Sejak Mbak Firsta punya hape baru, dia jadi sering menelepon temannya sampai berjam-jam. Kadang saat aku bangun di tengah malam untuk pergi ke kamar mandi, Mbak Firsta bukannya tidur malah masih asyik duduk di kursi belajar sambil cekikikan dengan temannya. Pernah suatu waktu, Ibu sampai harus ke kamar kami dan menyuruh Mbak Firsta berhenti menelepon, tapi Mbak Firsta bilang dia masih harus berdiskusi tentang PR. Atau kadang beralasan sedang belajar bersama temannya untuk ujian. Kalau Ibu memaksa tutup telepon, Mbak Firsta malah marah. Kadang-kadang juga sampai membentak Ibu, walau ujung-ujungnya dia menuruti perintah Ibu dengan muka cemberut.
Karena Mbak Firsta sulit lepas dari hape, kami pun jadi jarang bermain bersama. Setiap kali aku mengajak Mbak Firsta main, jawabannya selalu “nanti” atau “bentar”. Namun sudah ditunggu lama pun, Mbak Firsta tetap sibuk sama hapenya. Waktu aku menarik-narik bajunya untuk main boneka, dia malah memarahiku dan selalu bilang, “Aku sudah besar, nggak suka diajak main kayak gitu lagi!”
Jadi, sekarang aku tidak punya teman main lagi. Dulu kami sering main boneka sambil menirukan suara-suara lucu, main tebak-tebakan, atau adu menggambar di lantai. Sekarang sudah jarang. Kalaupun ada kesempatan untuk bermain, Mbak Firsta malah menawari untuk bermain game di hapenya. Awalnya aku senang karena bisa ikut melihat dan memegang hape Mbak Firsta, tapi game yang kami mainkan ternyata terlalu membosankan. Aku tidak tahu nama game-nya, pokoknya di game itu aku harus mencari barang-barang tersembunyi. Mbak Firsta sangat jeli menemukan barang-barang, tapi aku tidak. Aku belum tahu nama semua barang yang ada di daftar, jadi aku sulit menemukannya. Karena capek, akhirnya aku mundur lebih awal dan meninggalkan Mbak Firsta.
Tapi aku tidak putus asa. Kalau Mbak Firsta susah diajak main, aku bisa mencari teman lain. Jadi, aku pergi ke rumah Taku.
Taku memang tidak setiap hari ada. Setiap aku ke rumahnya, ibunya sering sekali bilang Taku masih tidur, jadi biasanya aku kembali ke rumah dengan kecewa. Baru beberapa hari belakangan ini, aku menemukan cara lebih baik untuk mengajak Taku bermain, yaitu dengan datang langsung ke kamarnya. Belajar dari Taku yang mengajakku pergi ke toko diam-diam, sekarang aku pun melakukan hal sama untuk menghampiri rumahnya. Aku naik lewat pagar di samping rumah Taku dan berputar ke sisi belakang rumah. Kamar Taku ada di balik jendela nomor tiga. Aku mengetuk-ngetuk jendelanya, menunggu beberapa saat, sampai akhirnya Taku membukanya untukku.
Di awal percobaan, aku hampir ketahuan Bu Nuril yang saat itu sedang jemur pakaian di halaman. Tapi aku berhasil menghindar dengan sembunyi di belakang pohon mangga. Setelah Bu Nuril masuk kembali ke dalam rumah, aku berjinjit-jinjit ke kamar Taku. Dia terkejut melihatku muncul di depan jendela kamar. Tapi, Taku tidak marah. Dia justru nyengir lebar sambil bertanya bagaimana caranya aku sampai sana.
Sejak saat itu, aku rutin menghampiri Taku untuk bermain bersama. Kadang-kadang Taku mengajakku main di dalam kamarnya, kadang kami hanya bermain di halaman samping rumah. Taku punya banyak sekali mainan, meskipun tidak ada boneka. Dia punya koleksi mobil-mobil dengan berbagai ukuran, puzzle, bola basket kecil, balok susun, lego, juga ular tangga. Lebih hebatnya lagi, dia punya papan tulis putih yang bisa digambar-gambari dengan spidol. Jadi kalau aku sedang ingin menggambar, aku tinggal meminjam papan tulisnya. Aku kepikiran untuk minta Ibu membelikanku juga, meskipun aku tahu permintaanku ini akan sulit dikabulkan.
“Ya udah, kalau gitu kamu minta ke Om Wawan aja,” usul Taku setelah aku menceritakan keinginanku punya papan tulis putih.
“Nggak mau, ah.”
“Lah, kenapa? Dia aja bisa beliin Mbak Firsta hape, masa beliin papan tulis aja nggak bisa?”
“Bukan gitu. Aku nggak mau aja.”
“Iya, nggak mau kenapa? Kan tinggal bilang. ‘Om, belikan aku papan tulis dong’, gitu.”
Aku berdecak. “Pokoknya aku nggak mau.”
Taku menebak aku mungkin malu bicara dengan Om Wawan. Mungkin iya, mungkin tidak. Sampai sekarang aku memang jarang sekali bicara dengan Om Wawan.
Ah, omong-omong aku harus bercerita bahwa Om Wawan jadi sering main ke rumahku. Biasanya dia datang di malam hari, setelah magrib, atau lebih malam dari itu. Dulu Om Wawan biasanya hanya duduk di karpet ruang depan, tapi belakangan Om Wawan suka keluyuran di rumahku. Dia memakai kamar mandi rumah, masuk ke kamar Ibu, tidur di karpet, sambil merokok atau makan gorengan. Karena kebiasaan merokoknya itu, rumahku jadi bau asap. Bau badan Om Wawan juga suka menempel di mana-mana—di karpet ruang depan, di kamar mandi, dan juga Ibu. Ya, Ibu berbau seperti Om Wawan.
Aku tidak suka baunya, tapi aku tidak berani bilang pada Ibu. Aku lebih memilih untuk diam dan menjauh saja dari bau itu, termasuk menjauhi Ibu.
Tidak seperti aku yang jarang bicara dengan Om Wawan, Mbak Firsta, sebaliknya, lebih sering mengobrol dengannya. Kadang Om Wawan bertanya tentang sekolah Mbak Firsta, tentang teman-teman dan gurunya, kadang juga membahas hape barunya. Baru kemarin aku mendengar Mbak Firsta tertawa pada lelucon yang dilemparkan Om Wawan. Aku juga ada di dekat mereka, tapi aku tidak tertawa. Om Wawan sempat menanyakan apakah aku mau permen, tapi aku menggeleng. Lalu Om Wawan bilang aku ini pendiam, tidak seperti Mbak Firsta yang ceria dan banyak omong. Aku tetap tidak menjawab komentarnya dan langsung lari ke dalam kamar.
Taku tiba-tiba menabrakkan mobil-mobilannya ke lututku. “Bruak! Brak! Brak!”