“Sepeda Ibu tadi bocor, belum sempet ditambal. Akhirnya Om Wawan bantuin Ibu buat jemput kamu.”
Begitulah alasan yang diberitahu Ibu di atas motor, saat kami sedang dalam perjalanan pulang. Om Wawan menyetir di depan. Ibu duduk di belakang, dan aku di tengah-tengah keduanya. Sepanjang jalan, aku diam saja. Tidak menjawab walau Ibu bertanya. Aku kesal karena ada Om Wawan. Dia berbadan besar dan agak bau. Bau keringat. Aku sering mencium bau keringat Mbak Firsta dan Ibu, tapi keringat mereka tidak seperti Om Wawan. Keringat Om Wawan tidak enak, bikin aku ingin cepat-cepat pergi. Kok Ibu tahan duduk berdua di motor dengan Om Wawan?
Omong-omong, Om Wawan sudah tidak memakai baju biru lagi. Kali ini dia memakai jaket cokelat dan celana jins. Rambutnya juga disisir rapi, tidak amburadul seperti saat pertama kali bertemu. Baunya saja yang masih tetap sama. Om Wawan tidak bicara banyak. Dia hanya satu kali menanyakan apakah dudukku sudah pas di atas motor ketika kami mau pergi dari sekolah (tentu saja aku tidak menjawabnya).
Bahkan sesampainya di rumah, Om Wawan masih belum bicara. Kukira dia akan pergi begitu Ibu dan aku masuk rumah, tapi ternyata Om Wawan malah melepas helmnya dan ikut masuk. Dia berjalan di belakangku seperti setan yang mau mengejar anak kecil.
Aku langsung berlari memeluk pinggang Ibu.
“Ada apa sih, Lan? Itu cuma Om Wawan,” kata Ibu. “Om Wawan mau mampir sebentar ke sini.”
“Nggak mau….”
“Nggak mau gimana? Emang Om Wawan mau ngapain kamu?”
Ibu menatap Om Wawan. Kelihatannya dua orang itu sedang merencanakan sesuatu. Tiba- tiba aku diseret Ibu memasuki rumah, lalu dipaksa berhadapan dengan Om Wawan.
“Om Wawan mau kenalan sama kamu, tuh. Yuk, tangannya kalau salaman gimana?”
Ibu menarik tanganku ke depan, yang langsung disambut Om Wawan. Aku tidak mau menyentuhnya, tapi sudah terlanjur. Tangan Om Wawan kering dan kasar. Jarinya besar-besar seperti mau meremas tanganku. Om Wawan melipat lenganku dan menempelkan punggung tangannya ke keningku. Ih, aku kan tidak mau salim sama dia!
“Pinter. Jadi anak baik, ya, Lana.” Ibu tersenyum sambil mengusap kepalaku. “Om Wawan punya hadiah nih buat kamu. Mana Mas?”
Om Wawan merogoh saku di celana belakangnya, menarik keluar sesuatu yang langsung diberikan padaku. Dua buah permen loli. Aku suka permen, tapi kalau yang memberi Om Wawan aku tidak mau.
“Kalau nerima permen dari orang asing, nanti diculik,” kataku sambil mendongak pada Ibu.
“Ini kan permen dari Om Wawan. Om bukan orang asing. Kamu terima aja, Ibu izinin.” Ibu mengambil permen dari tangan Om Wawan dan langsung menjejalkannya ke tanganku. Padahal tanganku sudah tergenggam rapat. Tapi Ibu memaksa membukanya sampai jariku kesakitan. Aku mengaduh, tapi Ibu tidak peduli. Ibu malah memaksaku bilang “makasih” ke Om Wawan. Aku mengucapkannya dengan suara kecil, karena takut dipelototi Ibu.
Om Wawan tersenyum lebar dan akhirnya bertanya padaku.
“Kamu suka apa selain permen?”