Di hari pertama menjalani sekolah sebagai anak SD, aku mendapat teman sebangku baru bernama Rara. Kami duduk di bangku ketiga dari depan. Bu guru yang memilihkan bangkunya untuk kami. Rara punya rambut lurus yang indah. Kadang dikepang, kadang memakai bando mutiara, kadang memakai jepit cantik. Dia juga memakai kacamata dan sering membawa bekal ke sekolah. Sering sekali Rara membetulkan kacamatanya saat berbicara denganku atau bertanya ke Bu guru.
Suatu hari, Rara bertanya mengapa aku tidak pernah membawa bekal di sekolah. Aku menjawab dengan jujur, “Ibuku nggak ada waktu buat masak bekal.”
“Emang kamu nggak laper?” Rara membetulkan kacamatanya lagi. Benda itu sering melorot dari hidungnya.
Aku menggeleng. “Kan tadi udah sarapan. Pulang sekolah jam 11, aku masih bisa makan di rumah.”
“Nih, mau nggak?” Rara menyodorkan sepotong roti tawar berisi sesuatu seperti sayur dan saus. Sesungguhnya aku penasaran dengan bekal Rara sejak kemarin-kemarin. Dia selalu membawa menu makanan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Juga terlihat enak-enak. Kadang kala aku ingin ikut mencicipinya, tapi aku malu untuk meminta.
Karena kali ini dia menawariku, jadi aku mengambilnya.
“Enak, nggak?” tanya Rara.
“Enak. Makasih, ya. Ini isinya apa sih?” Aku menjilat saus tomat yang menempel di jempol dan telunjukku sampai tidak bersisa.
“Ayam sama sayur, terus dikasih saus.”
Aku melotot. Makanannya sudah terlanjur kutelan.
“Kenapa, Lan? Enak, kan?”
“A-aku nggak suka ayam….”
“Oh, ya? Kenapa? Aku sering dimasakin ayam sama ibuku.”
“Nggak suka aja… pahit.”
Rara mengerutkan kening. “Mana ada ayam pahit? Ayam itu enak. Kan barusan kamu coba bekalku. Ada pahitnya, nggak?”
Aku menggeleng. Rara menjelaskan lagi sambil melihat bekalnya, “Ini namanya sandwich. Aku suka sandwich. Kalau dalemnya diisi daging ham, lebih enak lagi.”
“Daging ham?”
“Iya, daging ham. Bentuknya bundar, agak tipis, dan warna merah gitu. Enaaaak banget. Kapan-kapan kalau ibuku bikin, kamu kukasih deh.”
Aku mencecap lagi sisa makanan yang masih menempel di lidahku. Roti taw—maksudnya senwit punya Rara memang enak. Tidak ada pahit-pahitnya. Apa benar rasa ayam seenak ini? Apakah ada jenis ayam yang memang pahit dan tidak?
“Kok katamu ayam itu pahit, sih? Emang kamu udah pernah nyoba sebelumnya?” Rara bertanya lagi.
Aku menggeleng, sedikit merasa malu bahwa ternyata selama ini aku salah. “Ibuku yang bilang, sih,” ujarku. “Kata ibuku aku nggak usah makan ayam soalnya rasanya pahit.”