“Kelana?”
Bu guru Wardah berseru tepat di telingaku. Aku mendongak dan langsung sadar bahwa sejak tadi aku tidak mendengarkan Bu guru berbicara di depan kelas. Aku malah menoleh ke arah taman TK melalui jendela, memperhatikan ayunan berbentuk mulut naga yang menganga lebar.
“Hayooo, jangan melamun ya. Dengarkan Bu Guru berbicara di depan kelas.”
Semua anak melihatku, termasuk Taku. Aku mengangguk dan langsung menunduk. Anak-anak lain kembali sibuk mendengarkan. Aku mendengarkan juga, tapi tidak benar-benar serius. Tanganku asyik mencoret-coret di buku gambar. Aku menggambar Om Wawan lagi—tinggi dan berkulit gelap, dengan senyum menyeramkan. Kemudian Ibu ada di sampingnya, bergandengan tangan dengan Om Wawan. Sementara itu, aku dan Mbak Firsta kugambar di sisi yang lebih jauh, bergandengan tangan juga.
“Gambar apaan sih kamu?”
Taku tiba-tiba mendekat. Tangan Taku menyenggol sikuku yang masih sakit.
“Aw!”
“Eh kena, ya? Maaf, deh. Lukanya yang waktu itu belum sembuh?”
“Belum, makanya jangan pegang-pegang!”
Aku tidak akan melupakan apa yang terjadi hari itu—ketika Taku mengajakku pergi ke toko diam-diam. Taku menarik-narik bajuku hingga aku jatuh dari pot. Sikuku terluka karenanya. Lebih parah lagi, persembunyian kami hampir saja ketahuan. Untung saja Taku segera membantuku bangun dan menarikku keluar melalui pagar. Lalu aku menangis di tepi jalan. Tangisanku lumayan keras hingga membuat seorang bapak-bapak penjual sayur menghampiri kami dan menanyakan apa yang terjadi. Taku menjelaskan bahwa aku baru saja jatuh sampai sikuku terluka. Tapi aku sendiri tidak yakin sakit yang kurasakan berasal dari sikuku. Aku tidak tahu mengapa aku menjadi sangat cengeng. Aku jarang menangis karena jatuh. Biasanya aku hanya akan menangis saat Ibu memarahi dan menghukumku.
Aku tidak bisa melupakan kejadian itu sesudahnya. Bahkan setelah pulang ke rumah, dan Taku dijemput kembali oleh ibunya yang sudah berhasil menemukan ayahnya, dan Mbak Firsta pulang dari rumah teman, dan Ibu pulang dari toko sambil membawa oleh-oleh pisang yang banyak, aku tetap kepikiran dengan apa yang kualami siang harinya. Bukan bagian saat aku jatuh dari pot, tapi saat aku melihat Ibu berduaan dengan Om Wawan. Mereka berbincang, tertawa, merangkul, dan memegang tangan. Om Wawan bilang Ibu cantik. Om wawan bilang nasib ibuku kasihan karena membesarkan dua anak sendirian. Om Wawan bilang ingin cari pendamping baru, sebelum dia mendekat pada Ibu dan melakukan sesuatu… dia melakukan sesuatu, yang aku sendiri tidak yakin bagaimana menyebutnya. Tapi aku merasa Om Wawan memalukan. Ibu juga. Aku tidak suka melihat Ibu seperti itu. Aku benci melihat ibu.
Bel pulang akhirnya berbunyi. Bu guru Wardah mengajak kami bernyanyi Sayonara, sebelum membariskan kami semua untuk pulang. Ibu menjemputku dengan sepeda tepat waktu. Sepanjang perjalanan, Ibu tidak berbicara tentang Om Wawan. Aku juga tidak menyinggung-nya sedikit pun. Aku masih marah pada Ibu, tapi aku tidak tahu bagaimana cara bilangnya. Aku pasti akan dimarahi kalau Ibu tahu bahwa aku pergi ke toko dan mengintipnya. Aku tidak mau dimarahi Ibu lagi.
Malam harinya, ketika aku dan Mbak Firsta sedang bersantai di rumah, ada seseorang yang tiba-tiba mengetuk pintu. Dari arah kamar, Ibu keluar dan langsung berlari ke depan. Mbak Firsta meletakkan buku cerita yang sedang dia baca, dan aku meletakkan kapur yang barusan kugunakan untuk menggambar di lantai.
Ibu kemudian muncul di ruang depan bersama Om Wawan di sebelahnya.
“Ini, anak-anakku,” kata Ibu dengan suara hampir berbisik-bisik. Om Wawan tersenyum lebar. Matanya memandangku sejenak, sebelum bergeser ke Mbak Firsta. Ibu menyuruh kami cepat-cepat berdiri untuk salaman dengan Om Wawan.
“Halo, Lana, ketemu lagi sama Om,” kata Om Wawan sambil membungkuk di depanku. Tangannya terulur memberiku sesuatu. Bentuknya bundar dan warnanya putih. Aku masih memikirkan apa itu sampai Om Wawan bicara lagi.
“Nih, Om bawain telur.”
Aku menerima pemberian Om dan membolak-baliknya. Merasa agak bingung dan tidak yakin dengan kemasannya. Masa telur seperti ini?
Mbak Firsta tiba-tiba menyahut, “Ih, itu kan Kinder Joy!”
“Kinder Joy?”
“Ini tuh cokelat.” Mbak Firsta mengambil telur itu dari tanganku dan memperlihatkan gambar yang tercetak di bagian depannya. “Tuh, ini kayak cokelat scoop gitu. Katanya enak. Temenku di sekolah sering makan.”
“Firsta juga suka, ya?” Om Wawan bertanya.