Tidak lama setelah Ibu memecahkan piring dan aku masuk kamar, terdengar suara pintu dibuka dan bunyi sret-sret orang menyapu. Aku menduga Ibu sedang membereskan pecahan piring di lantai. Ibu melakukannya sebelum Mbak Firsta pulang sekolah, dan bersikap biasa-biasa saja setelahnya. Aku juga tidak bercerita pada Mbak Firsta. Perutku terlalu lapar untuk mengadu. Aku tidur malam itu sambil memeluk perut yang keroncongan.
Keesokan harinya, walau sudah tidak marah-marah lagi, Ibu masih agak cuek denganku. Ketika membagikan sarapan, Ibu hanya menyodorkan sepiring nasi dan telur dadar tanpa mengatakan apa-apa. Biasanya Ibu masih sempat bertanya nasinya kurang atau tidak, atau apakah aku mau tambah kecap atau tidak, atau sekadar memintaku menghabiskan makanannya. Kali ini Ibu diam saja.
Mbak Firsta adalah yang pertama bicara pagi itu.
“Bu, bentar lagi aku ke rumah temen ya. Ada kerja kelompok.”
Ibu hanya merespons dengan anggukan. Tidak ada pertanyaan lanjutan seperti kerja kelompok apa, atau pergi ke rumah teman yang mana, atau jam berapa nanti pulang. Biasanya Ibu akan menanyakan ketiganya. Karena itulah, Mbak Firsta menoleh padaku. Dari wajahnya, dia juga bingung mengapa Ibu bersikap tidak seperti biasanya. Aku mengangkat pundak, pura-pura tidak tahu, lalu kembali menyuap satu sendok nasi dan telur.
Di hari Minggu begini, Ibu masih bekerja di toko. Biasanya aku dan Mbak Firsta jadi penjaga rumah yang diberi tugas bebersih. Namun karena hari ini Mbak Firsta kerja kelompok, aku menjaga rumah sendirian. Tidak banyak yang kulakukan kalau sendirian begini. Kukira aku akan menghabiskan seharian dengan tidur dan makan (syukurnya Ibu sudah menyiapkan telur dadar di dapur), tapi ternyata perkiraanku salah. Di siang hari, pintu rumahku diketuk.
Taku dan Bu Nuril berdiri di depan pintu.
“Hai, Lana!” sapa Taku, nyengir lebar.
“Hai.”
Bu Nuril membungkuk. “Lan, ibumu di toko, ya?”
Aku mengangguk.
“Kalau Firsta?”
“Kerja kelompok.”
“Duh, kok pas banget sih.” Bu Nuril kelihatan bingung. Aku tidak sengaja melihat biru-biru di kulit leher dan pergelangan tangan Bu Nuril, dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Apa Bu Nuril habis mainan krayon? Aku tidak pernah tahu kalau ibunya Taku suka menggambar dan mewarnai juga.
“Bu, jadi nggak sih nitipin aku di sini?” Taku mengguncang tangan Bu Nuril.
“Di rumah ini nggak ada orang dewasa. Bisa-bisa kalian bertengkar lagi nanti! Kalau nggak ada yang melerai gimana?”
“Nggak bakal, kok!” Kemudian Taku melepas pegangan tangan ibunya dan berganti memegang tanganku. “Aku sama Lana udah baikan, iya kan Lan?”
Taku benar. Jadi, aku mengangguk.
Bu Nuril menatapku lama sekali. Aku takut bila tiba-tiba dia memukulku.
“Kalau Taku main sebentar di sini, kalian berdua janji bakalan rukun, ya?” Bu Nuril membungkuk lagi di depanku. Kali ini aku melihat sudut kiri matanya merah, dan ada warna biru-ungu juga di kulitnya. Aku mengangguk menanggapi pertanyaannya.
Bu Nuril mendorong Taku masuk ke rumah.
“Kalau gitu, Taku boleh main di rumah Lana. Ingat, jangan melakukan hal bodoh.”
Taku mengangguk. Aku tidak tahu hal bodoh apa yang dimaksud Bu Nuril. Ibuku sendiri punya banyak daftar hal bodoh yang katanya tidak boleh dilakukan, di antaranya adalah makan tanah dan nyemplung ke dalam bak mandi. Dulu aku pernah melakukannya hanya karena penasaran, dan Ibu langsung menyebutku “bodoh”. Daftar hal bodoh bagi Mbak Firsta berbeda lagi. Kalau Mbak Firsta dapat nilai sekolah yang menurut Ibu jelek, Ibu akan menyebut Mbak Firsta “bodoh”.
Mungkin, “melakukan hal bodoh” yang dimaksud Bu Nuril mirip seperti hal-hal yang kusebutkan.
Setelah Taku masuk rumah, Bu Nuril berbalik pergi. Aku menutup pintu rumah di belakangku dan menguncinya lagi. Kata Ibu, jangan dibuka kuncinya kecuali kalau yang mengetuk adalah orang yang kami kenal. Aku mengajak Taku ke depan kamar, tempat kapur-kapur tergeletak (tadi pagi aku sempat main gambar-gambar lagi). Taku duduk di lantai sambil memperhatikan gambar yang sudah kubuat.
“Melakukan hal bodoh yang dimaksud ibumu tuh apa?” tanyaku.
Taku mengambil sepotong kapur dan mulai menggambar di lantai. “Oh, banyak. Misalnya nyalain kompor tanpa izin, sembunyi di dalam kulkas, atau masukin benda ke lubang hidung.”
Aku mengernyit. “Hah? Kamu pernah ngelakuin semua itu?”
“Ya pernah, makanya diingetin lagi sama Ibu.”
“Kamu masukin apa di lubang hidung?”