Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #10

Bentakan Ibu

Aku sudah kelaparan setengah mati saat Ibu pulang. Ibu pergi ke dapur dan membuka tudung saji, kemudian kembali ke ruang depan untuk meletakkan piring berisi nasi dan ayam goreng itu di hadapanku. 

“Lana, ini sudah Ibu siapkan makanan kok nggak dimakan? Cepet dimakan, tuh nasinya sampai kering!” 

Aku menggeleng dan mendorong lagi piring itu ke arah Ibu. “Aku nggak mau.”

“Nggak mau gimana? Ini tadi dibeliin Om Wawan, loh. Cepet dimakan!” 

Aku diam saja. Ibu tiba-tiba membentak; “LANA! Kamu denger nggak sih? Jangan kayak orang bisu gitu!” 

“Aku nggak mau makan! Ada ayamnya!” Akhirnya aku berteriak. 

“Emang kenapa kalau ada ayamnya? Ini kan enak!” 

“Aku kan nggak suka ayam!” 

“Anak ini….” Kemudian Ibu mengambil napas sejenak, sebelum akhirnya membentak lagi, “Kamu itu nggak tahu bersyukur, ya? Udah untung dikasih makan ayam goreng! Ibu kasih kotoran ayam baru tahu rasa kamu, ya!” 

Ketika aku tidak menjawab, Ibu melanjutkan pendapatnya. “Apa gara-gara dikasih Om Wawan, makanya kamu nggak mau? Tadi dikasih permen, ditolak. Diajak ngomong juga susah. Disuruh salim nggak mau kalau nggak dipaksa. Kamu maunya apa? Kenapa kamu gitu sama Om Wawan, sih?” 

Aku memang tidak suka Om Wawan, tapi bukan itu alasan aku tidak memakan ayam gorengnya (walaupun mungkin bila aku tahu duluan siapa yang mengirim ayam goreng ini ujung-ujungnya juga tidak bakalan kumakan). Namun, Ibu rasanya tidak peduli dengan alasanku. Ibu sama sekali tidak ingat kalau aku benci ayam di makanan. Padahal Ibu sendiri yang bilang kalau sebaiknya aku tidak suka makan ayam. Bagaimana bisa Ibu selupa ini? 

“Lana,” kata Ibu. “Om Wawan itu sudah berusaha buat akrab sama kamu. Masa kamu nggak bisa baik dikit sama dia? Emang dia jahat sama kamu, hah? Ibu tanya, memang Om Wawan jahat sama kamu? JAWAB!”

Aku menggeleng. “Enggak….” 

“Terus kenapa sikapmu kayak gitu?” 

“Ya nggak tahu, pokoknya aku nggak mau.” 

Lihat selengkapnya