Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #21

Putus Pertemanan

Keesokannya, Rara berubah.

Aku tidak tahu mengapa Rara menjadi lebih pendiam. Biasanya dia selalu menyapaku ketika masuk kelas. Tapi pagi ini, Rara memalingkan muka saat memandangku. 

Oh, mungkin Rara sedang tidak mood (kata Mbak Firsta, tidak mood artinya tidak sedang ingin melakukan sesuatu. Jadi mungkin Rara seperti itu juga—walaupun aku tidak tahu apa yang menyebabkan dia tidak ingin menyapaku. Kata Mbak Firsta, tidak mood itu wajar, dan semua orang pasti merasakannya, termasuk aku. Jadi kalau ada orang yang tidak mood lebih baik dibiarkan saja. Nanti juga reda sendiri). Dan, begitulah yang terjadi; aku membiarkan Rara; sejak jam pertama pelajaran, lalu berganti ke jam kedua, sampai bel istirahat berbunyi. Sepanjang waktu itu, Rara tetap tidak mau bicara padaku. 

Suatu ketika, di jam pelajaran Bahasa Indonesia, aku mengambil karet penghapus Rara yang tergeletak di meja sambil berkata, “Eh, pinjem bentar ya.” 

Biasanya Rara akan meminjamkannya, bahkan tanpa aku minta izin. Namun hari itu, Rara langsung merebut penghapus dari tanganku dan membentak, “Jangan pinjam!”

Aku terkejut, tidak bisa berkata apa-apa. 

Suara Rara cukup keras hingga Bu guru yang sedang menulis di papan menoleh ke belakang. “Ada apa? Siapa yang barusan teriak?”

Semua anak menoleh ke bangku kami. Aku menatap Rara, tapi dia hanya menunduk sambil mendekap karet penghapus di dada, seakan aku bersiap mau merebutnya lagi. Bu guru masih menunggu jawaban kami, dan aku tidak bisa menjawab karena aku pun tidak tahu mengapa Rara membentakku.

“Jangan ribut. Kalau ada yang berteriak lagi, Bu guru hukum berdiri di luar.” 

Lalu Bu guru kembali menulis di papan. Semua murid sibuk mencatat. Rara meletakkan karet penghapusnya. Sepertinya dia sedang menghindari tatapanku.

“Aku cuma mau minjam penghapus bentar, loh,” ujarku pelan.

“Nggak boleh. Beli penghapus sendiri, dong,” jawab Rara. 

Sebetulnya aku punya penghapus, tapi belum lama ini penghapusku hilang. Rara tidak peduli dengan alasanku.

Pada saat itu, aku mulai kesal pada Rara. Mengapa dia kasar padaku? Sejak awal bertemu, aku mengira Rara adalah anak baik. Dia tidak pernah membentak orang. Kami juga sering berbagi barang. 

Namun aku memilih tidak memprotes apa-apa. Aku masih tidak tahu apa yang terjadi pada anak itu. 

Sayangnya, perubahan sikap Rara semakin menjadi-jadi. Pada keesokan harinya, juga lusanya, Rara masih saja tidak mau bercakap-cakap panjang denganku, kecuali menyuruh-nyuruh atau memberitahu sesuatu saja. Dia tidak membolehkanku meminjam semua barangnya, bahkan sampai menggambar garis di atas meja dengan maksud agar aku tidak melewati batas itu. Setiap kali tanganku tidak sengaja keluar garis, dia akan mendorong-dorongku sambil marah. Aku tidak bereaksi apa-apa. Tidak juga melawan. Saat itu aku hanya memendam kekesalanku dalam-dalam.

Sampai suatu ketika, sesuatu mengubah semuanya.

Lihat selengkapnya