Aku tidak tahu mengapa bisa-bisanya aku mengiyakan permintaan Taku untuk membawanya ke toko tempat Ibu bekerja. Harusnya aku tidak membolehkannya. Ibu biasanya melarangku pergi ke toko sendirian, kecuali ada keperluan yang benar-benar penting, yang aku sendiri sebenarnya tidak tahu keperluan seperti apa yang dianggap penting. Menurut Mbak Firsta, keperluan penting contohnya adalah kebakaran rumah, ada perampok masuk, atau gas melon yang meledak (sebelumnya aku tidak tahu kalau gas melon bisa meledak). Selama ketiga hal itu belum terjadi, aku tidak perlu ke toko.
Harusnya.
Tapi kali ini Taku berhasil membuatku pergi ke toko diam-diam.
“Emang kamu yakin Om Wawan ada di toko?” aku berbisik-bisik di samping Taku. Kami berdiri di depan pagar toko, dijepit semak-semak rimbun. Dari sini, aku bisa melihat Ibu di balik etalase toko, sedang menyeroki beras dan memasukkannya ke dalam timbangan. Perempuan yang kelihatannya adalah pembeli, berdiri di hadapan Ibu.
“Ya nggak tahu, tapi katamu Om Wawan itu adiknya Om Dedi, si pemilik toko? Berarti Om Wawan tinggal di sini juga, dong.”
“Terus nanti kalau ketemu Om Wawan kita ngapain?”
“Ya ngelihatin aja. Itu namanya memata-matai.”
“Buat apa kita memata-matai orang?”
“Buat mengecek semua yang orang itu lakukan.”
“Kita pulang aja, yuk. Nanti kalau ketahuan Ibu, aku dimarahi!”
Aku sungguhan takut. Kemarin Ibu baru saja memarahiku sampai memecahkan piring. Kalau sekarang aku berbuat ulah lagi, Ibu akan ngamuk. Mungkin bokongku akan dipukul pakai penebah kasur, atau dikunci di kamar mandi, atau dijewer sampai kupingku biru-biru seperti Bu Nuril. Aku tidak mau, jadi kugandeng tangan Taku dan kutarik dia pergi. Tapi Taku tidak bergerak. Dia malah balik menarik tanganku sambil berkata;
“Lan, Lan, bener kataku, kan? Om Wawan ada di toko!”
Aku memajukan kepala melewati pagar.
Pembeli yang tadi beli beras sudah tidak ada. Sebagai gantinya, Om Wawan berdiri di balik etalase, berdampingan dengan ibuku. Mereka terlihat sedang berbincang-bincang.
Ibu tertawa, Om Wawan juga.
Aku memperhatikan mereka, lumayan lama. Taku garuk-garuk di sebelahku, tapi aku tidak peduli. Om Wawan kemudian merangkul pundak Ibu. Ibu diam saja.
Aku tidak pernah melihat Ibu dirangkul orang. Tidak sekalipun. Ibu juga tidak pernah merangkul aku ataupun Mbak Firsta seperti itu. Ibu tidak pernah tertawa selebar itu saat bersama aku dan Mbak Firsta, tapi Ibu tertawa lebar bersama Om Wawan.
Om Wawan bukan siapa-siapa kami. Dia bukan saudara, bukan pula ayahku. Tapi mengapa dia begitu dekat dengan Ibu? Aku tidak suka karena dia merangkul Ibu. Harusnya Ibu bisa menolaknya, tapi Ibu tidak melakukan apa-apa. Apakah sebenarnya Ibu memang suka dirangkul? Lama-lama aku semakin bingung dengan apa yang kurasakan atau apa yang mau kulakukan. Haruskah aku pergi ke sana dan memukul Om Wawan? Tapi Ibu pasti akan marah. Jadi, apakah aku harus diam saja? Harusnya aku tidak di sini, kan?
“Kita lihat mereka lebih dekat, yuk,” usul Taku, kemudian dia keluar dari semak dan berjinjit-jinjit ke samping toko.
Aku tidak sempat melarangnya. Taku berjalan terlalu cepat. Dia melambaikan tangan padaku agar aku segera mengikutinya. Maka aku pun mengikutinya. Aku merasa tidak punya pilihan lain.