Keesokan harinya, aku sekolah seperti biasa. Rara juga mulai masuk lagi setelah kemarin ibunya datang untuk menegurku. Hanya saja, kali ini Rara tidak duduk denganku. Bu guru memindah tempat duduk Rara di barisan depan, dan itu membuat Rara senang. Kulihat Rara mengobrol dengan teman sebangkunya. Mereka bahkan pergi bersama ke kantin.
Bu guru juga sempat menyuruhku bersalaman dengan Rara sebagai bentuk perdamaian. Aku menyanggupinya. Kuulurkan tanganku tanpa pikir panjang. Rara ragu selama beberapa detik. Bu guru mengusap-usap punggung Rara, membujuknya. Akhirnya, Rara mau bersalaman denganku, meski sambil manyun.
Namun, ada sesuatu yang berbeda sejak Rara masuk sekolah. Mulanya aku tidak menyadari apa-apa. Kupikir Bu guru hanya menasehatiku seperti halnya Bu guru menasehati teman-teman yang lain, hanya saja belakangan aku merasa kata-kata nasihat yang dilontarkan Bu guru berbeda hanya kepadaku.
Contohnya, ketika Bu buru menyuruhku maju di depan kelas untuk mengerjakan soal peribahasa Indonesia, aku mengalami kesulitan untuk menemukan jawaban di satu nomor. Biasanya, Bu guru hanya akan menyuruh anak-anak yang lupa sepertiku agar kembali duduk di bangku sambil berkata, “Belajar lagi yang lebih giat, ya.”
Tapi kali ini, Bu guru malah mengomel di depan kelas.
“Ibumu nggak pernah ngajarin kamu, ya? Pasti hapean terus kan, sampai ngerjain soal begini aja nggak bisa?”
Belum sempat aku menjawab, Bu guru langsung berdiri sambil menghadap murid-murid di kelas. “Anak-anakku, kalian harus belajar rajin setiap hari. Jangan kebanyakan nonton TV atau scroll hape. Di dalam hape itu banyak hal-hal buruk yang nggak boleh ditiru. Bapak dan Ibu di rumah juga harus paham soal ini, oke?”
“Iyaaaa Buuuu.” Serentak murid-murid menjawab.
Kemudian Bu guru menoleh lagi padaku.
“Dengarkan Bu guru ya, Lan. Jangan keseringan mainan hape. Bilangin juga ke ibumu supaya lebih perhatian sama kamu. Paham?”
Saat itu aku tidak tahu bahwa harusnya aku membela diri. Bu guru seperti memaksaku untuk berkata “ya”. Mata Bu guru sedikit melotot dan dagunya maju, seakan menungguku untuk menjawab.
Jadi aku menjawab “Iya, Bu,” dengan pelan.
Bu guru membuang napas, terlihat puas. Kemudian Bu guru kembali ke mejanya. Saat Bu guru berputar, aku sempat menangkap kata-katanya yang diucapkan sangat pelan;
“Pacaraaaan terus ibunya, anaknya nggak pernah diurus, sampai jadi bodoh.”
Entah apa yang mendorongku untuk berbicara. Kalimat Bu guru membuatku tanpa sadar berceletuk, “Ibu saya tiap hari ngurus saya, kok.”
Bu guru menoleh lagi padaku.
Pada saat itu, raut muka Bu guru berubah. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya untuk menggambarkan raut wajah Bu guru saat itu. Yang pasti aku merasa aku sudah salah bicara. Hanya saja, alih-alih diam atau meminta maaf, aku malah melanjutkan kalimatku.