Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #17

Si Pria Asing

Sudah cukup lama sejak Taku pindah sekolah. Kata Ibu, bulan depan aku akan masuk SD. Maka pagi hari itu aku diantar Ibu untuk mengikuti tes masuk SD. 

Kami datang bertiga menaiki motor; Ibu, aku, dan Om Wawan. Belakangan ini Ibu terlihat tidak sesenang saat awal-awal berdekatan dengan Om Wawan. Ibu yang sekarang jadi lebih sering bersikap biasa saja kalau bertemu Om Wawan. Dulu Ibu suka senyum-senyum dan mencolek atau mencubit lengan Om Wawan, tapi sekarang sikap Ibu ke Om Wawan sama seperti sikap Ibu ke aku dan Mbak Firsta. Kadang-kadang Ibu melirik Om Wawan lalu berdecak seperti orang kesal, kadang-kadang Ibu juga memarahi Om Wawan di depan aku dan Mbak Firsta. Menyebut Om Wawan “ngeyel”, “bego”, atau “pemalas”. Tapi kemarahan itu biasanya berlangsung sebentar. Besoknya saat ketemu lagi, Ibu sudah berbaikan dengan Om Wawan. 

Seperti pagi ini, Ibu sudah muring-muring menunggu Om Wawan yang tidak kunjung datang menjemput. Ibu menjadi marah ke semua orang, termasuk padaku dan Mbak Firsta. Ibu menyebutku “lelet” karena lama sekali memakai sepatu, dan berteriak-teriak ke kamar menyuruh Mbak Firsta segera bangun. Ketika Om Wawan akhirnya sampai di depan pintu rumah, Ibu masih saja kesal. Bertanya dengan nada marah mengapa Om Wawan tidak cepat datang. Om Wawan menyentuh lengan Ibu, tapi Ibu menepisnya. Ibu malah menggandeng tanganku agar segera naik motor. 

Motor Om Wawan baru. Dulu motornya berwarna hitam, sekarang warna oranye. Di jalan, Ibu bertanya ke mana motor yang biasanya, dan Om Wawan bilang motornya diservis lagi seperti waktu itu, sehingga kali ini dia meminjam milik teman. Aku duduk di tengah-tengah, di antara Ibu dan Om Wawan. Selama perjalanan aku mendengar perbincangan mereka berdua. Om Wawan bercerita tentang rencananya yang mau menjual rumah milik bapaknya. Ibu menanggapi entah dengan jawaban apa, tapi kurasa Ibu tidak setuju bila Om Wawan melaksanakan keinginannya. 

Kami berangkat cukup jauh dari rumah dan akhirnya berhenti di sebuah sekolah. Namanya Sekolah Dasar Negeri 07. 

Ibu membantuku turun dari motor dan mengajakku masuk melewati gerbang. Di sekitarku banyak anak-anak seumuran yang datang mengenakan seragam TK. Om Wawan tidak ikut masuk. Dia bilang dia akan menunggu di parkiran saja (dia mengatakannya sambil menyalakan rokok di bibirnya). Ibu menuntunku ke sebuah ruangan yang terletak di lantai dua. Aku duduk di kursi panjang bersama murid-murid TK lain. Selang beberapa lama, seorang Bu guru muncul dari pintu dan menyebut sebuah nomor. Ibu pun mendorong-dorong punggungku, menyuruhku masuk sendirian ke dalam ruangan. Mulanya aku sedikit takut, tapi Ibu meyakinkanku. Jadi aku memberanikan diri.

Seorang Bu guru duduk di balik sebuah meja. Dia tidak tersenyum saat melihatku, hanya menyuruhku duduk di depannya dengan nada ketus.

“Siapa namamu?” tanyanya.

“Kelana Cahyaningtyas. Panggilannya Lana.”

“Usia berapa?”

“Tujuh.”

“Tinggal di mana?” 

Aku menyebut sebuah alamat, lalu Bu guru bertanya lebih banyak. Di mana dan kapan aku lahir, siapa nama orang tua, siapa nama saudara, lalu dilanjutkan dengan menyuruhku membaca kalimat di buku dan memintaku menjelaskan sebuah gambar. Aku melakukan semua tugasnya. Di akhir, Bu guru bertanya lagi, “Kamu ke sini naik apa dan sama siapa?”

“Sama Ibu dan Om Wawan. Naik motor.”

“Om Wawan itu pamanmu?”

Aku menggeleng. “Bukan. Dia pacar Ibu.”

Lihat selengkapnya