Aku tahu arti kata “pungut”.
Pernah ada kejadian di sekolah TK, dua murid bertengkar karena salah satunya mengejek “anak pungut” ke lawan bicara. Aku bertanya pada Taku artinya. Katanya, anak pungut adalah anak buangan yang diambil dari tempat lain, misalnya tempat sampah.
Saat mendengar penjelasan Taku, aku merasa kasihan dan jijik. Pasti kasihan sekali dibuang di tempat sampah sejak kecil. Tapi, kalau aku menjadi orang dewasa, aku tidak akan mau mengambil bayi dari tumpukan sampah kotor dan bau. Lebih baik bilang polisi supaya datang dan mengurusnya. Kan polisi selalu membantu warga yang kesulitan. Mereka pasti bisa mencari dan mengembalikan bayi itu ke orang tua aslinya.
Yang pasti, ejekan anak pungut pernah populer di sekolah TK. Teman-teman sekelas bahkan ada yang berani menanyakan langsung ke orang tuanya apakah mereka dulunya dipungut dari suatu tempat, dan semuanya kembali dengan jawaban memuaskan bahwa mereka anak kandung. Termasuk Taku, katanya Taku lahir di rumah sakit dan berbobot 3.6 kilo saat keluar dari perut Ibu. Aku tidak tahu 3.6 kilo itu seberat apa, tapi aku sempat percaya bagian bahwa Taku adalah anak kandung ibunya.
Aku sendiri tidak pernah menanyakan kepada Ibu apakah aku anak pungut. Lebih karena aku lupa harus menanyakannya. Dan sebetulnya aku tidak masalah bila tidak menanyakannya. Hanya saja, belakangan ini aku mulai khawatir apa yang dikatakan Bu Nuril bahwa aku anak haram dan apa yang dikatakan Om Wawan tentang aku anak anak pungut itu memang benar. Jadi kurasa aku harus bisa mencari tahu kebenarannya sendiri.
Maka, suatu hari, aku bertanya pada Ibu tentang hal itu.
“Anak pungut? Siapa yang bilang gitu?”
“Kata Om Wawan waktu itu. Soalnya aku nggak mirip Ibu sama Mbak Firsta.”
Alis Ibu mengerut sementara tangannya masih sibuk memotong-motong wortel untuk sop. Kukira Ibu akan memarahiku karena terdengar seolah-olah aku mengadukan kekesalanku terhadap Om Wawan, tapi ternyata Ibu malah tertawa.
“Ahaha, ya ampun, itu bercanda aja, Lan.”
“Hah, bercanda?”
“Olok-olok anak pungut itu udah biasa. Dulu pas mbakmu masih kecil juga pernah Ibu takut-takutin kayak gitu.”
“Mbak Firsta anak pungut?”
“Bukan. Tapi supaya nggak nakal lagi, Ibu takut-takutin dia. Mbakmu nangis kejer, terus sejak saat itu dia nggak nakal lagi.”
“Jadi Om Wawan itu…”
“Ya cuma nakut-nakutin kamu. Aslinya kamu emang anak Ibu.”
Aku mengangguk. Lega mendengarnya. Namun masih ada satu yang membuatku penasaran.
“Bu, kalau anak haram itu juga sama kayak anak pungut, ya?
Ibu langsung menghentikan potong-memotong wortel. Matanya agak melotot.