Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #18

Hidup Baru

Selama beberapa minggu berikutnya, keadaan rumah menjadi tidak baik. Om Wawan sering datang ke rumah untuk mengantarkan Ibu bolak-balik pergi ke suatu tempat. Katanya mau mengurus kesalahpahaman yang sudah terjadi. Lama-lama, Ibu menjadi kurus karena jarang makan. Juga jadi lebih pendiam. Kalau aku mengajaknya bicara, Ibu hanya menanggapi sekenanya; kadang dengan menggumam, kadang memintaku mengobrol saja dengan Mbak Firsta. Aku tidak bisa lagi marah dan kesal pada Ibu atas sikapnya, karena aku juga semakin memahami kondisinya. Kondisi keluarga kami, maksudnya. Ibu sepertinya terpaksa harus mencari uang lebih banyak lagi, sebab kini dia tidak hanya bekerja di toko Pak Dedi, tapi juga mengumpulkan sampah plastik untuk dijual kembali. Di waktu subuh, Ibu akan keliling perkampungan untuk mencari gelas atau botol plastik yang tidak dipakai. Pagi harinya Ibu bekerja di toko sampai siang atau sore hari. Malam harinya Ibu keluar lagi untuk mencari plastik dan menukarnya dengan uang. Sekitar jam 10 atau jam 11, Ibu baru pulang. Ibu tidak lagi bertanya bagaimana sekolah kami, atau menyuruh kami mengerjakan tugas sekolah. Ibu biasanya akan langsung mandi, lalu tidur. Besok paginya Ibu mengulang lagi kegiatannya.

Kalau biasanya kami masih bisa makan sop sayur, lodeh, atau telur, sekarang kami lebih sering makan nasi dan kerupuk saja. Aku yang biasanya sering protes soal makanan, kini jadi lebih mudah menerima dan makan apa adanya. Kadang aku juga tidak sarapan kalau Ibu lupa menggoreng kerupuk (Ibu jadi sering lupa karena terlalu banyak bekerja). Dalam keadaan seperti ini, aku dan Mbak Firsta jadi terpaksa bergantung pada Om Wawan, soalnya kadang-kadang Om Wawan membawa lauk untuk dimakan bersama nasi. Tempe, tahu, atau cah buncis telur (yang satu ini kesukaanku). Kurasa, lama-lama kami menganggap Om Wawan sebagai bagian dari keluarga. Aku tidak lagi protes dengan bau rokok Om Wawan, atau aroma badannya yang suka menempel di jaket dan karpet rumah. Bahkan kalau Om Wawan mengetuk pintu, aku bersedia berlari paling kencang untuk membuka pintu untuknya. Mbak Firsta juga punya pendapat sama tentang Om Wawan. Terkadang kalau ada temannya yang datang ke rumah, Mbak Firsta tidak repot-repot lagi mengoreksi bila temannya mengira Om Wawan sebagai ayah Mbak Firsta. 

Suatu hari, Om Wawan mengatakan bahwa di hari pertama masuk SD nanti, dia akan mengantarkanku sampai depan pintu gerbang. Om Wawan hanya akan mengantarkan selama satu minggu pertama agar aku terbiasa dengan rute sekolah baru. Untuk selanjutnya aku diharapkan bisa berjalan kaki supaya aku lebih mandiri. Aku tidak masalah dengan itu. Perasaanku sudah cukup membingungkan karena membayangkan hal-hal yang akan kulihat di sekolah dasar besok. Kata Mbak Firsta, di SD tidak akan ada lagi ayunan dan perosotan seperti di TK, tidak ada lagi jam bebas untuk menggambar dan bernyanyi bersama guru. Sebagai gantinya aku akan mulai menghadapi mata pelajaran anak SD. Belajar membaca, menulis, menghitung penjumlahan, dan pengurangan. Juga olahraga dan senam bersama di pagi hari. Kalau biasanya aku pulang dari TK jam 10, mulai besok aku akan pulang jam 11. Aku terpikir akan sesibuk apa aku besok, dan apakah aku bisa mengerti penjelasan dari Bu guru? Aku agak sedih karena tidak akan lagi banyak bermain seperti di TK, tapi aku juga penasaran dan semangat untuk menyambut hari esok. 

Pada pagi harinya, begitu bangun dari tidur, aku langsung mandi, lalu mengenakan seragam dengan dibantu oleh Mbak Firsta, yang kini juga resmi naik ke kelas tiga SMP. Aku bertanya pada Mbak Firsta apakah Om Wawan sudah datang. Katanya belum. Lalu aku bertanya di mana Ibu, dan kata Mbak Firsta, Ibu sudah berangkat sejak subuh dan belum kembali lagi sampai sekarang. Pada saat Mbak Firsta membantuku mengenakan sabuk, aku melihat kaleng biskuit yang biasa digunakan Mbak Firsta untuk tempat menyimpan uangnya, bergeser lebih maju sampai ke batas kolong kasur. Mungkin Mbak Firsta baru memasukkan uang ke dalamnya.

“Tabungannya udah dapet berapa, Mbak?” tanyaku sambil menunjuk kaleng biskuit itu. Mbak Firsta menoleh ke kolong, lalu menghadapku lagi.

“Ya banyak dong. Kan aku rajin menabung.” Mbak Firsta tersenyum.

“Udah cukup buat beli hape?”

“Kan aku udah punya hape.”

“Terus mau dibuat apa?”

Mbak Firsta diam, masih sibuk mengencangkan sabuk di pinggangku. 

“Buat bantu Ibu kali, ya.”

“Buat bayar utang ya Mbak?”

“Iya, tapi kayaknya masih kurang banyak.” 

Lihat selengkapnya