Setelah keluar dari rumah Taku tadi, aku tidak sengaja menginjak seekor jangkrik.
Suara “kres” terdengar nyaring sampai aku menghentikan langkah. Aku berjongkok di tanah, di dekat jalan menuju rumah, mengamati jangkrik yang sudah gepeng. Sayap jangkrik terbelah menjadi dua, tapi tubuhnya masih bergerak-gerak kecil.
Beberapa bulan lalu aku pernah melihat anak ayam terlindas ban sepedanya Ibu. Anak ayam itu juga gepeng seperti jangkrik ini. Badannya bergerak-gerak seperti kejang, sebelum akhirnya mati. Kata Ibu, itu namanya sekarat. Hewan yang sudah terlalu sakit dan tidak bisa tertolong lagi biasanya akan sekarat sebelum akhirnya mati.
Saat itu aku bertanya apakah manusia juga bisa sekarat. Kata Ibu bisa. Manusia yang terluka terus menerus juga bisa sekarat, lalu mati.
Aku sering dipukul Ibu. Rasanya memang sakit, tapi kurasa saat itu aku tidak sampai sekarat. Sakitnya hanya membuatku menangis sebentar, kemudian hilang. Jadi, aku berpikir aku selalu baik-baik saja, tidak akan sampai mati. Namun, yang dilalui jangkrik ini berbeda. Sakitnya terlalu besar. Begitu juga dengan Bu Nuril, ibunya Taku. Aku masih ingat jeritannya saat ayahnya Taku memukulnya. Bunyi pukulan plak! plak! membuatku meeinding. Aku belum pernah mendengar orang dewasa menjerit sekeras itu. Bahkan teriakan Ibu saat memarahiku saja kalah. Jadi, kupikir ibunya Taku pasti sangat kesakitan. Sangat kesakitan, sampai aku yakin ibunya Taku akan sekarat dan mati.
Aku mulai takut apa yang kupikirkan betulan terjadi. Apakah sebaiknya aku kembali ke rumah Taku untuk memastikan ibunya Taku baik-baik saja? Mengintip saja tidak apa-apa, kan?
Aku baru berbalik ke arah rumah Taku saat seseorang memegang pundakku, membuatku terkejut sampai hampir berteriak.
“Waduh, maaf ya, Lana. Om ternyata ngagetin kamu, ya?” Om Wawan tertawa dan langsung menepuk pelan punggungku. Duh, kenapa harus ketemu Om Wawan, sih?
“Habis pulang main ya?”
Aku mengangguk.
“Yuk, sekalian Om anterin pulang. Om mau mampir bentar ke rumahmu.”
Aku tidak sempat menolak karena Om Wawan langsung mendorong punggungku agar berjalan di sampingnya. Dan karena aku tidak mau orang lain tahu aku hendak mengintip rumah Taku, akhirnya kuiyakan ajakan Om Wawan.
“Ibumu ada di rumah kan, Lan?”
“Tadi sih Ibu keluar ke pasar.”
“Oh, ya udah, Om tunggu di sana aja.”
Aku menengok ke kanan-kiri, lalu bertanya tanpa basa-basi. “Nggak naik motor?”
“Hah? Oh, enggak. Motornya lagi diservis.”
“Apa itu diservis?”
“Diperbaiki.”
“Oh, motornya Om rusak?”
Om Wawan tertawa. “Nggak juga, ya emang butuh diservis aja.”
Menurutku, memperbaiki motor yang tidak rusak itu percuma. Tapi aku tidak bilang apa-apa pada Om Wawan.
Tiba-tiba saja kami berdua sudah sampai rumah. Ibu rupanya belum pulang dari pasar. Hanya ada Mbak Firsta yang—seperti biasa—sibuk main hape saat aku dan Om Wawan datang. Om Wawan menyapa Mbak Firsta, yang langsung dibalas senyuman. Mbak Firsta salim pada Om Wawan, kemudian melihatku.
“Kok bareng Lana?”