Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #20

Rumah Rara

Setelah mengatakan kepada Rara bahwa Ibu mengizinkanku untuk bermain ke rumahnya, Rara langsung mengajakku hari itu juga. Dia bilang, pulang sekolah nanti, kami akan dijemput oleh sopirnya. Aku sangat tidak sabar, hingga rasanya seharian itu aku tidak fokus untuk belajar. Bu guru sampai menegur karena aku tidak menjawab saat namaku dipanggil. Teman-teman sekelas menertawaiku. Aku hanya menggaruk-garuk leher dengan malu. 

Sepulang sekolah, kami menunggu di depan gerbang yang penuh murid-murid. Para orang dewasa yang datang menjemput anaknya berlalu lalang di jalan masuk. Di antara mereka, aku melihat sosok tinggi Om Wawan sedang celingukan ke sekitar. Dia menatap ke arahku dan langsung membawa sepeda motornya mendekat. 

“Lan, ayo pulang,” Om Wawan mengajak. Aku menatap Rara sebentar.

“Om, hari ini aku mau main ke rumah Rara. Aku kemarin sudah bilang Ibu.”

“Hah?” Om Wawan menatap Rara di sebelahku. “Di mana rumahnya?”

“Di jalan Mangli blok 4T, Om,” kata Rara. 

“Kamu bener sudah bilang Ibu? Terus nanti pulangnya gimana?” 

“Tenang, Om. Nanti diantar sama sopirku,” Rara menjawab.

Om Wawan akhirnya mengizinkanku untuk pergi. Ketika Om Wawan baru saja berbalik, mobil jemputan Rara sudah tiba. Jendela turun, menampakkan ibunya Rara yang duduk di bangku kemudi, tersenyum pada kami berdua. Lalu pintu di samping menggeser otomatis. Rara masuk duluan, kemudian membantuku naik. Ibunya menoleh ke belakang, tersenyum padaku, kemudian tersenyum juga pada Om Wawan yang masih ada di luar. Setelah jendela tertutup, mobil kami berjalan pergi.

Ini adalah pertama kalinya aku menaiki mobil. Rasanya sejuk, dan sangat nyaman. Bangkunya luas, sehingga Rara bisa menyilangkan kaki di atasnya. Aku menirunya. Ibunya Rara melihat kami berdua, kemudian menegur, “Kalau kakinya naik, sepatunya dilepas, ya.”

“Oh iya, lupa.” Rara tertawa kecil, lalu langsung mencopot sepatunya. Aku juga mengikuti Rara. Kami berdua saling bertatapan dan tertawa. 

“Kok nggak sama Pak Farhan, Ma?” Rara bertanya. Belakangan aku baru tahu Pak Farhan adalah nama sopir mereka. 

“Iya, Mama emang dari pagi bawa mobil sendiri, habis ngecek ke restoran. Omong-omong,” dari kaca spion, ibunya Rara menatapku. Aku agak terkejut karena tiba-tiba ditatap seperti itu, sehingga langsung menunduk. “Ini temanmu yang namanya Kelana itu?”

“Iya, Ma. Katanya mau nyicip makanan buatannya Mama.” 

“Wah, gitu. Mau makan apa?”

Rara langsung senyum lebar sambil menggenggam tanganku. “Lan, ditanyain mamaku mau makan apa. Kamu mau apa?”

“Apa, ya? Senwit, deh.”

Sandwich? Yah, masa sandwich lagi? Emang kamu nggak bosen?”

Aku menggeleng. “Enak soalnya.”

“Yang lain, dong. Spaghetti, misalnya? Atau beef steak? Eh, eh, ramen bikinan mamaku juga enak, loh. Kamu pernah makan, nggak?”

“Apa itu? Aku nggak pernah tahu.” Aku mengerutkan alis. Rara kelihatannya agak kesal karena aku tidak tahu semua nama makanan yang dia sebutkan. Ibunya kemudian bilang bahwa dia akan memasakkan apa pun yang bahannya ada di dapur. Mendengar hal itu, Rara senang lagi. Dia pun bercerita pada ibunya apa yang terjadi di sekolah hari ini.

Suatu ketika, Ibunya bertanya padaku, “Lana tinggal di mana?”

Aku menyebutkan sebuah alamat. Ibunya Rara bertanya lagi, “Di rumah tinggal sama siapa?”

“Sama Ibu dan Mbak Firsta, Tante.”

“Oh, cuma tinggal berdua… loh, terus tadi siapa? Bukan ayahmu?”

“Bukan, Tante. Itu pacarnya Ibu saya.”

Ibunya Lana terdiam sebentar. “…Pacar?”

“Iya, pacar.”

“Ayahmu ke mana?”

“Nggak tahu. Nggak pernah ketemu.”

“Oh….”

Setelah itu, ibunya berhenti menanyaiku. Aku menatap Rara dan kepikiran untuk bertanya apakah ada yang salah dari jawabanku, tapi Rara kelihatannya tidak menangkap masalah apa-apa. Dia malah membuka jendela dan memintaku mendekat, lalu kami berdua melihat jalanan yang berlalu cepat di luar sana. 

Mobil akhirnya berhenti di sebuah rumah bertingkat yang sangat besar. Aku sampai harus mendongakkan kepala tinggi-tinggi untuk melihat puncak bangunannya. Apa benar ini sebuah rumah dan bukan istana? Aku belum sempat menanyakan itu kepada Rara karena mobil tiba-tiba berjalan lagi. Pagar di depan kami membuka sendiri. Setelah mobil terparkir, Rara memencet pintu mobil dan pintunya bergeser lagi seperti tadi. Aku begitu kagum dengan apa pun yang kulihat hari ini. Semuanya berjalan sendiri. Rasanya seperti hidup dengan robot. 

Rara menggandeng tanganku saat kami melewati ruangan terbuka yang sebelah kanannya terdapat kolam ikan koi. Rara bercerita bahwa koi-koi itu adalah milik ayahnya, dan usianya sudah sangat tua, bahkan beberapa ada yang sudah hidup dari sebelum ayahnya menikah dengan ibunya. Kemudian aku dibawa ke ruang keluarga yang sangat luas. Ada meja dan sofa, juga rak kaca penuh buku dan pajangan-pajangan. Televisinya juga sangat besar, bahkan lebih besar daripada yang ada di rumah Taku. 

Rara mengajakku masuk ke kamarnya, yang ada di pintu pertama setelah menaiki tangga. Ketika masuk ke dalam kamarnya, aku terkejut melihat betapa banyak boneka dan figur-figur mainan yang dipajang di rak terbuka di atas kasur. Kamar Rara lebih luas dan lebih bagus daripada kamar Taku. Dia punya lebih banyak mainan dan dekorasi yang serba kuning. Katanya kuning adalah pilihan warnanya sendiri. Rara suka warna kuning. Mungkin itulah sebab gagang kacamata dan pita rambutnya juga selalu warna kuning.

Pintu kamar Rara tidak ditutup. Kadang-kadang ada seorang perempuan yang datang untuk menegur Rara agar merapikan pakaian, atau sekadar menanyakan ingin camilan apa. Aku bertanya pada Rara siapa perempuan itu. Rara bilang itu “mbaknya”. 

“Mbak?” Aku mengerutkan alis, agak tidak percaya. Orang perempuan tadi terlihat berbeda dengan Rara dan ibunya. Tidak ada mirip-miripnya sama sekali.

Lihat selengkapnya