Kelana dalam Sangkar

Honeymenu
Chapter #22

Beling di Kaki Ibu

Aku pulang sekolah hari itu dengan berjalan kaki. Rumah kosong karena Ibu bekerja dan Mbak Firsta masih di sekolah. 

Kuambil kunci rumah yang diselipkan di balik keset kaki, lalu kubuka pintu, dan langsung menuju dapur. Belum ada makanan apa pun. Bahkan nasi saja tidak ada. Hal seperti ini kadang-kadang terjadi kalau Ibu sedang sibuk sekali di luar. Jadi, yang bisa kulakukan saat itu hanya menunggu Ibu sampai dia pulang.

Nyatanya, Ibu tidak pulang sampai sore hari. Aku meremas-remas perut sambil mengecek dapur, berharap menemukan sesuatu untuk dimakan. Hanya ada sebungkus kecil kecap dan garam. Tidak ada nasi. Namun karena sudah kelaparan, aku mengambil sendok dan menuang kecap ke atasnya, menjilati kecap sedikit-sedikit supaya perutku ini terisi. 

Omong-omong, ada sedikit cerita tentang kecap. Saat masih sekolah di TK, aku pernah melihat Taku membuat susu cokelat diam-diam di kelas. Dia membawa susu cokelat kemasan dari rumah, menuangkan ke dalam botol minuman, mengocoknya sampai berubah warna, lalu meminumnya di hadapanku. Kelihatan enak sekali. Jadi, sepulang dari TK, aku meminta kepada Ibu untuk membuatkanku susu cokelat juga. Ibu bilang “Nanti, nanti”, tapi tidak juga melakukannya. Keesokannya, setelah menunggu Ibu pergi ke toko, aku pun mengendap-endap ke dapur dan menemukan sebotol kecap. Dari luar, warna kecap itu mengingatkanku dengan warna susu cokelat. Jadi tanpa pikir panjang, aku menuangkan kecap itu ke dalam gelas, mencampurnya dengan air, lalu meminumnya.

Rasanya yang aneh membuatku sedikit terkejut, tapi aku tetap meminumnya sampai habis. Aku tahu yang kuminum bukanlah susu cokelat. Hanya saja aku sudah sangat kepengin sampai tidak peduli tentang rasanya. Di sore hari, Ibu datang dan bertanya mengapa kecap di dapur habis. Aku tidak bercerita apa pun karena takut dimarahi. Mbak Firsta berpendapat mungkin kecapnya bocor, dan Ibu percaya itu.

Kurasa sejak saat itu, aku mulai terbiasa dengan rasa kecap. Ibu mengajariku untuk menuang kecap di atas nasi. Katanya, kecap enak kalau dibuat lauk. Aku setuju dengan itu. Aku juga sering menambahkan kecap ke lauk apa pun, dan menurutku rasanya menjadi lebih enak. Apalagi kalau dimakan bersama telur. Menurutku telur dan kecap adalah kombinasi makanan paling enak sedunia. 

Oh, andaikan saja sekarang ada sebutir telur, aku akan mendadarnya di atas wajan dan memakannya bersama kecap. Ibu belum pernah mengajariku memasak, tapi berkat melihat Ibu berkutat di dapur setiap hari, aku jadi tahu cara menyalakan kompor dan memakai penggorengan. Sayangnya, sore itu aku hanya bisa bersabar karena tidak ada yang bisa kumasak. 

Mbak Firsta baru pulang tidak lama setelah aku menghabiskan sesendok kecil kecap. Dia langsung menuju dapur untuk mengecek makanan. Bahunya melorot begitu tahu tidak ada apa-apa di atas meja.

“Kamu juga dari tadi belum makan, Lan?” tanya Mbak Firsta.

Aku menggeleng.

Mbak Firsta berdecak. “Ibu ini gimana, sih. Masa kita berdua dibiarin kelaperan?”

“Aku barusan gadoin kecap, Mbak.”

Mbak Firsta menatapku dengan alis mencureng. “Terus?”

“Enak, loh. Cobain deh.”

“Nggak mau, ah. Kamu aneh juga, masa gadoin kecap?”

Kemudian Mbak Firsta meletakkan tasnya di atas meja saji. Wajahnya mengerut seperti orang sedang berpikir. 

Aku menyahut, “Ya udah, kita ke Om Wawan, yuk, minta nasi.”

“Jangan, ah. Nggak enak tahu, minta-minta mulu ke orang.”

“Tapi aku masih laper, Mbak.” Lalu aku merogoh saku dan mengeluarkan sekeping uang seribu. “Ibu tadi cuma ngasih uang segini. Belum kujajanin. Beli-beli yuk di warung.”

“Kamu diem dulu di sini. Aku belikan nasi pake duit celengan aja.”

Oh, iya, Mbak Firsta kan masih punya tabungan. “Nggak papa, Mbak, kalau uangnya diambil?”

“Nggak papa kalau lagi darurat gini. Tapi kita beli sebungkus bagi dua aja, ya. Nanti pas Ibu pulang, kita makan lagi.”

Kemudian aku bangkit dari kursi dan melompat-lompat senang. 

Lihat selengkapnya