu pernah pegang badan godzilla?” tanyaku.

“Pernah. Aku punya figurnya di rumah.” 

“Ih, serem. Godzilla yang monster gede itu, kan? Yang kayak genderuwo.” 

Lihat selengkapnya